Mencari Jejak 8 Ikon di Kompleks Candi Gedongsongo

Mencari Jejak 8 Ikon di Kompleks Candi Gedongsongo
Wisatawan lokal melihat-lihat peninggalan sejarah di kawasan kompleks Candi Gedongsongo. ( Foto: istimewa )
Elvira Anna Siahaan / EAS Senin, 9 Maret 2020 | 19:50 WIB

Semarang, Beritasatu.com - Tidak banyak yang tahu, kalau Kota Semarang juga menyimpan bangunan sejarah selain Lawang Sewu. Kota Semarang, yang kini lebih dikenal sebagai tempat wisata alam dan kuliner ternyata menyimpan 8 ikon candi di Kapubaten Ungaran, lebih tepatnya di kawasan kompleks Candi Gedongsongo.

Dari namanya saja, mungkin bisa ditebak akan ada 9 candi di kompleks tersebut. Sayangnya, tebakan tersebut salah. Kala Beritasatu.com menjajaki kawasan candi belum lama ini, hanya ada 8 ikon candi di kompleks Candi Gedongsongo. Satu candi lagi, hingga saat ini konon belum ditemukan.

Kompleks Candi Gedong Songo ditemukan pada 1804 silam. Candi ini merupakan candi Hindu yang dibangun berderet dari bawah hingga puncak perbukitan di Gunung Kendalisada. Perjalanan menyusuri tingkatan candi demi candi yang cukup jauh, membuat pengunjung harus menyiapkan fisik dan tenaga yang cukup. Tetapi kalau tidak yakin kuat melintasi jalannya yang menanjak, bisa dilakukan dengan jasa transportasi kuda. Jasa transportasi kuda ini dibebankan sesuai berat badan, maksimal Rp 170.000 untuk satu orang dengan berat 90 kilogram.

Bagi wisatawan yang ingin melepas penat, kompleks ini menyimpan panorama keindahan yang memanjakan mata. Mulai dari keindahan bukit, pegunungan, kawasan hutan lindung, dan kolam air panas hasil bumi (belerang). Belum lagi udara yang segar langsung menjamu Anda begitu sampai di pintu masuk.

Penghijauan
Demi menjaga dan melindungi bangunan sejarah di kawasan candi, belum lama ini sebanyak 250 mahasiswa dan mahasiswi yang tergabung dalam gerakan Siap Darling Bakti Lingkungan Djarum Foundation, diajak untuk menanam pohon di kawasan Candi Gedongsongo. Pohon-pohon yang ditanam antara lain Bambu Jepang, Hujan Mas, Pucuk Merah, Tabebuia Rosea, Pinus, Puspa, Akar Wangi, Pinus, Puspa, dan Akar Wangi.

Aksi penghijauan mahasiswa tersebut juga bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Budaya Indonesia melalui Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah, yang berkomitmen untuk menghijaukan Kompleks Percandian Gedongsongo.

"Ada 868 pohon dan semak ditanam di berbagai titik yang tersebar di Kompleks Percandian Gedongsongo. Semua bibit diambil dari pusat pembibitan tanaman (PPT) yang terletak di Kudus, Jawa Tengah,” kata perwakilan dari Djarum Foundation, Victor Hartono, pekan lalu.

Ditambahkan Sukronedi, Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah, gerakan menanam pohon ini diyakini mampu menumbuhkan rasa cinta para generasi muda terhadap lingkungan dan warisan para leluhur.

"Saya meyakini Siap Darling mampu mengubah paradigma kaum milenial bahwa berkunjung ke tempat bersejarah tidaklah membosankan, tetapi justru membanggakan. Sebab bangsa yang besar adalah yang menghargai sejarah dan juga merawat apa yang ditinggalkan leluhur kepada kita,” kata Sukronedi.

Sebelum penghijauan Kompleks Percandian Gedong Songo, pada 5 Maret 2020, di hari sebelumnya 50 mahasiswa terpilih mengikuti camping, forum discussion group (FGD), dan menuangkan idenya ke dalam bentuk proposal dengan tema pelestarian lingkungan.



Sumber: BeritaSatu.com