Menhan: Upaya Pengantian Ideologi Sebagai Bentuk Perang Modern

Menhan: Upaya Pengantian Ideologi Sebagai Bentuk Perang Modern
Ryamizard Ryacudu ( Foto: ANTARA. / Hendra Nurdiyansyah )
Robertus Wardi / FMB Rabu, 8 Mei 2019 | 15:40 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu mengemukakan jenis perang modern di era sekarang adalah upaya menggantikan ideologi. Indonesia tidak boleh lengah terhadap hal ini karena perang sekarang bukan lagi angkat senjata atau meriam tetapi mengubah paham negara yang ada saat ini yaitu Pancasila.

"Ini suatu metode perang yang relatif murah meriah, karena tanpa mengeluarkan satu letusan peluru pun, pihak musuh sudah dapat menghancurkan pilar dan sendi-sendi dasar kehidupan berbangsa," kata Ryamizard dalam simposium bertema Ancaman Perang Mindset pada Era Keterbukaan Informasi di Kementerian Pertahanan, Jakarta, Rabu (8/5/2019).

Ia memberi contoh beberapa negara yang hancur karena idelogi dan simbol persatuannya telah rusak oleh pengaruh Ideologi lain. Misalnya Yugoslavia, Uni Soviet, Kroasia, Serbia, Suriah dan sejumlah negara lain di Timur Tengah. Pada negara-negara ini, rakyatnya telah kehilangan rasa cinta kepada negaranya sehingga mengungsi ke tempat lain.

Menurutnya, setiap negara memiliki konsep ideologinya masing-masing sebagai simbol pemersatu. Misalnya komunisme untuk Tiongkok dan Korea Utara, liberalisme untuk Amerika, monarki atau kerajaan untuk Inggris dan syariah Islam yang berbasis wahabisme untuk Arab Saudi dan beberapa negara di Timur Tengah.

"Di Indonesia, ideologi-ideologi dari negara itu tidak boleh ada. Kita tidak ingin di kemudian hari Indonesia mengalami keruntuhan dan perpecahan yang pada akhirnya nama Indonesia hanya tinggal kenangan dan sejarah. Indonesia memiliki ideologi yang sudah final yaitu Pancasila. Tidak boleh ada kelompok-kelompok ‎yang ingin menggantikan ini," tegas mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat ini.

Dia meminta masyarakat Indonesia agar tidak mudah dipengaruhi dan terprovokasi oleh pemikiran-pemikiran bersifat materialis yang hendak menghancurkan idologi Pancasila. Pancasila adalah kesepekatan bersama para pendiri bangsa yang menjamin semua unsur dan identitas ada di negara ini.

‎"Saat ini, kita menghadapi ancaman ideologi khilafah. Ideologi ini yang terang-terangan mau mengganti Pancasila," ujarnya.

Dia menambahkan perang moderen seperti ini akan terus mempengaruhi hati dan pikiran rakyat. Tujuannya untuk membelokkan pemahaman terhadap ideologi negara. Metode operasional perang ini dilakukan melalui Infiltrasi ke dalam dimensi intelijen, militer, pendidikan, ekonomi, ideologi, politik, sosial budaya/kultur dan agama, bantuan-bantuan, kerja sama berbagai bidang dan media/informasi.

Setelah infiltrasi berhasil, dilanjutkan dengan mengeksploitasi dan melemahkan center of gravity kekuatan suatu negara melalui politik adu domba untuk timbulkan kekacauan/kekerasan, konflik horisontal (SARA), memunculkan keinginan untuk memisahkan diri atau separatisme dimulai dengan eskalasi pemberontakan pada akhirnya terjadi pertikaian antar anak bangsa/perang saudara.

"Guna menghadapi ini kita harus mengedepankan aktualisasi dan pemurnian implementasi nilai-nilai Pancasila sebagai basis kekuatan Ideologi bangsa dan negara," tutup Ryamizard.



Sumber: Suara Pembaruan