Pelaku Industri Pariwisata Bersiap Sambut Wisnus

Pelaku Industri Pariwisata Bersiap Sambut Wisnus
Seorang petugas berjalan di dekat seekor kera ekor panjang (Macaca fascicularis) di Monkey Forest Ubud, Gianyar, Bali, Sabtu 25 Juli 2020. Meski berbagai objek wisata di Pulau Dewatatelah dibuka, namun pengelola Monkey Forest Ubud belum membuka kunjungan bagi wisatawan untuk mencegah pandemi Covid-19. (Foto: Antara Foto)
Elvira Anna Siahaan / Dina Fitri Anisa / EAS Selasa, 28 Juli 2020 | 07:55 WIB

Jakarta, Beritasatu.com -  Pada masa adaptasi kebiasaan baru ini, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemparekraf) rutin melakukan simulasi uji coba pembukaan objek wisata, desa wisata, rumah makan, guest house, dan hotel. Simulasi uji coba dilakukan dengan penerapan protokol kesehatan demi menyambut wisatawan nusantara (wisnus) pada Agustus 2020, dan wisatawan mancanegara (wisman) pada September 2020.

Rencananya, daerah pariwisata percontohan yang diprediksi siap menerima wisnus adalah Bali dan Yogyakarta. Hal tersebut berkaca dari kesiapan Bali melayani wisatawan lokal (masyarakat Bali) sejak 9 Juli 2020 silam.

Kesiapan Bali menyambut wisnus juga diamini oleh Gilda Sagrado, perwakilan dari Sekretariat Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Bali. Saat dihubungi Suara Pembaruan, via telepon, Senin (27/7/2020), Gilda mengatakan Bali siap menyambut wisnus dengan protokol kesehatan yang ketat dan diskon khusus di hotel dan restoran.

"Kondisi di Bali sejauh ini masih terbantu dengan adanya ratusan wisatawan asing yang tidak bisa kembali ke negaranya di awal Maret 2020 lalu. Peran wisatawan lokal juga membantu menghidupkan roda ekonomi pariwisata di Bali,” kata Gilda.

Tercatat, sejak Januari-Maret jumlah wisman ke Bali menurun dratis. Bahkan lebih menohok lagi pada Mei 2020 yang hanya mendapat kunjungan 4 orang wisatawan ke Bali.

Akibat pandemi Covid-19, diakui Gilda membuat banyak pelaku pariwisata, khususnya hotel terpuruk sekaligus semakin kreatif. Demi mendapatkan pemasukan agar operasional hotel berjalan, sejak April hingga saat ini hotel memberikan diskon khusus untuk tamu. Semisal untuk bisa berenang dan makan di hotel berbintang hanya perlu mengeluarkan Rp 200.000 saja.

"Kami di sini putar otak agar roda ekonomi tetap jalan. Selain diskon khusus, para chef hotel boleh menerima pesanan kue-kue secara online. Sebab, kalau hanya mengandalkan menjual kamar hotel, tidak mungkin. Wisatawan lokal Bali sangat jarang menginap di hotel, kebanyakan hanya ingin makan dan berenang saja,” kata Gilda.

Harapan Gilda, pemerintah bisa membantu pariwisata Bali untuk bangkit dan siap menerima wisman pada September 2020 mendatang. Dipastikan Gilda, semua industri pariwisata di Bali siap menjalankan protokol kesehatan demi mencegah penularan Covid-19.

"Kami ikuti semua anjuran pemerintah untuk menjalankan protokol kesehatan. Harapan kami, roda ekonomi berputar kembali dan 90.000 kamar hotel di Bali bisa terisi kembali,” katanya.



Sumber: BeritaSatu.com