Maret 2020, Kunjungan Wisman ke Indonesia Turun 64%

Maret 2020, Kunjungan Wisman ke Indonesia Turun 64%
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio. ( Foto: istimewa )
Dina Fitri Anisa / Herman / EAS Senin, 4 Mei 2020 | 21:49 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia turun 64,11% dibandingkan Maret 2019. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Maret 2020 jumlah wisman yang berkunjung hanya 470.900 orang, sementara Maret 2019 angkanya mencapai 1,34 juta wisman.

Kepala BPS, Suhariyanto memaparkan, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia sudah menunjukkan penurunan tajam sejak Februari 2020. Ia mengatakan jumlah kunjungan wisman Maret 2020 ini hampir sama dengan posisi jumlah kedatangan wisman pada Maret 2007 yang ketika itu berjumlah 361.800 kunjungan.

"Penurunan kunjungan wisman pada Maret 2020 besar sekali, dan tentunya ini perlu diwaspadai karena akan berdampak pada sektor-sektor pendukung pariwisata, seperti tingkat hunian kamar hotel, sektor transportasi, industri ekonomi kreatif, perdagangan, dan sebagainya,” kata Suhariyanto dalam live streaming perkembangan pariwiata Indonesia, Senin (4/5/2020).

Demi mengatasi persoalan besar pariwisata selama pandemi Covid-19, pemerintah melalui Kemparekraf memiliki tiga strategi untuk bertahan, yaitu tahap tanggap darurat, pemulihan, dan normalisasi.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mengatakan tahap tanggap darurat dimulai dengan mengelola mitigasi krisis saat pandemi, di mana tercatat sekitar 213.000 pekerja sektor pariwisata dan ekonomi kreatif terdampak Covid-19 di 34 provinsi.

Melalui data tersebut Kemparekraf bersinergi dan berkoordinasi bersama kementerian/lembaga terkait menyalurkan program bantuan. Semisal dengan Kementerian Sosial pekerja di sektor pariwisata yang terdampak Covid-19 mendapat bantuan sosial seperti paket sembako, uang tunai, BLT desa, hingga kartu Prakerja. Sementara dengan Kementerian Keuangan diberikan insentif perpajakan dan restrukturisasi kredit. 

Optimis
Menurunnya jumlah wisman selama pandemi Covid-19 juga dipaparkan tokoh pariwisata nasional, Sapta Nirwandar. Jika mengacu pada data Asosiasi Perusahaan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Sapta mengatakan sudah lebih dari 2.000 hotel dan restoran yang tutup sementara selama pandemi Covid-19. Alhasil angka kerugiannya pun mencapai Rp 4-5 triliun.

Sementara para pekerja di sektor pariwisata pun harus menerima nasib untuk pemutusan hubungan kerja (PHK), dirumahkan dengan dibayar separuh, atau tidak dibayar sama sekali.

Namun dengan kondisi tersebut Sapta mengaku masih optimis. Ia percaya industri pariwisata bisa bangkit setelah pandemi Covid-19. Sapta pun mendukung strategi pemerintah dalam memberikan insentif ataupun meringankan pajak industri. Terlebih saat ini hal yang dibutuhkan oleh lebih dari sembilan juta pekerja pariwisata adalah kebutuhan untuk melanjutkan hidup mereka.

Dalam kesempatan yang sama, pemerintah juga harus memikirkan rencana tahap pemulihan. Menurutnya, ini adalah tahap yang paling krusial untuk menentukan laju percepatan pengembangan industri pariwisata setelah pandemi berakhir.

"Banyak yang harus dibenahi setelah pandemi. Bagaimana menyiapkan amenitas, akomodasi, dan atraksi yang bisa menarik wisatawan nusantara dan wisman. Tantangan terbesarnya adalah mempersiapkan skema baru setelah Covid-19," kata Sapta.



Sumber: BeritaSatu.com