Kerajaan Burung dari Keajaiban Rambut Bidadari
Logo BeritaSatu

Kerajaan Burung dari Keajaiban Rambut Bidadari

Jumat, 16 Agustus 2019 | 07:29 WIB
Oleh : Nurlis E Meuko / NEF

DI sini matahari senja keemasan tidak pernah polos, tetapi gangguan awan yang melayang dan burung-burung terbang pulang ke sangkar di Pulau Rambut, Kepulauan Seribu, justru menambah keindahan lukisan alam itu.

Tak hanya memanjakan mata, bahkan juga terdengar riuh kicauan ribuan burung menenggalamkan suara angin yang mengusik rimbunnya daun dalam hutan. Bergerombol-gerombol melayang di udara mencari celah menyusup ke dalamnya.

Dari ratusan pulau yang menghiasi punggung laut Kepulauan Seribu, pesona seperti itu hanya ada di Pulau Rambut yang dikenal sebagai kerajaan burung yang lokasinya di arah barat laut Pelabuhan Tanjung Priok.

Berada di bawah pengawasan Balai Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu, pulau seluas 90 hektare itu hingga kini masih asri dan terjaga. Kondisinya sangat alami.

“Kawasan suaka margasatwa ini memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa, baik flora maupun fauna,” kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta, Ahmad Munawir, kepada Beritasatu.com, yang menghubunginya dan sekaligus meminta izin masuk Pulau Rambut.

Memang tak boleh sembarang masuk pulau. Harus ada izin khusus dengan alasan yang jelas. Setelah mengantongi izin, wartawan Beritasatu.com berkunjung pada awal Agustus 2019.

Berkunjung ke Pulau Rambut sangat mudah. Banyak angkutan laut atau kapal nelayan yang bersedia mengantar pengunjung. Misalnya dari Marina, Ancol, Muara Angke, Pelabuhan Kamal, pilihan lain adalah dari Tanjung Pasir, Tangerang, Banten.

Pulau lain yang dekat dengan Pulau Rambut adalah Pulau Untung Jawa. Penduduk pulau ini menyediakan penginapan bagi pengunjung. Berjarak kurang dari 3 kilometer dari Pulau Rambut, Pulau Untung Jawa sudah dicanangkan menjadi desa wisata yang juga zona penyangga konservasi.

Berlabuh di Pulau Rambut terdapat satu dermaga sederhana dari kayu. Di sana sudah ada penjaga yang menyambut dan menanyakan izin berkunjung. Munawir mewajibkan pengunjung menjaga kelestarian alam dan memelihara ritme kehidupan yang masih alami di sini.

Bahkan, empat ekor ular piton yang kini menempati rumah petugas jaga di sana dilarang diusik. “Kami tak pernah mengganggu, dan tak pernah mencoba mengusirnya. Kami juga nyaman-nyaman saja di dalam beristirahat,” kata Jaya salah seorang petugas. Manusia yang ada di pulau ini hanyalah petugas jaga saja.

Pengunjung juga dilarang berbuat bising, apalagi membawa pemutar musik, sebab semua itu menjadi masalah bagi burung. Berkunjung beramai-ramai juga tidak dibenarkan, apalagi sampai menginap, jelas tidak boleh. Disebutkan, burung bisa stres bila terusik kenyamanannya.

Aroma Bangkai dan Bulu Burung
Memasuki jantung Pulau Rambut, setelah melewati gerbang, bau bangkai binatang langsung menyengat hidung, diselingi bau bulu burung, kayu kering, kotoran kelelawar, dan buah-buahan. Ini memang aroma khas hutan perawan yang bertolak belakang dengan harumnya lautan dan polusi kota Jakarta yang menggerogoti paru-paru.

Daun-daun kering dibiarkan berserak menutupi jalan setapak. Suara keresek akibat telapak kaki menginjak daun kering rupanya mengganggu biawak yang terlelap dan berlari meninggalkan suara berisik dalam hutan.

Hanya beberapa ekor biawak tergolek seperti mati. Si pemandu melarang mengganggunya. “Biarkan saja siklus alam di sini berjalan dengan alami. Biawak yang mati nanti akan menjadi makanan temannya yang pemakan bangkai,” kata Budi Kusuma Wardana, salah seorang petugas BKSDA DKI Jakarta, sambil menunjuk beberapa biawak yang sedang bersembunyi di balik pohon kering.

