“Embassy Cooking Competition” dan Kompor Induksi

“Embassy Cooking Competition” dan Kompor Induksi
Peserta Embassy Cooking Competition dari Rusia Nikita Ivanov (kedua dari kiri) beserta Ketua Umum PPJI Irwan Iden Gobel (tengah) dan peserta dari Inggris Christopher Agass serta Har Man Ahmad, usai kompetisi di ICE BSD, Tangerang Selatan (19/10) ( Foto: istimewa )
Fajar Widhiyanto / FW Senin, 21 Oktober 2019 | 23:06 WIB

Penggunaan kompor listrik induksi terus disosialisasikan secara berkala dan konsisten sebagai sarana dan alat rumah tangga yang hemat energi dan ramah lingkungan. Kali ini dua event besar di dua kota, yakni Embassy Cooking Competition in Indonesia Cuisine di ICE – BSD, Tangerang Selatan dan Friday Innovation Night di Yogyakarta, dijadikan ajang sosialisasi kompor listrik induksi.

Di ICE BSD, di tengah ajang Trade Expo Indonesia (TEI) ke-34 yang berlangsung pada 16 - 20 Oktober, digelar rangkaian kegiatan Electric PPJI Food Festival yang salah satu acaranya adalah Embassy Cooking Competition Indonesian Cuisine, yakni lomba memasak “Nasi Goreng Indonesia” selama 60 menit yang diikuti oleh tiga kedutaan besar negara sahabat. Ketiganya yakni perwakilan dari Kedubes Malaysia, Kedubes Rusia, dan Kedubes Inggris yang ada di Jakarta.

Lomba memasak yang digelar pada Sabtu 19 Oktober sore ini pun dijadikan ajang sosialisasi penggunaan kompor listrik induksi sebagai sarana memasak yang hemat energi dan ramah lingkungan. Diharapkan kelak secara perlahan masyarakat bisa mengetahui kelebihan kompor induksi, sehingga dapat beralih atau memilih kompor induksi (kompor listrik) dibanding kompor gas.

Ketua Umum Perkumpulan Penyelenggaraan Jasaboga Indonesia (PPJI) Irwan Iden Gobel mengatakan, diselenggarakannya Embassy Cooking Competition Indonesian Cuisine sejatinya bertujuan untuk membangun persahabatan di antara Indonesia dan sejumlah negara lainnya dalam kerangka kuliner. Namun sarana memasak yang digunakan dalam ajang lomba ini adalah kompor listrik induksi. “Dengan komposisi penilaian 20% untuk penyajian makanan, penilaian rasa makanan 50%, serta kreativitas dan variasi pada makanan 30%,” kata Irwan dalam pernyataannya yang diterima redaksi Senin (20/10).

Para peserta pun menyampaikan apresiasinya terkait digunakannya kompor listrik dalam ajang tersebut. Seperti dikatakan Komisioner (Konselor) Dagang Malaysia External Trade Development Corporation (Matrade) Kantor Dagang pada Kedutaan Besar Malaysia di Indonesia, Har Man Ahmad, ia mendukung penggunaan kompor listrik pada kompetisi tersebut. “Di Malaysia, lebih banyak yang menggunakan kompor listrik induksi dibanding kompor gas,” ujarnya.

Senada dengan Har, Sekretaris Kedua Kedutaan Besar Rusia di Jakarta, Nikita Ivanov yang juga peserta lomba menyatakan, saat ini sebagian besar penduduk di Rusia menggunakan kompor listrik induksi karena lebih ramah lingkungan. Peserta kompetisi lainnya, Christopher Agass yang menjadi salah satu anggota tim ekonomi kantor Kedutaan Besar Inggris di Jakarta mengemukakan, penggunaan kompor induksi – listrik lebih ramah lingkungan dibanding kompor gas. Namun memang membutuhkan waktu lebih lama ketika memasak dengan kompor listrik dibanding kompor gas.

Sementara itu di Jogjakarta, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menggelar Friday Innovation Night. Ajang Friday Innovation Night pada 18 Oktober lalu ini digunakan PLN untuk mengenalkan tema besar electrical lifestyle yakni eco living – eco lifestyle – dan eco moving. Disseminasi penggunaan kompor induksi pun dilakukan di event ini.

“Sebagai bagian dari electrical lifestyle, kami memperkenalkan penggunaan kompor induksi kepada masyarakat, ini bebas polusi, menggunakan nyala api menjadi lebih aman, juga praktis, dan tinggal colok tanpa menggunakan tungku secara khusus, bahkan tidak menggunakan tabung gas,” kata Eric Rossi Pryo Nugroho, Manager Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan PLN Yogyakarta, usai penyelenggaraan Friday Innovation Night.

Jika penggunaan tabung gas memiliki potensi kebocoran, dan harus memperhatikan kualitas tabung, maka itu tidak terjadi pada kompor induksi. Kompor induksi bisa dikendalikan lewat timer.

Dengan menggunakan kompor listrik, selain dapat mengatur daya listrik, masyarakat juga dapat sekaligus melakukan pekerjaan lainnya. Jika dengan kompor gas nyala api bisa dikontrol, sementara dengan kompor listrik besarnya daya yang akan diatur. Sebab pada kompor listrik tercantum daya dari 160 watt sampai 2 ribu watt, sehingga dapat diatur sesuai kebutuhan.

Eric menyatakan, sosialisasi penggunaan kompor induksi lebih mudah dilaksanakan di Yogyakarta. Pasalnya beberapa restoran dan hotel di kota ini sudah banyak yang menggunakannya, sehingga mempermudah langkah sosialisasinya kepada masyarakat.

Penggunaan kompor induksi di Yogjakarta juga mulai diterapkan di sejumlah lounge bandara, restauran dalam mal, terutama karena praktis, lebih aman, dan lebih elegan.

 



Sumber: Majalah Investor