Memaknai Hari Kartini, 10 Desainer Membuat 6 Jenis APD

Memaknai Hari Kartini, 10 Desainer Membuat 6 Jenis APD
Desainer Kleting Titis Wigati berfoto bersama Susi Pudjiastuti. (Foto: Instagram )
Dina Fitri Anisa / EAS Selasa, 21 April 2020 | 21:21 WIB

Jakarta, Beritasatu.com -  Memaknai hari Kartini, desainer Kleting Titis Wigati bersama sembilan desainer lainnya memiliki cara lain untuk memberikan harapan di tengah pandemi Covid-19. Salah satunya dengan membantu para desainer Indonesia agar tetap menjaga arus dan progres bisnis mereka dengan membuat 6 jenis alat pelindung diri (APD) sesuai standar WHO.

Gerakan membuat APD diakui mengacu pada laporan minimnya jumlah dan kualitas yang ada di lapangan. Bahkan beberapa hari lalu ada petugas medis yang terpaksa menggunakan kantong sampah, jas hujan, bahkan sarung tangan sekali pakai yang digunakan berulang kali karena kekurangan APD.

Rencananya pada desainer ini akan membuat 1.000 paket lengkap APD yang akan didistribusikan ke berbagai rumah sakit di Indonesia. Paket tersebut mencakup surgical gowns, scrubs (atasan + bawahan), hair cap, face shiel, hazmat, shoe cover.

"Mendengar banyak kabar, bahwa APD dari donasi tidak memenuhi standar WHO, sebagai desainer kami merasa harus turun tangan. Kami membuat APD dengan bahan yang sesuai standar dan telah disetujui oleh Kemkes serta Kemag. APD ini nanti akan kita bagikan ke daerah-daerah yang nyatanya sampai sekarang masih belum tersentuh oleh sumbangan-sumbangan APD,” ungkap Klenting dalam perbincangan daring dengan Microsoft Team, Selasa (21/4/2020).

Selain menyalurkan bantuan melalui uang atau barang, dr Debryna Dewi Lumanauw yang juga hadir dalam seminar daring menyarankan membantu Indonesia melawan Covid-19 ini dapat dilakukan hanya dengan berdiam diri di rumah, mengikuti imbauan pemerintah. Meski imbauan ini masih sering dianggap remeh oleh masyakrakat, tetapi menurutnya social distancing ini memiliki dampak yang sangat besar.

"Ketakutan terbesar saya bukan masalah APD atau virus Covid-19. Namun, membayangkan bagaimana masyarakat di Jakarta dan di daerah lain yang masih tidak patuh melakukan social distancing, keluar rumah tidak pakai masker. Jika masih ditanya seberapa efektif social distancing dalam menekan kurva penularan? Cara ini adalah yang paling ampuh dibandingkan dengan kegiatan rajin berjemur atau minum vitamin C setiap hari,” tegas dr Debryna.



Sumber: BeritaSatu.com