Saat berjalan, tampak ular piton terlelap di pohon dan dalam lubang kayu yang telah tumbang tergeletak dalam hutan.

Hewan seperti biawak dari jenis kadal, ular, kelelawar buah (Pteropus vampyrus), serta tikus, menjadi tetangga ribuan burung di sini.

Pemandu memberi isyarat untuk jalan terus melintasi pohon-pohon besar menuju ke arah menara yang berada di ujung jalan tepat di tengah belantara.

Terbuat dari besi yang dirakit, tinggi menara mencapai 50 meter di atas permukaan laut. Di puncaknya ada tempat untuk memandang ke seluruh pulau. Dari sini, bisa melihat aneka burung beterbangan dan menyusup ke balik dedaunan pucuk-pucuk pohon.

Pulau Rambut dihuni berbagai jenis burung, di antaranya ada cagak merah (Ardea purpurea), cagak abu (Ardea cinerea), kuntul besar (Egretta alba), kuntul kecil (Egretta garzetta), kuntul karang (Egretta sacra), kuntul sedang (Egretta intermedia), kuntul kerbau (Bubulcus ibis), bluwok (Mycteria cinerea), roko-roko (Plegadis falcinellus), pecuk ular (Anhinga melanogaster).

Selain itu ada juga elang laut (Haliaeetus leucogaster). Bahkan di sinilah berada habitat terakhir burung yang menjadi maskot DKI Jakarta, yaitu elang bondol (Baliaetus indus).

Diperkirakan terdapat 20.000 ekor burung di sini, bahkan selama Maret-September bisa mencapai 50.000 ekor. Dari puluhan ribu burung di sini ada yang berasal dari Asia dan Australia. Walau belum jelas bagaimana cara menghitungnya, pastinya pulau ini telah bergelar The Heaven of Bird.

Kondisi alam Pulau Rambut memang sangat memanjakan burung. Didukung hutannya yang lebat, di antaranya terdapat pohon-pohon cemara laut, kedoya, lamtoro, akasia, dan aneka pohon berbuah yang menjadi makanan burung.

Bakau dan hutan air payau menutupi dua per tiga pulau. Terdapat hutan reboisasi di bukit, dan tiga hutan di pulau ini menjadi habitat burung pemakan ikan. Batu karang yang membentuk laguna alami menghiasai pantai barat dan utara, serta cemara laut di daerah pasang, juga ada akasia dan lamtoro yang bukan pohon Pulau Rambut.

Keindahan alami pulau ini tentu saja menjadi kebanggan Bupati Kepulauan Seribu, Husein Murad. “Di Indonesia, hanya ada di sini kerajaan burung yang begitu hebatnya,” kata Husein kepada Beritasatu.com. “Datang, pelajari, dan lindungi.”

Kerajaan Kera dan Bidadari
Kesadaran menjaga habitat burung di Pulau Rambut bukan baru terjadi sekarang ini saja, tetapi sudah sejak zaman penjajahan Belanda. Bahkan kompeni sudah menjadikan pulau ini sebagai cagar alam, sekaligus tembok pertahanan. Belanda menyebut pulau ini sebagai Nidelberg atau Kerajaan Burung.

Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jakarta menerbitkan surat keputusan Nomor 7 tanggal 3 Mei 1937 yang dimuat dalam Staatblat Nomor 245 Tahun 1939. Isinya, Pulau Rambut berstatus cagar alam, sedangkan pelaksanaannya diatur dalam Peraturan (Ordonansi) Perlindungan Alam tahun 1941 yang dimuat dalam Lembar Negara Nomor 167 Tahun 1941.

Setelah Indonesia merdeka, terjadi perubahan status Pulau Rambut, dari cagar alam menjadi suaka margasatwa yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 275/KPTS-II/1999 tertanggal 7 Mei 1999.

