Tarik Turis Premium, Branding Danau Toba Harus Inklusif

Tarik Turis Premium, Branding Danau Toba Harus Inklusif
Ketua Akademi Pariwisata (Akpar) ULCLA Toba, Tetty Marganda Situmorang (Foto: Beritasatu Photo / Istimewa)
Rully Satriadi / RSAT Senin, 9 Desember 2019 | 19:38 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Akademi Pariwisata (Akpar) ULCLA Toba, Tetty Marganda Situmorang mendesak pemerintah segera menetapkan positioning branding yang inklusif untuk Danau Toba guna menarik minat wisatawan mancanegara yang masuk kategori premium untuk mau datang, serta mendatangkan devisa bagi Indonesia. Hal ini sesuai yang disampaikan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bahwa strategi pengembangan pariwisata Indonesia bukan hanya mendatangkan sebanyak mungkin wisatawan mancanegara, tetapi fokus kepada segmen wisatawan yang berkualitas atau premium.

"Harus segera ditetapkan positioning branding yang inklusif bagi Danau Toba sehingga apabila dipromosikan secara meluas ke seluruh dunia, turis premium akan mau datang ke Danau Toba dan bahkan ikut testimoni tentang kesan mereka selama berlibur di Danau Toba, sehingga semakin banyak devisa yang diterima bagi kesejahteraan masyarakat," ujar Tetty seusai menyampaikan kuliah umum di Akademi Pariwisata ULCLA Toba, Tapanuli Utara, Senin (9/12/2019).

Disebutkan biarpun selama ini beberapa pemerintah daerah di sekitar Danau Toba sudah membuat branding tagline untuk strategi peningkatan pariwisatanya, tetapi Tetty melihat hal ini belum sepenuhnya tepat sasaran. Sebagai amplifikasi positioning destinasi super prioritas, tetap harus ada branding tunggal inklusif bagi Danau Toba.

"Sebelumnya sempat ada branding Super Volcano Geopark.Kalau itu tetap mau dipakai bisa jadi sub branding, tapi tagline utamanya harus powerful. Yang benar-benar menggambarkan kenapa turis harus datang mengunjungi Danau Toba, terutama yang kelas premium," jelas Tetty

Tetty juga menyampaikan hasil kajian dan riset dari Akpar ULCLA Toba menyimpulkan bahwa branding yang tepat bagi Danau Toba sebagai destinasi super prioritas pariwisata kelas dunia adalah "Thousand Eden Experience of Toba". Kesimpulan ini mengemuka setelah dalam 3 bulan terakhir dilakukan riset oleh tim pengajar Akpar ULCLA Toba serta melewati penelitian pada 7 kabupaten di sekitar wilayah Danau Toba.

"Sebagai satu-satunya perguruan tinggi pariwisata berbasis vokasi di wilayah sekitar Danau Toba, Akpar ULCLA Toba meyakini bahwa branding "Thousand Eden Experience of Toba" akan sangat tepat menjelaskan kekuatan positioning Danau Toba. Ribuan pengalaman surga inilah yang akan menjadi alasan kuat para turis premium agar mau datang ke Danau Toba yang tentunya akan spending banyak di sini," lanjut Tetty.

Dalam riset Akpar ULCLA Toba tersebut dijelaskan bahwa definisi pengalaman surga, bukan hanya tentang keindahan alam dan peninggalan sejarah. Kekayaan budaya, musik, dan kuliner di mana semuanya adalah kekuatan ekonomi kreatif juga harus dikedepankan sebagai kekuatan daya tarik Danau Toba bagi turis premium.

Keindahan Danau Toba sendiri diyakini tidak kalah dari Danau Wakatipu di Selandia Baru yang sudah lebih dahulu mendunia dengan keindahan pemandangan danau dan pegunungan. Belum lagi keindahan Hutan Ginjang dan Bukit Holbung yang sangat instagramable serta bersaing dengan legendarisnya keindahan alam Switzerland.

Keunikan alam lain seperti hot spring Sipoholon dengan segala macam keunikannya dipercaya tidak kalah dari Pamukkale di Turki. Apalagi ditambah dengan sensasi berendam di pemandian alami Air Soda, di mana hanya ada 2 di dunia ini yaitu di Parbubu, Tarutung sekitar Danau Toba serta di Venezuela.

"Kita juga segera merancang agar investor tertarik untuk meningkatkan kualitas access dan ammenities Danau Toba guna menarik minat turis premium agar betah lama tinggal yang otomatis semakin banyak devisa yang dapat diperoleh," terang Tetty yang juga Presdir dari Nasari Sentra KUKM ini.

Tetty menambahkan kekuatan ekonomi kreatif yang menonjolkan kekayaan seni budaya, musik, dan kuliner akan menjadi revitalisasi faktor attractions dan activities guna menciptakan sensasi yang menguatkan ribuan pengalaman surga selain keindahan alam Danau Toba sendiri.

Hal ini diyakini secara konkrit berdampak pada pemberdayaan ekonomi kerakyatan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar Danau Toba. Harus dilakukan penguatan di berbagai aspek sebelum para pelaku UMKM berbasis ekonomi kreatif tersebut dilibatkan aktif untuk menggaet para turis premium.

"Boleh kita bandingkan Arsik itu lebih enak daripada Tom Yum Thailand loh, lalu masakan khas Batak Naniura bisa kita kemas seperti Sushi Jepang. Jadi kearifan lokal kuliner Batak pun harus ditonjolkan karena tidak kalah dengan kuliner lain yang sudah lebih dulu mendunia," tegas Tetty.

Menurutnya dibutuhkan harmonisasi lintas sektoral antar kementerian guna perwujudan visi besar tersebut. Implementasi branding "Thousand Eden Experience of Toba" membutuhkan komitmen dan kerjas ama dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Koperasi dan UKM, serta Badan Koordinasi Penanaman Modal.

"Kami mendesak untuk segera dirumuskan Surat Keputusan Bersama (SKB) antara Pak Tama sebagai Menparekraf dengan Pak Bahlil sebagai Kepala BKPM juga dengan Pak Teten sebagai Menkop untuk payung hukum harmonisasi lintas kementerian guna akselerasi perwujudan Danau Toba sebagai destinasi wisata super prioritas kelas dunia." pungkas Tetty.



Sumber: Suara Pembaruan