Bali, Dipersiapkan Menjadi Destinasi New Normal Pascapandemi

Bali, Dipersiapkan Menjadi Destinasi New Normal Pascapandemi
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio. (Foto: istimewa)
Dina Fitri Anisa / EAS Minggu, 10 Mei 2020 | 20:36 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Saat ini, dunia pariwisata, termasuk Indonesia mempersiapkan diri menghadapi era normal baru atau new normal pascapandemi Covid-19. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio mengatakan, pandemi Covid-19 telah mengubah pola interaksi dan sosialisasi para pelaku industri pariwisata. Menghadapi masa tersebut, Menparekraf mengatakan Bali sudah dipersiapkan menjadi destinasi new normal Indonesia.

Rencana persiapan tersebut diungkapkan dalam rapat Menparekraf bersama Komisi X DPR, akhir pekan lalu. Menparekraf juga mengatakan, Bali secepatnya akan menerapkan gerakan BISA (bersih, indah, sehat, dan aman) pascapandemi Covid-19.

"Bali akan menjadi destinasi yang memulai gerakan BISA, dengan fokus menghadapi era new normal. Kita tahu, 40% pemasukan pariwisata Indonesia ada di sana,” jelas Menparekraf.

Selain mempersiapkan Bali, Menparekraf juga mengatakan ada 4 langkah yang harus industri pariwisata lakukan demi membangun kepercayaan, jika ingin menarik wisatawan mancanegara (wisman) dan nusantara.

"Saat ini kita kembali ke fondasi prinsip, yakni membangun dan mengembalikan kepercayaan pasar global. Caranya dengan menyiapkan fasilitas kesehatan, meningkatkan higienis, serta protokol keamanan di setiap destinasi,” jelas Whisnutama saat rapat virtual bersama Komisi X DPR, akhir pekan lalu.

Diakui Menparekraf, usaha untuk memulihkan reputasi Indonesia di panggung global tidaklah mudah. Mengingat, saat ini negara-negara lain juga berlomba menarik para wisatawan ke negaranya.

Semisal Hong Kong, belum lama ini giat meningkatkan kebijakan serta prosedur kesehatan demi melindungi warganya dan wisatawan non-Hong Kong yang datang.

Salah satunya dengan mengatur tempat-tempat umum seperti tempat wisata, pertemuan kelompok, dan bisnis katering dengan cara social distancing. Pertemuan kelompok di tempat umum, lebih dari empat orang dilarang.

"Dalam era new normal, pemasaran bukan hanya soal keindahan alam atau tempat destinasi, tetapi juga tempat-tempat yang layak untuk dikunjungi,” terangnya.

Selain mengembalikan kepercayaan, strategi lain yang Menparekraf coba kerahkan adalah pemasaran yang terintegrasi. Pihaknya akan mencoba memberikan akses yang mudah, murah, dan aman bagi konsumen domestik, regional, dan global menuju destinasi nasional unggulan pascapandemi.

Selanjutnya yang tidak kalah penting untuk pariwisata new normal adalah pemulihan usaha dan pekerja, diantaranya menjamin akses modal perbankan yang lebih mudah dan ringan bagi pengusaha yang memiliki cashflow.

Selain itu, demi meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), Kemparekraf juga membuka pelatihan daring bagi para pelaku usaha agar menerima sertifikasi pascapandemi.

"Dengan mengikuti pelatihan, para pekerja pariwisata memiliki nilai tambah, motivasi, semangat, dan etos kerja yang baru,” ungkapnya.



Sumber: BeritaSatu.com