Sebetulnya, cagar alam di Kepulauan Seribu bukan hanya Pulau Rambut. Tak jauh dari sini, ada Pulau Bokor yang lebih awal ditetapkan sebagai daerah konservasi, yaitu sejak 1931 berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor: 6 tanggal 15 November 1931 (staadblad 683). Dikuatkan lagi dengan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor: 7 tanggal 3 Mei 1939 (staadblad 245).

Karakter pulau seluas 18 hektare ini mirip dengan Pulau Rambut. Tak dihuni manusia melainkan hewan-hewan liar. Tentu saja banyak burung, biawak, ular dan kadal di sini. Pembedanya adalah kera ekor panjang. Jika masuk ke sini, akan ramai kera menyambut pengunjung. Pulau ini seperti kerajaan kera. Untuk masuk ke sini juga membutuhkan izin khusus dari BKSDA.

Kembali ke cerita Pulau Rambut. Pertanyaannya sekarang, mengapa kerajaan burung ini dinamakan Pulau Rambut? Ternyata sangat berkaitan dengan cerita rakyat. Menurut mitos yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat Pulau Untung Jawa, di zaman dulu pulau itu adalah tempat yang kering dan gersang yang dihuni burung bangau di sebuah danau.

Dalam buku The Hidden Treasury of the Thousand Islands disebutkan suatu hari turunlah bidadari dari kahyangan untuk mandi di danau itu. Setelah mandi, sang bidadari mencukur rambut kemaluannya dan menaburkannya di pulau itu. Ajaib, jadilah hutan rimbun ini menjadi kerajaan burung.

Nah, dari situlah muncul nama Pulau Rambut yang bertahan hingga sekarang ini. Tentu pengunjung wisata tak akan pernah berjumpa sang bidadari di dalam tengah hutan Pulau Rambut, sebab cerita itu hanya ada dalam dongeng yang menghibur dan sedikit cabul.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

5 Hal yang Bisa Anda Lakukan di Ubud

Lima hal yang bisa Anda lakukan ketika sedang berada di Ubud, Gianyar, Bali

GAYA HIDUP | 14 Agustus 2019

Mal Ciputra Kembali Gelar Festival Kuliner Kampoeng Legenda

Mal Ciputra Jakarta kembali menggelar festival kuliner Kampoeng Legenda pada 8-19 Agustus 2019.

GAYA HIDUP | 14 Agustus 2019

Benteng Van Den Bosch Bagaimana Nasibmu Kini?

Benteng Van Den Bosch, bangunan bersejarah yang saat ini masih menunggu rencana restorasi.

GAYA HIDUP | 14 Agustus 2019

Tren Kewirausahaan di Indonesia Meningkat

Masyarakat Indonesia kian memiliki keinginan kuat untuk menjadi wirausahawan atau entrepreneur.

GAYA HIDUP | 14 Agustus 2019

Tip Memulai Bisnis Fashion di Industri Online

Pemilik label Jims Honey, Hanny Zeng, berbagi tip cara berbisnis fashion di industri online.

GAYA HIDUP | 14 Agustus 2019

Pertama Kali, Fashion Show Digelar di LTR Jakarta

Pertama kalinya, Jakarta Fashion & Food Festival (JFFF) 2019 menggelar fashion show di dalam kereta LRT Jakarta.

GAYA HIDUP | 14 Agustus 2019

Cinta Maria Terkubur dalam Kepingan Perang dan Pemberontakan

Banyak cerita di Pulau Onrust. Kisah Maria menunggu cinta, pemberontakan kapal Belanda, hingga pusara pemberontak DI/TII.

GAYA HIDUP | 15 Agustus 2019

Ayo Pakai Wastra Nusantara! Buktikan Indonesia Sudah Merdeka!

Kini saatnya, membuktikan Indonesia sudah merdeka dengan memakai wastra nusantara.

GAYA HIDUP | 13 Agustus 2019

3 Tempat Wisata di Karangasem yang Wajib Dikunjungi

Karangasem memiliki sejumlah tempat wisata yang wajib untuk dikunjungi

GAYA HIDUP | 13 Agustus 2019

APJI Dorong Industri Jasa Boga Hadapi Era 4.0

APJI mengingatkan pengusaha jasaboga lokal agar tetap konsisten mengedepankan potensi kuliner Indonesia.

GAYA HIDUP | 13 Agustus 2019


BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS