Kentalnya Budaya Sumbawa Barat di Festival Taliwang 2019

Kentalnya Budaya Sumbawa Barat di Festival Taliwang 2019
Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenparekraf Rizki Handayani mengapresiasi Festival Taliwang 2019 karena keunikannya yang ditawarkan. (18/11) ( Foto: Kemenparekraf / IST )
Jayanty Nada Shofa / JNS Senin, 18 November 2019 | 12:39 WIB

SUMBAWA BARAT, Beritasatu.com - Baik itu kuliner, live music, lomba, parade budaya, sarasehan hingga tarian, kekayaan budaya Sumbawa Barat sangat kental di di Festival Taliwang (13-24 November 2019).

Semarak festival ini diawali dengan beragam kegiatan. Lomba Fotografi (13-20 November) menjadi ajang talenta keahlian memotret. Para pelajar juga ikut serta dalam Parade Lomba Budaya dengan membawakan pentas ataupun Lomba Seni Budaya.

Para pengunjung turut akan tergiur dengan kuliner khas Sumbawa Barat seperti Tumi Sepi, Rusa Bakar dan Uta Londe Puru di Bazar Kuliner Etnis Ontar Telu (13-19 November). Baik itu Gecok, Ayam Bakar Taliwang, Sepat, Singang dan Uta Palamara, Mangge Mada hingga Bubur Palopo, lidah pengunjung akan dimanjakan dengan cita rasa khas Sumbawa Barat.

"Melihat antusiasme wisatawan, dapat dikatakan respons mereka baik. Kami pun optimis, pergerakan akan semakin meningkat beberapa hari ke depan dengan banyaknya konten unik dan menarik," ujar Kepala Disbudpar Sumbawa Barat IGB Sumbawanto.

Acara akan diramaikan dengan Pawai Teknologi Budaya (18/11). Di hari berikutnya, pengunjung dapat menikmati lantunan musik Konser Musik Garap Baru. Pengunjung akan mendengarkan bagaimana alat musik Sakeco, Serunai, Kendang Bambu, Pelantunan Tembang dan Rampak Gong Gendang menghasilkan sebuah aransemen musik yang khas.

Lima puluh penari wanita juga akan memenuhi panggung lumpur untuk Tarian Pembawa Kolong. Melalui gerakan yang khas, setiap gerakan mencerminkan konsep konservasi air sebagai sumber kehidupan.

Budaya tari nan kaya juga akan dibawakan melalui Tarian Benteng Berinas, Tarian Barapan Kebo, Iring Kebo Lumpur Seni dan Sakeco di Atas Kerbau.

Dengan komposisi yang unik dan etnik, Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenparekraf Muh. Ricky Fauziyani menyatakan wajar apabila festival ini masuk ke dalam Calendar of Events (CoE) 2020.

Puncak dari festival ini berlangsung di Barapan Kebo (24/11) yang membawakan tradisi turun menurun di Sumbawa.

Ajang yang bahkan sudah menjadi event reguler Saka Buffalo Race World Championship menilai kecepatan dan akurasi. Adapun parameter dinilai dengan Karing di antara 2 kerbau yang menabrak Saka. Bila Karing dapat menabrak Saka secara akurat, maka 100 point diraihnya. Untuk tim tercepat mendapat 160 point.

Tak hanya itu, Saka mencerminkan konseptual hubungan vertikal manusia. Sebab, para joki dituntut untuk membuat alur laju kerbau lurus hingga menabrak Saka. Selain itu, nuansa mistis masih kental dalam ajang ini karena ritual khusus Pasuk Sakaocu diperlukan untuk menancapkan Saka. Ada pula keterlibatan ahli spiritual seorang Sandro yang akan menancapkan Saka. Melalui doanya,  Sandro harus melindungi seluruh peserta dari potensi negatif yang merugikan. Sebab, ilmu hitam konon masih kental dalam setiap gelaran perlombaan ini.

“Ada banyak ornamen khas yang unik di Festival Taliwang 2019. Nuansa budayanya otentik sekali dan ini jadi identitas di sana. Meski konsepnya menarik di tahun ini, kami harap ada pembaruan kemasan di tahun depan. Mereka harus menampilkan kualitasnya secara menyeluruh karena sudah berstatus CoE 2020,” tutup Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenparekraf Rizki Handayani.



Sumber: BeritaSatu.com