Jalur Rempah Buka Peluang Promosi Budaya Nusantara di Mancanegara

Jalur Rempah Buka Peluang Promosi Budaya Nusantara di Mancanegara
Pengunjung menikmati ornamen-ornamen dalam pameran foto dan rempah "International Forum On Spice Route (IFSR) 2019", di Museum Nasional, Jakarta Selatan. Pameran berlangsung sejak 20-24 Maret 2019. ( Foto: Dina fitri anisa )
Dina Fitri Anisa / IDS Senin, 11 Mei 2020 | 20:36 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Bila di Tiongkok ada Jalur Sutera, maka di Indonesia ada Jalur Rempah. Saat ini Indonesia sedang berjuang agar Jalur Rempah mendapat pengakuan sebagai warisan budaya dunia dari Badan PBB untuk urusan Pendidikan, Sosial, dan Budaya (UNESCO). Ini penting mengingat Jalur Rempah bisa membuka peluang promosi kekayaan nusantara di kancah global.

Pakar kuliner, William Wongso menuturkan, rempah-rempah nusantara saat ini masih menjadi misteri dan tidak banyak diketahui banyak orang. Padahal sebagai negara yang memiliki keragaman alam dan budaya, Indonesia memiliki banyak hal untuk disumbangkan dari khazanah kulinernya.

Dari kacamata kuliner, ia melihat bahwa bahan, bumbu, dan rempah yang digunakan untuk membuat makanan Indonesia memiliki potensi besar untuk menembus pasar internasional. Apalagi, saat ini hegemoni cita rasa Barat tengah memudar.

“Jangan berpikir jauh untuk membuka restoran di luar negeri dan akhirnya bangkrut. Seharusnya masyarakat Indonesia didorong oleh pemerintah membuat inovasi-inovasi yang dapat membawa rempah ini ke kancah global. Salah satunya, membuat bumbu jadi sehingga masyarakat dunia bisa merasakan cita rasa baru di dalam masakan mereka,” jelasnya dalam webinar "Goyang Lidah dengan Rempah", Senin (11/5/2020).

William berkisah, selama dirinya belajar kuliner internasional di Prancis, Jepang, dan lainnya, semua negara melindungi eksistensi kuliner masing-masing. Namun, Indonesia masih santai dan tidak menjaga budaya masakannya. Menurutnya, inilah persoalan dasar yang harus dibenahi jika ingin Jalur Rempah serta kuliner Indonesia bisa berjaya di dunia internasional.

Dalam kesempatan yang sama, sejarawan Fadly Rahman mengatakan, dari masa penjajahan dulu, rempah-rempah tidak hanya dilihat sebagai peristiwa endemik di Indonesia, tetapi juga bagian dari sirkulasi global pertukaran bahan makanan. Untuk itulah, rempah-rempah jadi bagian penting dari sejarah, tradisi, dan identitas bangsa Indonesia yang harus dijaga dan dilestarikan biodiversitas, serta pemanfaatanya.

“Kalau kita lihat, apa yang bisa menggoyang lidah para leluhur dari masa abad rempah-rempah, yaitu karena ada pengaruh pangan dan kuliner lintas benua. Contohnya, kita lihat ada pengharuh pangan India di nusantara, seperti lada, jahe, bawang, dan jinten. Ini adalah tanaman endemik yang disebarluaskan di nusantara,” terangnya.

Sebelum menjadikan Jalur Rempah sebagai warisan dunia, ia berpendapat, masyarakat Indonesia harus terlebih dulu memahami betul bahwa rempah merupakan sarana silang pengetahuan dan budaya.

Karena program edukasi terpadu di sektor pendidikan dan publik terkait pembudidayaan rempah-rempah dan pemanfaatan praktisnya yang masih rendah, maka wahana seperti museum, pameran, seminar, dan diskusi harus digalakkan.

“Peningkatan riset rempah secara lintas keilmuan dan pemberdayaan para petani rempah melalui pengembangan pasar harus ditingkatkan. Kebanyakan masyarakat kita yang dibeli di pasar tidak jauh dari lada, sedangkan cengkeh ataupun pala kalau kita cek di pasar tradisional belum tentu tersedia,” jelasnya.

Strategi terakhir, menurutnya, adalah dengan memberdayakan sektor industri yang ditunjuk untuk menjaga keberlangsungan biodiversitas ekosistem rempah dan kuliner nusantara.

Ekspedisi Jalur Rempah
Meski demikian, tidaklah mudah untuk membangun Jalur Rempah. Diperlukan inovasi dan koordinasi dari berbagai belah pihak. Hal inilah yang mendorong Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menyiapkan program Ekspedisi Jalur Rempah. Ekspedisi ini dimaksudkan untuk menuntaskan misi budaya dari berbagai daerah.

Belum lama ini, Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid mengatakan, rencananya program Ekspedisi Jalur Rempah bakal berlangsung pada Agustus-Oktober 2020. Pihaknya akan berkeliling ke 10 kota di dalam negeri, dan 10 titik di luar negeri dengan menggunakan kapal.

"Segala macam produk, kebiasaan, ekspresi kesenian dan segala macam itu bertukar di dalam jalur itu. Itu yang akan kita angkat sekarang ini," tutur Hilmar.

Harapannya, ketika kapal merapat di satu titik, akan ada kegiatan besar kebudayaan. Kegiatan kebudayaan akan didesain sedemikian rupa untuk menghidupkan kesenian di sepanjang jalur rempah.

Hilmar kemudian memberikan contoh jika titik pertamanya adalah Ternate, Maluku Utara, lalu titik keduanya ada di Selayar, Sulawesi Selatan. Dia menyebut di sanalah akan terjadi pertukaran budaya yang membuat semua pihak menjadi kaya budaya.

"Jalur rempah kan semangat sebetulnya adalah pertukaran pertukaran budaya. Kita jadi Bhinneka Tunggal Ika," jelasnya.



Sumber: BeritaSatu.com