Asuransi Jadi Kebutuhan Utama di Era Normal Baru

Asuransi Jadi Kebutuhan Utama di Era Normal Baru
Ilustrasi asuransi.
Indah Handayani / FER Kamis, 11 Juni 2020 | 20:47 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pandemi Covid-19 membuat sebagian besar masyarakat mengalami kecemasan. Terlebih, kondisi yang semakin tidak menentu di masa depan, terutama pada masalah kesehatan dan keuangan. Hal ini membuat masyarakat membutuhkan proteksi untuk kedua masalah tersebut, yaitu dengan asuransi.

Baca Juga: Pentingnya Memiliki Asuransi Kendaraan

Pakar marketing, Yuswohady menjelaskaan, studi terbaru dari Unversitas Harvard menyebutkan, penerapan social distancing perlu dilakukan setidaknya hingga 2022 mendatang. Di periode ini, kondisi ekonomi diperkirakan belum akan stabil.

"Artinya, masyarakat akan terus diliputi kecemasan dan kekhawatiran, mulai dari khawatir terpapar virus, khawatir terjadi risiko pada kehidupannya, khawatir krisis ekonomi, khawatir kehilangan pekerjaan, dan khawatir stabilitas ekonomi terguncang. Kesadaran dan kebutuhan akan perlindungan asuransi pun menjadi sebuah kewajaran," ujar Yuswohady di acara virtual press launch Sun Connect, Kamis (11/6/2020).

Menurut Yuswohady, sejalan dengan 100 prediksi New Normal Life After Covid-19, asuransi menjadi kebutuhan yang tak terelakan di tengah masyarakat saat memasuki tatanan kenormalan baru atau new normal. Mengingat, masyarakat kembali lagi pada kebutuhan dasar, yaitu kesehatan dan keselamatan.

"Dalam situasi seperti saat ini, banyak resiko yang bisa terjadi mendadak atau tanpa prediksi sebelumnya yang berpotensi terjadi pada setiap keluarga. Misalnya, terjangkit Covid-19 sehingga membutuhkan biaya yang besar dalam perawatannya ataupun kematian," jelasnya.

Baca Juga: Tips Memilih Asuransi agar Terlindungi saat Pandemi

Yuswohady mengatakan, peran asuransi yang sangat dibutuhkan dan masyarakat mulai menyadari dan menjadikannya sebagai kebutuhan utama yang tidak terelakan. "Untuk itu, saya memprediksi pandemi ini akan menjadi katalis bagi industri asuransi di Indonesia untuk meningkat,” papar Yuswohady.

Namun, Yuswohady menambahkan, di sisi lain sangat dibutuhkan inovasi dan kesiapan dari pihak industri untuk mampu memenuhi kebutuhan tersebut, sekaligus menghadirkan cara berasuransi baru, dengan mengutamakan keamanan dan kenyamanan nasabah dan para tenaga pemasar.

"Sebuah transformasi model bisnis berbasis digital, yang mampu mendukung produktivitas, sekaligus selaras dengan perubahan kebutuhan dan perilaku konsumen yang ada saat ini," jelas Yuswohady.

Baca Juga: Keluarga Berperan Ciptakan Generasi Sadar Inklusivitas

Chief Marketing Officer Sun Life Indonesia, Shierly Ge menjelaskan, selama pandemi berlangsung, produk asuransi yang menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia adalah produk tradisional seperti kesehatan dan jiwa. Hal ini mengingat kedua hal ini menjadi risiko yang sudah didepan mata dihadapi masyarakat. Bahkan, jumlah penambahan polis maupun nasabah baru untuk produk tradisional tersebut mengalami peningkatan sebesar 3,7 persen dalam beberapa bulan belakangan ini.

“Pandemi yang masih terus berlangsung hingga saat sekarang, telah mengubah peradaban, dari kultur lama menuju era baru yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Tak ayal, kebutuhan akan proteksi termasuk asuransi di tengah masyarakat kian penting,” jelasnya.

Shierly menambahkan di era pandemi ini masyarakat juga membutuhkan layanan proteksi berbasis teknologi, bukan hanya pada nasabah yang telah ada, tapi juga pada nasabah baru. Untuk itu, Sun Connect hadir memberikan pengalaman baru dalam berasuransi, mendekatkan yang jauh, di mana jarak tidak lagi menjadi hambatan dengan mengutamakan prinsip keamanan, kenyamanan dan kemudahan, khususnya bagi nasabah dan para tenaga pemasar.

Baca Juga: Sun Life Ajak Generasi Muda Investasi Kesehatan

"Inisiatif ini sejalan dengan kebijakan Otoritas Jasa Keuangan mengenai tata cara baru penjualan unit link atau produk asuransi yang memungkinkan penjualan produk unit link secara virtual, atau melalui digital,” tutupnya.



Sumber: BeritaSatu.com