Tren Kewirausahaan di Indonesia Meningkat

Tren Kewirausahaan di Indonesia Meningkat
Senior Director & General Manager Herbalife Nutrition Indonesia, Andam Dewi, bersama Ahli Kesehatan Otak dan Penuaan dari University of California, Los Angeles (UCLA), Gary Small, di sela acara Wellness Tour Herbalife Nutrition 2018, di Jakarta, Selasa (30/10). ( Foto: Beritasatu Photo )
Indah Handayani / FER Rabu, 14 Agustus 2019 | 17:12 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Survei Kewirausahaan 2019 (The Asia Pacific Entrepreneurship Insights Survey 2019) yang dilakukan Herbalife Nutrition mengungkapkan, orang Indonesia berkeinginan kuat untuk berwirausaha.

Survei ini mengungkap, tujuh dari 10 orang atau 71 persen respondenbercita-cita untuk memiliki bisnis sendiri. Keinginan untuk menjadi wirausaha di Indonesia menjadi terkuat dibanding negara lain di Asia Pasifik. Mayoritas responden Indonesia (96 persen) mengaku memiliki mimpi untuk mulai membuka usaha sendiri, disusul Filipina (92 persen), Thailand (89 persen) dan Malaysia (86 persen).

Senior Director & General Manager Herbalife Nutrition, Andam Dewi mengatakan, tingginya semangat untuk berwirausaha di kalangan masyarakat Indonesia cukup menggembirakan. Namun, masih banyak anggapan bahwa memulai bisnis sendiri adalah hal yang sangat menakutkan bagi sebagian orang.

"Survei ini menghadirkan temuan-temuan yang dapat menjadi wawasan baru tentang persepsi dan sikap dalam memulai berwirausaha. Survei ini menjadi masukan bagi kami untuk memahami bagaimana perusahaan dapat mendukung seseorang untuk melakukan lompatan dan menjadi seorang pengusaha dan menggapai mimpinya di suatu hari," ungkap Andam Dewi dalam keterangan persnya, Rabu (14/8/2019).

Masih berdasarkan survei tersebut, Andam menyebutkan, mayoritas responden di Indonesia (64 persen) menyebutkan mengikuti instuisi mereka untuk menentukan kapan memulai berwirausaha. Apabila mereka membuka usaha, sebanyak 52 persen responden Indonesia lebih dimotivasi oleh keinginan untuk menyalurkan passion sekaligus menambah pendapatan. Mayoritas (94 persen) responden di Indonesia juga merasa atau beranggapan bahwa berwirausaha akan mendatangkan kebahagiaan lebih besar bagi mereka dibanding bekerja kepada orang lain.

Masalah Permodalan

Lebih lanjut, Andam mengatakan, saat ditanya apa yang menjadi alasan utama untuk tidak memulai berwirausaha atau menjalankan bisnis sendiri, mayoritas responden (76 persen) menyatakan bahwa permodalan menjadi faktor pertimbangan utama, sedangkan 44 persen responden juga menganggap minimnya pengetahuan pengelolaan keuangan dan pasar menjadi hambatan dalam memulai bisnisnya sendiri.

Meski mengetahui hambatan yang umum dirasakan serta berbagai risiko yang mungkin akan dihadapi saat memulai atau menjalankan usaha sendiri, 8 dari 10 (88 persen) responden Indonesia memilih untuk menggunakan uang mereka sendiri sebagai sarana pembiayaan awal untuk bisnis mereka.

Sebagian kecil (33 persen) memilih untuk menggunakan pinjaman atau sumber pendanaan dari keluarga, sedangkan 25 persen lainnya akan menjadikan fasilitas pinjaman untuk usaha kecil untuk membiayai bisnis baru mereka.

Andam menjelaskan, dari hasil survei tersebut dapat mengetahui dan mengamati bahwa responden di Indonesia akan berpikir matang untuk memulai bisnis baru. Tak hanya potensi penghasilan yang jelas, tapi juga perlu memikirkan biaya awal termasuk sumber dan besarannya. Meskipun demikian, memulai bisnis akan selalu datang dengan manfaat dan risikonya sendiri.

"Oleh karena itu penting untuk menyalurkan keahlian dan pengetahuan yang tepat guna membantu kita untuk memulai perjalanan kewirausahaan, sambil belajar untuk mengurangi risiko-risiko yang muncul," tutup Andam Dewi.



Sumber: Investor Daily