Bangsa Indonesia Bangga terhadap Polri dan TNI

Bangsa Indonesia Bangga terhadap Polri dan TNI
Dr iur Liona Nanang Supriatna SH Mhum, Dosen Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan yang juga Peserta PPRA Lemhannas RI Angkatan 58
Asni Ovier / AO Kamis, 23 Mei 2019 | 16:40 WIB

Bandung, Beritasatu.com - Kerusuhan dalam aksi 22 Mei setelah pengumuman hasil Pemilu 2019 untuk menolak hasil ketetapan Komisi Pemilihan Umum (KPU) terkait pemilihan presiden menimbulkan kecemasan yang luar biasa akan terjadinya keadaan chaos, tidak hanya bagi warga Jakarta, melainkan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dampak kerusuhan tersebut selain berakibat langsung atas terganggunya keamanan dan ketertiban dalam masyarakat Indonesia juga dapat berdampak negatif terhadap perekonomian dalam negeri, bahkan terhadap dunia perdagangan Indonesia, muculnya sentimen negatif, sehingga dapat menjadi ancaman bagi laju Indeks Harga Saham Gabungan.

Namun, hal ini dapat ditanggulangi berkat kesigapan aparat Polri dan TNI untuk menanggulangi kerusuhan tersebut tidak meluas (masif). Hal itu dikatakan dosen Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan Bandung, Jawa Barat, Liona Nanang Supriatna dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (23/5/2019).

Liona yang juga Presiden Bandung Lawyer Club Indonesia itu mengatakan, Polri bersama TNI telah bekerja keras bahu membahu meredam kerusuhan tersebut agar tidak meluas. "Kedua institusi abdi negara ini sebenarnya secara hukum diberi kewenangan untuk melakukan tindakan keras bahkan menggunakan peluru tajam, namun mereka ternyata tidak seorang pun yang dibekali atau diberikan peluru tajam, hanya peluru karet dan gas air mata. Namun demikian, Polri dan TNI memiliki kesabaran yang sangat luar biasa untuk menghadapi demonstrasi yang berujung rusuh tersebut," ujarnya.

Liona yang juga Alumni PPRA Lemhannas itu menegaskan, UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang Polri menegaskan, Polri melaksanakan tugas penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat, yang bertujuan untuk mewujudkan keamanan dalam negeri yang meliputi terpeliharanya keamanan dan ketertiban masyarakat, tertib dan tegaknya hukum, terselenggaranya perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat, serta terbinanya ketentraman masyarakat dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia.

Namun, berdasarkan Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar Hak Asasi Manusia dalam Penyelenggaraan Tugas Polri serta dalam Peraturan Kapolri Nomor 1 tahun 2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian, apabila menghadapi perusuh yang mengancam nyawa manusia, menghadapi keadaan yang luar biasa, membela diri terhadap ancaman kematian dan atau luka berat, mencegah terjadinya kejahatan berat yang mengancam jiwa manusia lainnya, jika tidak memiliki alternatif lain yang beralasan dan masuk akal penggunaan senjata api dapat dibenarkan demi perlindungan hak asasi manusia itu sendiri.

"Kenyataannya, dalam menghalau aksi 22 Mei itu, aparat Polri dan TNI tidak menggunakan itu," ujarnya. Untuk itu, Liona menegaskan bahwa bangsa Indonesia patut bangga memiliki Polri dan TNI yang telah mengedepankan pendekatan persuasif kepada para demonstran dengan menekan emosi sedemikian rupa, sehingga tidak terprovokasi oleh perilaku para perusuh.

Aparat Polri dan TNI rela menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat dengan mengorbankan kepentingan diri dan keluarganya, tentu dunia pun mengakui sikap dan tindakan Polri dan TNI dalam menangani kerusuhan dengan damai. "Semoga Polri dan TNI yang sedang bertugas diberikan kesabaran dan kesehatan di tengah-tengah teriknya udara Jakarta bahkan sekaligus menjalankan ibadah puasa. Bravo Polri dan TNI," ujar Liona.



Sumber: Suara Pembaruan