Try Sutrisno: Perang Siber Ancaman Nyata Saat Ini

Try Sutrisno: Perang Siber Ancaman Nyata Saat Ini
Mantan Wakil Presiden Try Sutrisno memberi penjelasan pada diskusi Aliansi Kebangsaan, di Jakarta, Jumat (7/10) ( Foto: Suara Pembaruan / Alexander Madji )
Robertus Wardi / YUD Selasa, 9 Juli 2019 | 17:49 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Wakil Presiden (Wapres) ke-6 Indonesia, Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno mengemukakan perang tidak berwujud seperti cyber war (perang siber) sebagai ancaman saat ini. Semua pihak, khususnya TNI dan Polri harus mengantisipasi ancaman nyata tersebut.

‎"Spektrum keamanan sudah complicated. Perang sekarang bukan cuma konvensional, tapi diperkuat dengan kemajuan teknologi. Diciptakan perang tak berwujud atau cyber war," kata Try saat menghadiri

simposium bertema "Penataan Wilayah Pertahanan dalam rangka Mewujudkan Pertahanan Negara Yang Tanggih" di Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, Selasa (9/7/2019).

Ia menjelaskan‎ basis perang siber adalah kekuatan teknologi dan elektromagnetik. Perang jenis tersebut tidak terjadi secara fisik di dunia nyata, melainkan di dunia maya. Namun daya rusak dari perang tersebut lebih luas ketimbang perang fisik.

‎"Perang modern ini yang akan kita songsong. Diantaranya melalui kekuatan ekstim agama yang dimasukkan ke Indonesia untuk menimbulkan permusuhan," tegas Try.

Sementara Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu yang membuka acara tersebut mengimbau masyarakat bergabung dalam program Bela Negara. Program itu sebagai konsep perang semesta dengan basis kekuatan rakyat.

"Itu (bela negara) total warfare. Masalah teroris, perang siber dan lain-lain harus bersama-sama seluruh rakyat," kata Ryamizard.

Ia menjelaskan‎ Kemhan telah mendesain strategi pertahanan negara 'smart power' yang berbasis perang semesta atau total warfare. Konsep pertahanan ini merupakan kombinasi antara pembangunan kekuatan hard power dan kekuatan soft power.
Kekuatan hard power terdiri dari kekuatan rakyat plus kesiapan ops TNI atau alutsista. Sedangkan kekuatan soft power terdiri dari mindset dan diplomasi pertahanan kawasan.

"‎Ini untuk mengantisipasi tiga dimensi ancaman, yaitu ancaman fisik yang nyata dan belum nyata, serta ancaman non fisik yang dapat mengancam ideologi negara," jelas Ryamizard.



Sumber: Suara Pembaruan