Halal Tourism, Pariwisata Ramah Muslim yang Toleran dan Bersahabat.

Halal Tourism, Pariwisata Ramah Muslim yang Toleran dan Bersahabat.
Menteri Pariwisata Arief Yahya (dua dari kanan) berfoto bersama Frans Meroga Panggabean (dua dari kiri), di sela-sela Tourism International Conference yang diselenggarakan MUI, di Mandalika Lombok, 10-11 Oktober 2019. ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Rully Satriadi / RSAT Sabtu, 12 Oktober 2019 | 10:12 WIB

Mandalika, Beritasatu.com - Seringkali istilah Halal Tourism disalahpersepsikan seakan inklusif dan tertutup untuk kalangan non muslim. Namun hal ini terbantahkan dalam "Halal Tourism International Conference" yang diselenggarakan Majelis Ulama Indonesia (MUI), di Mandalika Lombok. 10-11 Oktober 2019.

Istilah halal tourism atau pariwisata halal  harus intensif dikomunikasikan sebagai pariwisata yang bersahabat, ramah, dan terbuka. Bukan dipersepsi sebagai pariwisata yang tertutup dan tidak aman untuk pengunjung wisata non muslim.

Hal tersebut diutarakan pakar ekonomi kerakyatan, Frans Meroga Panggabean, di sela-sela acara konferensi tersebut. Frans mengatakan acara seperti ini perlu terus digalakkan agar masyarakat luas mengetahui bahwa halal tourism itu terbuka, bersahabat, dan mencatat kontribusi ekonomi yang signifikan bagi masyarakat setempat.

Frans menjelaskan, Halal Tourism sebenarnya hanya terminologi untuk kepentingan branding dan marketing. "Jadi memang masyarakat secara luas harus diberikan edukasi yang jelas agar tidak terjadi salah persepsi dengan istilah halal dan haram dalam terminologi agama," ujar Frans yang lulusan MBA dari University of Grenoble, Perancis ini.

Dalam acara yang dihadiri dan diresmikan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) sekaligus Wakil Presiden terpilih, KH Ma'ruf Amin itu memberikan pemahaman bahwa pariwisata halal merupakan salah satu indikator keberhasilan mendatangkan devisa negara khususnya di sektor pariwisata.

Salah satu pembicara, Menteri Pariwisata Arief Yahya membeberkan sejumlah data mengenai prestasi Indonesia dalam Halal Tourism di kancah internasional. Pada tahun 2019, Indonesia berhasil menjadi The Best The World Halal Tourism Destination 2019 vesi GMTI (Global Moslem Tourism Index). Posisi Indonesia mengalahkan Malaysia, Turki, dan Arab Saudi.

Prestasi ini sungguh sangat menggembirakan mengingat di 2030 menurut data GMTI, jumlah pengunjung wisata muslim mencapai 230 juta. Namun di sisi lain, prestasi Indonesia tersebut bisa menurun apabila tidak kita jaga bersama.

Lebih lanjut Frans mengatakan  Indonesia juga harus bisa menjaga citra sebagai negara muslim yang toleran dan terbuka, seperti halnya Malaysia, Turki, dan Emirat Arab. Di Indonesia sendiri ditunjukkan oleh Lombok yang merupakan destinasi muslim nomor 1 di Indonesia versi Indonesia Muslim Travel index (IMTI).

"Di Lombok kita lihat turis-turis luar negeri banyak berkunjung menikmati indahnya pantai dan keindahan alam lain dengan nyaman. Masyarakat Lombok juga sangat sadar bahwa pariwisata bisa menjadi andalan periuk nasi mereka," papar Frans yang merupakan tim penulis buku "The Ma'ruf Amin Way" ini.

Frans menyakini dengan didukung program-program yang tepat untuk mendorong destinasi pariwisata halal, target pemerintah untuk menjadikan pariwisata sebagai sektor unggulan  akan tercapai dalam waktu dekat.

Hal ini juga diamini oleh Sekretaris Jenderal MUI Anwar Abas. “Diharapkan apa yang terjadi di Lombok bisa dijadikan benchmark destinasi pariwisata di daerah lainnya,” ujarnya.

Anwar Abbas menambahkan di tengah kelesuan ekonomi saat ini, pariwisata bisa menjadi terobosan untuk meningkatkan perekonomian setempat.



Sumber: Suara Pembaruan