Warisan Dunia Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto Patut Dijaga

Warisan Dunia Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto Patut Dijaga
Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto ( Foto: istimewa )
Dina Fitri Anisa / EAS Rabu, 18 September 2019 | 13:42 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto ditetapkan sebagai situs Warisan Dunia UNESCO pada Sidang Komite Warisan Dunia ke-32 yang berlangsung di Baku, Azerbaijan, pada 30 Juni-10 Juli 2019. Penetapan ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kelestarian dan juga pemanfataan situs sejarah tersebut.

Direktur Jenderal Kerja Sama Multilateral Kementerian Luar Negeri Febrian Ruddyard, menyebutkan, penetapan ini merupakan perwujudan dari diplomasi kebudayaan Indonesia dan dilakukan bersama-sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

"Bagian dari diplomasi budaya ini bisa menjadi nilai tambah untuk Indonesia di mata dunia. Saya berharap situs Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto bisa menjadi salah satu aset yang menunjukkan Indonesia memiliki sejarah panjang sebagai bangsa yang inovatif,” terangnya kepada Beritasatu.com saat menyerahkan sertifikat asli penetapan Warisan Dunia ini ke perwakilan Kemendikbud, di Jakarta, Senin (16/9/2019).

Dirinya menyebutkan, Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto dipandang pantas diposisikan sebagai warisan dunia, karena unggul dalam dua kategori yakni nilai Universal Luar Biasa (outstanding universal value). UNESCO juga melihat Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto ini memberikan dampak positif dalam hal perekonomian kepada masyarakat yang saat ini tinggal disekitar.

"Keunikan Warisan Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto menunjukkan adanya pertukaran pengetahuan dan teknologi masyarakat lokal Minangkabau atau Sumatera Barat dengan teknologi Eropa, terkait dengan eksploitasi batu bara di masa akhir abad ke-19 sampai dengan masa awal abad ke-20 di dunia, khususnya di Asia Tenggara," ungkapnya.

Ia pun menambahkan, tambang ini dirancang untuk efisiensi sejak tahap ekstraksi batu bara, pengolahan, dan transportasi, sebagaimana yang ditunjukkan dalam organisasi perusahaan, pembagian pekerja, sekolah pertambangan, dan penataan kota pertambangan yang dihuni oleh sekitar 7.000 penduduk.

Diketahui, selain kawasan tambang batu bara Ombilin dan kawasan Kota lama di kota Sawahlunto, warisan budaya dunia ini juga diwakili oleh jalur kereta api dengan stasiun-stasiun, jembatan, dan terowongan yang melintasi beberapa kota/kabupaten lainnya di Sumatera Barat. Sebut saja Kabupaten Solok, Kota Solok, Kabupaten Tanah Datar, Kota Padang Panjang, dan Kabupaten Padang Pariaman, dan diakhiri dengan Kawasan Silo Gunung di dalam Pelabuhan Teluk Bayur di Kota Padang.

 

Badan Pengelola
Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Hilmar Farid mengatakan pihaknya akan segera membuat badan pengelola cagar budaya, untuk kawasan pertambangan batu bara Ombilin yang sudah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia.

"Setelah ditetapkan sebagai warisan budaya oleh UNESCO, kami akan melakukan upaya perlindungan dan bekerja sama dengan sejumlah daerah dan perusahaan pemilik pertambangan. Dalam waktu dekat, kami akan membentuk badan pengelola untuk memberikan perlindungan cagar budaya tersebut," ujar Hilmar.

Hilmar menambahkan pihaknya akan melakukan koordinasi dengan lima kabupaten/kota yang ada di Sumatera Barat yang bersinggungan dengan pertambangan era kolonial tersebut. Selain itu, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan PT Bukit Asam sebagai pengelola tambang tersebut.

"Kami akan melibatkan komunitas dalam strategi perlindungan. Hal ini sangat efektif jika komunitas dilibatkan," kata Hilmar.

Pihaknya juga memastikan tidak terjadi tumpang tindih program dengan kementerian lain. Dalam waktu dekat, pihaknya akan mempopulerkan Sawahlunto melalui media film.

Hal tersebut diamini oleh Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO profesor Arief Rachman. Pasalnya ia menyebut, penetapan Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto masuk dalam daftar warisan dunia bukanlah pekerjaan akhir. Penetapan tersebut justru menjadi awal dalam memperjuangkan pemanfaatannya bagi masyarakat dunia.

"Kita seolah-olah sudah dapat piala. Saya jadi khawatir, nantinya tidak ada suatu semangat lagi ke depan. Padahal, warisan yang telah ditetapkan harus mempertahankan budaya dan kekuatan edukasi yang kuat agar bisa mendidik. Jadi, tidak pantas rasanya bila hal itu ditetapkan, tetapi masyrakat dan anak-anak sekitar tidak paham untuk apa fungsinya," jelasnya.

Untuk itulah, ia mengimbau pemerintah untuk mengelaborasikan ragam informasi yang terkait dengan Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto menjadi sebuah buku. Diharapkan, warisan dunia ini bisa terus diwariskan tempat dan juga nilainya kepada generasi-generasi selanjutnya.

"Indonesia sudah ada beberapa tempat yang sudah masuk daftar berbahaya untuk dicoret dari daftar warisan dunia. Untuk itu, Unesco meminta kepada pemerintah dan masyarakat memperhatikan hal ini, agar bisa dirawat, dijaga, dan dikembangkan dengan baik," tukasnya.



Sumber: BeritaSatu.com