Industri Pariwisata Membuka Diri dengan Protokol CHS

Industri Pariwisata Membuka Diri dengan Protokol CHS
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio, mengecek protokol kesehatan di beberapa hotel dan kawasan wisata, belum lama ini. (Foto: Humas Kemparekraf)
Dina Fitri Anisa / EAS Senin, 6 Juli 2020 | 23:37 WIB

Jakarta, Beritasatu.com -  Secara bertahap, industri pariwisata Indonesia mulai membuka diri untuk menerima kunjungan wisatawan. Demi menyiapkan destinasi yang lebih baik sesuai dengan standardisasi kebutuhan wisatawan dan menerapkan kedisiplin bagi masyarakat, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemparekraf) gencar menyosialisasikan protokol kesehatan yang dikemas dalam program cleanliness, health and safety (CHS).

Staf Ahli Bidang Pengembangan Berkelanjutan dan Konservasi Kemparekraf, Frans Teguh mengungkapkan, sebelum adanya pandemi Covid-19, faktor CHS di industri masih rendah dibandingkan negara lain. Namun, situasi pandemi justru memaksa untuk membenahi persoalan ini, jika industri pariwisata ingin segera pulih.

"Sebelumnya aspek CHS masih sangat rendah dibandingkan dengan negara lain. Karena pandemi mau tak mau, kita harus memastikan betul-betul bahwa destinasi bersih, aman, sehat dan memperhatikan aspek lingkungan,” terang Frans Teguh dalam webinar bertajuk “Government Round Table Covid-19: New, Next, Post-Strategi dan Program Clean, Health and Safety (CHS) Destinasi Pariwisata Pascapandemi, Senin (6/7/2020).

Frans menambahkan bahwa tidak hanya faktor kebersihan, kesehatan dan keamanan saja yang mesti diperhatikan di masa pandemi. Industri yang ramah lingkungan juga perlu diperhatikan demi kelanjutan pariwisata nantinya.

"Pada masa new normal atau next normal di pariwisata ada satu hal lagi yang kita tambahkan yaitu environment, faktor ramah lingkungan. Kita perlu membangun keseimbangan baru untuk menghindari gelombang pandemi kedua dan menimbulkan rasa aman untuk wisatawan berlibur di new normal. Inilah tantangan ke depannya yang akan kita lewati bersama," jelas Frans.

Adapun langkah dalam penerapan CHS dalam pariwisata yaitu membuat video edukasi dan handbook yang ditujukan kepada pelaku usaha pariwisata.

Selanjutnya simulasi penerapan CHS, sosialisasi dan publikasi kepada masyarakat baik domestik maupun internasional. Kemudian barulah di tahap akhir, melakukan uji coba kepada destinasi yang diyakini siap menerima wisatawan di new normal.



Sumber: BeritaSatu.com