Semarak Tari Likurai di Grand Final Festival Paduan Suara Gerejawi

Semarak Tari Likurai di Grand Final Festival Paduan Suara Gerejawi
Para peserta Grand Final Festival Paduan Suara Gerejawi 2019 perlihatkan lantunan merdu dalam balutan kain khas masing-masing daerah, Sabtu. (23/11) ( Foto: Kemenparekraf / IST )
Jayanty Nada Shofa / JNS Minggu, 24 November 2019 | 15:31 WIB

ATAMBUA, Beritasatu.com - Tak hanya lantunan merdu dari 17 tim finalis, semarak Tari Likurai khas Belu, Nusa Tenggara Timur, juga mengisi panggung Malam Grand Final Festival Paduan Suara Gerejawi Indonesia-Timor Leste 2019, Sabtu (23/11).

Tari Likurai ini memiliki berbagai makna. Tarian yang tak pernah luput dari alat musik kendang ini digunakan sebagai simbol penghormatan bagi para tamu yang telah datang ke Kabupaten Belu. Di masa lalu, tarian ini mengungkapkan kegembiraan masyarakat dalam menyambut kembalinya para pejuang dari medan perang serta pada saat panen raya sebagai wujud rasa syukur.

Dibawakan oleh 12 penari dari Sanggar Aa Bere Tallo di Plaza Pelayanan Atambua, Duta Besar RI untuk Timor Leste Sahat Sitorus dan Wakil Bupati Belu Ose Luan menyaksikan pesona tari perang ini. Kasubbid Area II Regional III Kemenparekraf juga menghadiri acara ini.

Tak hanya itu, Ose Luan memberikan apresiasinya terhadap Kemenparekraf karena telah menggelar festival paduan suara ini di Atambua, Belu.

"Sebuah sajian yang luar biasa. Malam ini, lebih dari lomba. Kita memuji dan membesarkan nama Tuhan," tutur Ose Luan.

Asisten Deputi Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenparekraf Muh Ricky Fauziyani membenarkan jika event ini lebih dari lomba paduan suara.

"Seluruh peserta tampil dalam balutan kain khas daerah masing-masing yang mereka kreasikan dengan indah. Ada juga yang tampil menggunakan pakaian tradisional. Festival ini layaknya peragaan busana. Ditambah lagi seluruh peserta tampil sangat menghibur," paparnya.

Sementara Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenparekraf Rizki Handayani memberikan acungan jempol atas totalitas peserta.

"Kita lihat sambutannya sangat positif. Karena ternyata pesertanya tidak hanya dari Belu atau Atambua saja. Ada peserta dari Kupang, Maliana, Dili, Oecusee. Kita akan pertimbangkan untuk menghadirkan kembali event ini dengan kemasan yang lebih menarik. Sehingga peserta bisa jauh lebih banyak, termasuk dari Timor Leste," ujar Rizki.

Pada Grand Final Festival Paduan Suara Gerejawi 2019, 6 tim finalis berasal dari negara tetangga Timor Leste. Di antaranya adalah Coro Maria Auxiliadora Comoro, Coro Paroquia Sao Jose Aimutin, Kor St Arnoldus Yansen, Coral Nossa Senhora Do Carmo Catedral Dili, Paroki Nossa Senhora Do Rosario Oecusee, dan Paroki Sao Miguel Aveango Padiae.

Mereka bersaing dengan 11 tim paduan suara asal Indonesia. Terdiri dari Holy Spirit, Voka Aruditans, Vocalista Bella, Laudate Choir Unimor, PS Cantata Badarai, Santa Maria Regina Caeli, Katrot Silawan Choirs, dan Magnificat Choir. Serta Vincenzo Singers, OMK STA Theresia Kefamenanu, dan SMAN Pantura.



Sumber: BeritaSatu.com