Masyarakat hingga Artis Ikuti Aksi Menanam Mangrove

Masyarakat hingga Artis Ikuti Aksi Menanam Mangrove
Aksi relawan menanam bibit mangrove di Taman Wisata Alam Mangrove, Muara Angke, Jakarta Barat, Kamis (15/8/2019). ( Foto: Investor Daily / Mardiana Makmun )
Mardiana Makmun / MAR Kamis, 15 Agustus 2019 | 15:59 WIB

JAKARTA, Beritasatu.com - Drummer Band Wolftank, Tyos Nugros, terlihat ikut aksi menanam pohon mangrove (pohon bakau) di acara Mangrove Volunteers Day 2019 yang digelar Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), afiliasi dari The Nature Conservancy (TNC) di Taman Wisata Alam Mangrove, Muara Angke, Jakarta Barat, Kamis (15/8/2019). Aksi Tyo ini juga diikuti oleh para personel Wolftank lainnya, yaitu Aro Wahab, Kin Aulia, dan Noey Jeje.

“Sudah waktunya kita bergerak membantu melestarikan alam. Ini gak hanya jadi tanggung jawab pemerintah, tapi juga masyarakat termasuk para musisi untuk ikut melestarikan alam, seperti menanam dan menjaga hutan mangrove,” kata Tyo Nugros, gitaris Wolftank kepada Investor Daily.

Diakui Aryo Wahab, hutan mangrove sangat penting bagi kehidupan mansuia. “Beberapa satwa hidup di situ. Apa yang kita lakukan adalah membalas budi pada alam. Karya kita terinspirasi alam, ya kita kembalikan lagi dengan menjaga kelestarian alam,” ujar Aryo.

Sebelumnya, mereka mengaku tak mengetahui betapa pentingnya manfaat hutan mangrove. Kin Aulia mengaku sangat menyesal dulu pernah merusak mangrove. “Saya dulu suka mancing, nah beberapa pohon mangrove saya patahin karena mengganggu kegiatan mancing saya. Pancing suka nyangkut di mangrove,” cerita Kin.

“Padahal mangrove berfungsi menahan ombak laut, terutama bila ada tsunami dan penghasil oksigen yang sangat besar, ” jelas Kin.

Selain Band Wolftank,aksi menanam mangrove diikuti oleh sekitar 500 orang, dari perwakilan para mitra MERA (PT Chevron Pacific Indonesia, APP Sinar Mas, PT Djarum, dan PT Indofood Sukses Makmur, Tbk) serta dari staf YKAN. Mereka menanam 270 bibit mangrove.

Executive Director Yayasan Konservasi Alam Nusantara Rizal Algamar menjelaskan, jumlah total pohon mangrove yang akan ditanam adalah 1.000 bibit dari 5 jenis mangrove, yaitu Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Rizhophora apiculata,  Sonneratia alba, dan Rhizophora bruguiera.

“Pohon mangrove yang telah ditanam kemudian akan dimonitor secara berkala dari predasi predator seperti ulat, kepiting, teritip, belalang, dan lain-lain. Bibit yang telah ditanam ini juga akan diukur pertumbuhan dan survival ratenya,” kata Rizal.
Rizal menjelaskan betapa pentingnya hutan mangrove.“Hutan mangrove berfungsi sebagai benteng pertahanan terhadap risiko bencana maupun sebagai mata pencaharian alternatif melalui pengembangan industri pariwisata. Di samping itu, lahan mangrove juga memegang peranan dalam upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dengan kemampuan menyimpan karbon 3-5 kali lebih banyak dibandingkan hutan tropis,” kata Rizal.

Sebagai penyimpan karbon, hutan mangrove adalah jagonya. Hutan mangrove di Indonesia, kata Rizal, menyimpan 3,14 miliar ton karbon, yang setara dengan sepertiga karbon yang tersimpan di dunia. “Meski lebih dari 50 persen lahan hutan mangrove di Indonesia hancur, Indonesia masih menduduki posisi pertama sebagai negara dengan tutupan mangrove terbesar di dunia yaitu dengan total seluas 3,556 juta ha (KLHK, 2019) saat ini. Namun, sekitar 30 persen di antaranya tergolong dalam kategori kritis,” papar Rizal.

Restorasi

Untuk menyelamatkan dan melestarikan hutan mangrove, terutama di Jakarta, Semarang, Riau, dan Kalimantan Timur, YKAN | TNC menginisiasi sebuah platform yang disebut Mangrove Ecosystem Restoration Alliance atau Aliansi Restorasi Ekosistem Mangrove (MERA). Aliansi kemitraan ini bertujuan untuk mengembangkan, mengenalkan, dan mengimplementasikan pengelolaan kawasan pesisir yang terpadu dan berkelanjutan. Di dalamnya mencakup aspek ekologi, sosial, dan ekonomi. Saat ini MERA telah menjalin mitra dengan Asia Pulp & Paper (APP/Sinar Mas), Indofood Sukses Makmur, Chevron Pacific Indonesia, Djarum Foundation, dan Yayasan Tahija.

Kolaborasi kemitraan amatlah penting dalam menjalankan misi konservasi dewasa ini. Muhammad Ilman dari YKAN/TNC mengungkapkan konservasi dan restorasi mangrove membutuhkan biaya yang sangat besar. “Untuk pantai dengan kondisi tanah tidak turun atau masih normal, butuh biaya Rp40 juta untuk merestorasi 1 hektar tanah. Namun ntuk hutan mangrove di Teluk Jakarta, biayanya bisa meningkat 10 kali lipat karena kondisi tanahnya yang turun,” ungkap Muhammad Ilman.

Rizal juga mengingatkan, untuk merestorasi mangrove yang sudah rusak, tidak bisa sembarangan. “Hutan mangrove di wilayah tertentu memiliki ekosistem tertentu. Misal, di Kalimantan Timur, dibutuhkan jenis tanaman mangrove tertentu yang buahnya sangat disukai oleh monyet bekantan. Bila di wilayah itu ditanam mangrove jenis lain, ini akan mengancam ekosistem yang ada di sana, seperti punahnya bekantan karena hewan ini sangat tergantung dengan hutan mangrove dengan jenis tertentu,” jelas Rizal yang membutuhkan satu tahun untuk menganalisis ekosistem dan hidrologi Teluk Jakarta, sebelum dilakukan restorasi di masa mendatang.(nan)



Sumber: Investor Daily