Garut Kembangkan Pariwisata Berbasis Budaya

Garut Kembangkan Pariwisata Berbasis Budaya
Anggota Komisi X DPR RI Ferdiansyah tengah mengisi seminar kebudayaan bertajuk, Pemajuan Kebudayaan di Tengah Peradaban Dunia, di kawasan Garut, Jumat (13/9/2019). ( Foto: Ist )
Dina Fitri Anisa / FMB Sabtu, 14 September 2019 | 11:46 WIB

Garut, Beritasatu.com - Kearifan budaya lokal di kabupaten Garut, Jawa Barat kian diperhatikan, dan dipupuk menjadi modal dasar untuk membangun sektor pariwisata. Untuk itulah, pemerintah daerah mulai konsisten melakukan perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan budaya sesuai dengan amanat UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan Republik Indonesia.

Anggota Komisi X DPR RI Ferdiansyah mengatakan, budaya jangan diartikan sebagai biaya, tetapi investasi. Dengan adanya aktivitas melestarikan, pemeliharaan dan berbagai aktivitas lainnya, merupakan upaya besar agar budaya lokal bisa menjadi daya tarik utama sektor pariwisata Indonesia.

“Budaya jangan diartikan sangat sempit, seperti manuskrip atau tradisi lisan semata. Etos kerja, dan karakter masyarakat pun juga menjadi bagian dari budaya. Jadi, hal apapun dalam pembangunan nasional itu beraspek dari budaya. Akhirnya kita menyimpulkan, budaya menjadi haluan pembangunan nasional,” ujar Ferdiansyah, dalam seminar kebudayaan bertajuk, Pemajuan Kebudayaan di Tengah Peradaban Dunia, di kawasan Garut, Jumat (13/9/2019).

Agar cita-cita tersebut dapat tercapai, maka perlu diciptakan kesadaran dan rasa saling pengertian dalam berbudaya. Sehingga dengan hal tersebut, masyarakat Indonesia dapat terus percaya bahwa keanekaragaman budaya yang ada saat ini dapat terus hidup di masyarakat tanpa khawatir adanya pengaruh globalisasi.

“Garut saat ini memiliki tagline, 'Maju Berbudaya'. Budaya garut adalah budaya gotong-royong dan kesantunan. Ini kita bisa manfaatkan, di setiap kegiatan yang dilakukan masyarakat. Misal melakukan aksi demokrasi dengan cara berbudaya. Kalau ini dikemas baik dan cermat, maka akan menumbuhkan satu atraksi wisata baru yang bisa menarik kunjungan wisata di Garut,” jelasnya.

Senada dengan Ferdiansyah, Bupati Garut, Rudy Gunawan mengatakan, Garut tidak memiliki objek budaya khusus yang ditonjolkan untuk menjadi daya tarik wisata. Hal ini dikarenakan, budaya telah melebur menjadi satu dalam setiap keseharian masyarakat Garut.

“Budaya ini telah dimanifestasikan dengan pencak silat, cara menanggul, dan juga cara menjamu tamu yang datang. Kehidupan masyarakat Garut dengan budaya yang luhur, sudah kita pupuk dan lestarikan mengingat amanat dari UU Pemajuan Kebudayaan,” ungkapnya.

Menurut Rudy, UU Pemajuan Kebudayaan ini menjadi dasar untuk melindungi dan menjembatani hubungan kebudayaan yang hakiki di satu daerah. Perlindungan budaya itu menjadi sebuah hal penting agar tetap bisa terus diwariskan dari generasi ke genarasi yang akan datang.

“Kami ingin melestarikan budaya yang dapat menyesuaikan diri di era globalisasi. Makanya, dengan seperti itu identitas tetap terjaga, dan pergaulan internasional tetap dilaksanakan,” jelasnya.

Salah satunya adalah dengan melakukan memberdayakan dan meningkatkan partisipasi masyarakat menjadi lebih besar lagi. Sehingga peran mereka tidak lagi hanya sebagai “komoditas” pasif yang menjadi tontonan wisatawan, tetapi semakin aktif mengambil peran-peran yang lebih besar dan signifikan dalam pembangunan pariwisata.

“Garut memiliki destinasi wisata berkelas dunia, itu kita lakukan dengan memnafaatkan teknolgi, dengan pasar wisata digital untuk menarik minat para wisman di kalangan milenial. Pasar digital ini, seluruh stakeholder bisa membuat spot menarik dan diunggah ke Instagram. Sedangkan dari pemerintah, kita berupaya untuk pembenahan kawasan obyek wisata agar lebih menarik serta menyediakan sarana dan prasarana yang nyaman,” ungkapnya.

Diketahui, beberapa waktu lalu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut meresmikan pasar wisata digital Situ Bagendit, Dayeuh Manggung, dan Situ Cangkuang. Rudy berharap, dengan adanya destinasi digital, ketertarikan wisatawan yang suka berswafoto untuk mengunjungi Kabupaten Garut akan meningkat.

“Pariwisata kita luar biasa, mulai dari wisata alam, budaya, juga buatan. Anggaran Rp 50 miliar per tahun untuk membuat akses pariwisata, sedangkan untuk pembangunan wisata, Garut mengalirkan dana sekitar Rp 8 miliar per tahun,” jelasnya.

Sedangkan untuk melestarikan budaya lokal, mulai 2020 nanti, Garut akan berkomitmen untuk memberikan anggaran Rp 1 miliar kepada para pegiat budaya dan juga sanggar-sanggar. Hal ini dilakukan agar budaya lokal Garut bisa dikembangkan dan dilestarikan dengan baik. 



Sumber: Suara Pembaruan