Akibat Covid-19, Agen Perjalanan Wisata Rugi Rp 15 Triliun

Akibat Covid-19, Agen Perjalanan Wisata Rugi Rp 15 Triliun
Sejumlah wisatawan mancanegara turun dari kapal Pesiar MV Boudicca untuk berwisata di pulau Komodo, Manggarai Barat, NTT, Selasa, 20 Januari 2020. Kapal pesiar yang berada di kawasan TNK selama tiga hari itu membawa kurang lebih 400 wisatawan asal Eropa yang ingin menikmati keindahan alam di kawasan itu serta melihat secara langsung Komodo (Varanus Komodoensis) yang ada di Pulau Komodo dan Pulau Rinca. (Foto: ANTARA FOTO/Kornelis Kaha)
Dina Fitri Anisa / EAS Kamis, 28 Mei 2020 | 22:28 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Selama pandemi Covid-19, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mengakui Indonesia berpotensi kehilangan wisatawan mancanegara (wisman) sampai 4 juta orang. Kendati demikian, ia masih menunggu laporan resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang masih menghitung potensi kerugian atau kehilangan wisatawan selama masa pandemi.

"Kalau kita lihat, biasanya per bulan itu wisman bisa mencapai 1,3-1,4 juta orang ke Indonesia. Kalau dihitung-hitung secara sederhana saja, mungkin kita kehilangan potensi sampai 4 juta,” katanya.

Tidak hanya kehilangan wisman, selama pandemi Covid-19 industri perjalanan wisata juga rugi sampai Rp 15 triliun pada Mei-Juni 2020. Sekretaris Jenderal Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo), Pauline Suharno, kepada Beritasatu.com, Kamis (28/5/2020) mengatakan, nasib para pelaku pariwisata khususnya agen perjalanan belum menemui titik terang. Pengusaha agen perjalanan ditafsir kehilangan pendapatan mencapai belasan triliun rupiah.

"Sebelum Covid-19, bulan-bulan ini adalah peak season karena musim libur Lebaran dan libur sekolah,” terang Pauline.

Demi mengurangi risiko kerugian, para pemilik agen perjalanan akhirnya memutuskan menutup kantor sementara waktu agar tidak menambah beban biaya operasional.

Dilema pandemi semakin berat mengingat realisasi insentif untuk para pariwisata belum terlihat dampaknya secara langsung. Semisal keringanan pajak, karena dampaknya akan terasa setelah waktu pembayaran pajak berlangsung.

Sedangkan, janji untuk meringankan relaksasi bunga cicilan bank belum terlihat implementasinya. Pihak bank hingga saat ini belum mengantongi peraturan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan juga Bank Indonesia. Alhasil, pihak bank juga sampai saat ini belum bisa memberikan keringanan terhadap pelaku usaha.

Dengan segala tantangan yang harus dihadapi ini, Astindo berupaya melakukan berbagai cara untuk mendorong para pelaku agen perjalanan untuk tetap bertahan. Salah satunya bekerja sama untuk melakukan aksi solidaritas dengan memberikan bantuan sembako kepada para pekerja yang dirumahkan.



Sumber: BeritaSatu.com