Masyarakat Diajak Menikmati Keindahan Museum secara Virtual

Masyarakat Diajak Menikmati Keindahan Museum secara Virtual
Suasana Taman Fatahillah di depan museum Sejarah Jakarta tampak sepi karena kebijakan penutupan tempat wisata sebagai upaya kewaspadaan penyebaran Covid-19, di Jakarta, belum lama ini. (Foto: Antara Foto)
Dina Fitri Anisa / EAS Senin, 18 Mei 2020 | 22:39 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Perayaan Hari Museum Internasional, Senin (18/5/2020), di tengah suasana pandemi Covid-19 terasa berbeda. Pengelola museum di DKI Jakarta memiliki cara sendiri untuk tetap memeriahkan hari perayaan ini, yaitu dengan menggelar tur museum, diskusi, dan kelas interaktif secara virtual.

Demi mencegah penyebaran virus Covid-19, pembatasan kunjungan ke museum menjadi pilihan yang harus dilakukan. Ketua Asosiasi Museum Indonesia (AMI) DKI Jakarta, Yiyok T Herlambang, mengatakan meski museum secara fisik tutup, tetapi seluruh kegiatan yang selama ini telah direncanakan tetap berjalan.

Untuk itulah, inovasi dan kreativitas dibutuhkan saat pandemi. Salah satunya dengan meningkatkan strategi komunikasi melalui daring. Hal tersebut senada dengan tema perayaan hari museum internasional 2020 yaitu Museum for Equality: Diversity and Inclusion.

"Museum adalah tempat di mana kesetaraan, keberagaman, dan penyertaan. Tema ini mendorong setiap museum untuk menjunjung tinggi pentingnya peran budaya, dan keanekaragaman,” terangnya melalui diskusi virtual di saluran YouTube BudayaSaya, Senin (18/5/2020).

Dengan mengikuti alur perkembangan teknologi yang saat ini melaju pesat, ia berharap geliat museum yang berada di kawasan sentral Indonesia terus tumbuh, terutama di hati kaum milenial dan Z.

"Sebelum pandemi datang, di akhir 2019 kami mendata sekitar 70% kunjungan ke museum itu dipadati generasi milenial. Salah satu museum yang paling digemari adalah di kawasan kota tua dengan jumlah kunjungan menyentuh angka dua juta selama satu tahun,” tuturnya.

Melihat animo yang besar, katanya tahun ini museum-museum di Jakarta pun terdorong untuk berbenah diri mengikuti perkembangan zaman yang ada. Sehingga, stigma museum sebagai tempat yang membosankan dan kaku secara perlahan terkikis.

Beberapa strategi pun ia sebutkan, di antaranya meningkatkan pelayanan kunjungan, mengubah suasana pameran dengan kebaruan seperti memanfaatkan inovasi teknologi yang tengah berkembang di era 4.0 ini.

Tidak hanya sebagai tempat belajar dan berekreasi, museum juga bertransformasi menjadi tempat bergaul yang asik. Di mana para komunitas dan juga masyarakat umum bisa membuat kegiatan-kegiatan yang nantinya akan menghidupkan suasana di museum.



Sumber: BeritaSatu.com