Hendropriyono: Wacana Referendum Upaya Sesat

Hendropriyono: Wacana Referendum Upaya Sesat
Ketua Dewan Kehormatan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) AM Hendropriyono saat memberikan paparn pada acara Forum Patriotik untuk Papua dan Papua Barat di Jakarta, Kamis (5/9/2019). ( Foto: Suara Pembaruan / Ruht Semiono )
Yustinus Paat / YUD Kamis, 5 September 2019 | 19:08 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Abdullah Mahmud Hendropriyono menegaskan bahwa tidak ada lagi istilah referendum untuk masyarakat Papua. Menurut Hendropriyono, referendum hanya bisa dilakukan di negara-negara yang belum berdaulat.

Menurut Hendropriyono, wacana referendum di Papua sekarang merupakan upaya penyesatan dan pembodohan masyarakat Indonesia. Menurut dia, wacana ini digulirkan untuk memecahbelah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang jelas-jelas berdaulat.

"Referendum apalagi, itu artinya penyesatan kepada orang-orang yang belum mengerti. Makanya lawan itu ini pembodohan, nggak ada cerita referendum untuk negara berdaulat," tegas Hendropriyono, Kamis (5/9/2019).

"Referendum itu hanya berlaku di negara-negara yang belum berdaulat. Waktu perang dunia kedua ada konsep self determination bagi negara-negara kolonial," ujar Hendropriyono di acara Forum Patriotik PKPI untuk Papua dan Papua Barat di Jakarta Selatan.

Indonesia, kata Hendropriyono merupakan negara yang berdaulat dan sudah memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Sementara Papua, yang dulu namanya Irian Jaya, tutur dia, sudah berdaulat dan masuk menjadi bagian dari Indonesia melalui Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada 2 Agustus 1969 silam.

"PBB (perserikatan Bangsa-Bangsa) itu sudah membuat satu Pepera yang sudah resmi diakui dan didukung Papua gabung ke Indonesia," ungkap Ketua Dewan Kehormatan PKPI ini.

Hendropriyono pun berpesan kepada masyarakat Indonesia, khusus saudara-saudara di tanah Papua agar tidak termakan oleh isu referendum yang dihembuskan selama ini. Dia menilai isu tersebut dimainkan oleh para pengkhianat yang menginginkan rakyat Indonesia tidak aman dan tidak sejahtera.

"Karena itu, mari kita semua bersatu dan bergandengan tangan untuk melawan para pengkhianat bangsa yang melancarkan serangan dengan berbagai isu termasuk referendum untuk merusak NKRI," pungkas dia.



Sumber: BeritaSatu.com