Militer Perlu Beradaptasi dengan Revolusi Industri 4.0

Militer Perlu Beradaptasi dengan Revolusi Industri 4.0
Komandan Sekolah Staf dan Komando TNI Angkatan Laut (Danseskoal) Laksamana Muda Amarulla Octavian. ( Foto: Suara Pembaruan / Bhakti Hariani )
Bhakti Hariani / AO Senin, 13 Mei 2019 | 13:31 WIB

Depok, Beritasatu.com - Globalisasi memiliki dampak perubahan sikap, tata nilai, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta tingkat kehidupan yang lebih baik. Globalisasi di era Revolusi Industri 4.0 juga menyebabkan terjadinya revolutionary in military affairs (RMA) yang berimplikasi pada perubahan strategi perang dan taktik tempur dalam dunia militer.

Komandan Sekolah Staf dan Komando TNI Angkatan Laut (Danseskoal) Laksamana Muda Amarulla Octavian mengatakan, pengggunaan teknologi sistem deteksi dan persenjataan modern menuntut kompetensi akademik dan keterampilan yang tinggi pada prajurit yang mengawakinya.

Perubahan teknologi yang drastis dan cepat, yang muncul pada era Revolusi Industri 4.0, memaksa militer beradaptasi lebih cepat dan berevolusi melakukan perubahan besar. Octavian menuturkan, hal ini membuat kondisi yang berhadapan dengan dinamika lingkungan strategis dan perubahan geopolitik.

"Kemampuan militer harus dikembangkan dengan berbasis teknologi digital, big data, dan artificial intelligence untuk menghadapi peluang dan tantangan era Revolusi Industri 4.0," ujar Laksda Octavian saat memberikan kuliah umum sosiologi militer bertema "Militer dan Globalisasi di Era Revolusi Industri 4.0" di Auditorium Juwono Sudarsono FISIP UI, Kota Depok, Jawa Barat, Senin (13/5/2019).

Lebih lanjut, Octavian memaparkan, organisasi militer di era Revolusi Industri 4.0 membutuhkan model leadership agility yang penuh inovasi ketika terjadi perubahan dan tidak akan berdiam diri membiarkan organisasinya tergulung dalam arus perubahan.

Guna meningkatkan kompetensi dan kapasitas para perwira dalam menguasai teknologi persenjataan untuk memperkuat sumber daya manusia (SDM), maka Kementerian Pertahanan bersama Mabes TNI dan Mabes TNI AL telah mengirim perwira-perwira terbaik mereka untuk belajar melanjutkan studi S2 dan S3 di Rusia dan beberapa negara lainnya.

"Kami perkuat basis dan kumpulkan prajurit prajurit TNI yang memiliki IQ tinggi dan kami kirim ke Rusia. Terlebih, kami memiliki banyak pesawat Sukhoi yang asalnya dari Rusia. Tentunya, kita harus menguasai bahasa Rusia agar bisa menguasai perangkat teknologinya," tutur Octavian.

TNI Angkatan Laut, lanjut Octavian, harus melakukan perubahan dengan melakukan peningkatan kualitas personel yang mampu mengelaborasi ilmu pengetahuan dan penguasaan teknologi informasi. Dengan demikian, prajurit TNI AL dapat menyesuaikan perkembangan lingkungan strategis global. Interaksi dan tradisi cara berpikir prajurit TNI AL juga ikut berubah mengikuti perkembangan sains dan produk teknologi menjadi informatif dan tangkas.

"TNI AL memerlukan pemimpin yang tangkas, yang mampu berpikir dan bertindak lebih cepat mengantisipasi perubahan dampak globalisasi pada era Revolusi Industri 4.0. Karakter pemimpin TNI AL yang memiliki kapabilitas dan berkontribusi untuk mengandalkan satuan kerja serta memiliki motivasi kuat untuk belajar menguasai dan memanfaatkan sistem kerja organisasi TNI AL menuju Navy 4.0, yang efektif dan produktif," kata Octavian.



Sumber: Suara Pembaruan