Menhan: Indo Pasifik Berpeluang Jadi Tatanan Dunia Maju

Menhan: Indo Pasifik Berpeluang Jadi Tatanan Dunia Maju
Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu ( Foto: Suara Pembaruan / Ruht Semiono )
Robertus Wardi / FER Senin, 8 Juli 2019 | 19:39 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Pertahanan (Menhan), Ryamizard Ryacudu, mengemukakan kawasan Indo Pasifik berpeluang menjadi terbentuknya tatanan dunia yang maju, sejahtera dan aman. Namun, peluang itu bergantung bagaimana negara-negara di Indo Pasifik sendiri.

"Sebesar 40 persen ekonomi di dunia atau US$ 5,8 triliun mengalir atau berputar di kawasan Indo Pasifik dengan kekayaan alam dunia yang melimpah. Karena itu, Indo Pasifik akan senantiasa menjadi sentra gravity, geo politik dan geo ekonomi dunia,” kata Ryamizard dalam acara Indonesia International Defense Sciende Seminar (IIDSS) di Jakarta, Senin (8/7/2019).

Menhan menjelaskan dengan letaknya yang strategis maka Indo Pasifik terus dijadikan sebagai ajang perebutan pengaruh dengan menggunakan berbagai macam cara. Ada perebutan ideologi dan ekonomi yang cukup menonjol saat ini.

Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat ini mengemukakan tiap-tiap negara memiliki kepentingan strategisnya masing-masing. Kepentingan itu berupa mensejahterakan rakyat dan menciptakan rasa aman serta terus melakukan pembangunan demi kemajuan bangsanya.

"Kesamaan ini merupakan peluang untuk seluruh negara mengambil manfaat dari kekuatan Indo Pasifik ini. Caranya dengan membangun suatu tatanan dunia yang baru yang lebih mengarah kepada pembentukan kesejahteraan dan keamanan dunia yang lebih mengedepankan kekuatan hati dan meninggalkan atau mengurangi ego sektoral atau egonya masing-masing,” tuturnya.

Menurut Ryamizard, banyak kesamaan yang akan menjadikan peluang Indo Pasifik untuk menjadi suatu kekuatan. Diantaranya, disatukan nilai-nilai saling menghormati perbedaan, nilai-nilai ketulusan dan nilai-nilai yang didasarkan atas kebaikan keterbukaan serta melepaskan ego sektoral.

"Ini peluang kita untuk bersatu,” tutup Ryamizard.

 



Sumber: Suara Pembaruan