Forum Tour Operator Ecotourism Malang Berhasil, Peserta Acungkan Jempol

Forum Tour Operator Ecotourism Malang Berhasil, Peserta Acungkan Jempol
Pesona Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna dan semangat para pengelola untuk merawat kebersihan pantainya. (9/11) ( Foto: Kemenparekraf / IST )
Jayanty Nada Shofa / JNS Senin, 11 November 2019 | 09:41 WIB

MALANG, Beritasatu.com - Pesona ecotourism Malang di Forum Tour Operator oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) membuat takjub para wisatawan.

Mengelilingi Kayutangan Heritage di Kota Malang, CMC Tiga Warna di Malang Selatan dan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru membuat mata 18 orang pelaku travel operator berbinar dengan kekayaan budaya dan alam yang ditawarkan. Enam di antaranya berasal dari tour operator internasional baik dari Malaysia, Singapura dan Thailand. Dua belas orang lainnya berasal dari Jawa Timur, Bali dan Jakarta.

Semuanya diajak merasakan langsung pengalaman dan keidahan destinasi tersebut untuk menyiapkan paket ecotourism menarik, bagi pasar masing-masing di daerah dan negaranya.

Di Kawasan Heritage Kayutangan, para pengunjung diajak bernostalgia ke era kolonial Belanda dengan mengunjungi deretan rumah dengan arsitektur di masa itu. Sekitar 60 rumah tua yang dirawat keasliannya memenuhi kawasan ini. Perjalanan melalui sejarah ini juga turut diperkuat dengan adanya plakat informasi usia bangunan hingga pemiliknya yang tertanam di depan rumah. Rumah tertua dicatat dibangun pada tahun 1870.

Setelah perjalanan bersejarah, Forum Tour Operator diwarnai dengan keindahan alam Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna. Tempat ini adalah kawasan konservasi untuk pohon bakau dan terumbu karang yang berada di Dukuh Sendang Biru, Desa Tambak Rejo, Kecamatan Sitiarjo, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Terawat dengan baik, para peserta terpesona dengan komitmen pengelola kawasan dalam memastikan kebersihan pantai.

Salah satunya adalah dengan menggunakan sistem checklist barang bawaan pengunjung menuju pantai.
Saat memasuki kawasan wisata ini, pengunjung harus melewati pos pemeriksaan tas dan mencatat potensi sampah seperti air minum kemasan, tisu basah, tas plastik, masker. Nantinya, ketika meninggalkan lokasi, pengunjung harus kembali membawa barang-barang tersebut keluar.

Bila nantinya terdapat sampah yang tertinggal ketika dicek kembali, pengunjung akan dikenai sanksi dengan kembali ke pantai dan mengambil sampah yang ditinggalkan, atau membayar denda sebesar Rp 100 ribu.

Takjub, peserta asal Singapura Faizal Syed Mohamed mengaku program ecoutourism yang baru pertama ditawarkan Kemenparekraf ini cocok dengan market yang ada di negaranya.

“Yang lebih menyenangkan lagi adalah, kami bisa melihat dan melakukan aksi langsung seperti menanam mangrove. Ini pengalaman yang membanggakan, saya rasa pengalaman yang didapat akan kami kabarkan kepada market, sangat unik dan berbeda," ujarnya, Minggu. (10/11)

Asisten Deputi Pengembangan Wisata Alam dan Buatan (PWAB) Kemenparekraf, Alexander Reyaan mengatakan ecotourism adalah benchmark yang terbaik untuk Sustainable Tourism Development (STD).

Berbeda dari mass tourism yang hanya mengejar jumlah wisatawan mancanegara (wisman), ecotourism menargetkan kualitas wisman dengan value yang lebih besar.

"Kemenparekraf mengembangkan kedua konsep itu. Keduanya saling melengkapi, saling mendukung. Kita harus punya destinasi dengan mass tourism, kita juga terus mengembangkan atraksi untuk high end tourism," katanya.

Prinsipnya tidak boleh merusak alam dan memegang teguh prinsip konservasi karena pariwisata adalah urusan pelestarian. Terdapat berbagai contoh yang memperlihatkan konservasi dapat membawa keuntungan yang berjangka panjang.

“Justru kalau dirusak, dengan cepat akan menjadi malapetaka dan mudah menyelesaikannya,” pungkas Alexander Reyaan.



Sumber: BeritaSatu.com