Keterkaitan JAD-ISIS dengan Rusuh Papua Didalami

Keterkaitan JAD-ISIS dengan Rusuh Papua Didalami
Karo Penmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo merilis penangkapan legenda Jamaah Islamiah Para Wijayanto yang diyakini merupakan amir atau pimpinan sel teror Jamaah Islamiah (JI) sejak 2007 di Mabes Polri pada hari ini, Senin (1/7/2019). ( Foto: Beritasatu.com / Farouk Arnaz )
Farouk Arnaz / YUD Jumat, 6 September 2019 | 15:47 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Kepolisian angkat bicara mengenai adanya jaringan Jamaah Anshoru Daulah (JAD) yang pro ISIS di Papua. Mereka sudah terdeteksi kurang lebih sekitar dua tahun belakangan ini di sana namun baru aktif kurang lebih satu tahun belakangan ini.

“Salah satu yang sudah dilakukan adalah upaya penegakan hukum oleh Densus 88 saat mereka (hendak) melakukan pengeboman Polres Manokwari tapi berhasil diamankan. Mereka ada di Jayapura, Wamena, Fakfak, Manokwari, dan Merauke,” kata Karo Penmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jumat (6/9/2019).

Mereka melakukan rekrutmen, penguasaan wilayah, dan melakukan amaliah dengan sasaran anggota kepolisian.

“Keterkaitannya dengan kerusuhan kemarin juga masih didalami juga, nanti dari Densus akan melihat apakah ada fakta hukum keterkaitannya terkait masalah itu,” sambungnya.

Salah satu pelaku teror yang bermain di Papua adalah Solihin yang dibekuk di Bekasi pada Mei lalu. Solihin adalah anggota kelompok JAD Lampung yang punya struktur dan sangat kuat. Mereka ini telah berbaiat dengan kelompok JAD di bawah kendali Amman Abdurahman sejak 2014 yang lalu.

Pascapeledakan 14 Januari 2016 di Jakarta, yang dikenal dengan Bom Thamrin, Solihin melarikan diri dengan kelompoknya. Namun dalam pelarian itu dia terus “bermain” dalam sejumlah peristiwa teror termasuk pada 2017 saat terjadi kerusuhan di Mako Brimob, Kelapa Dua.

Solihin dari Lampung datang ke Jakarta untuk melakukan aksi amaliah. Saat itu beberapa orang berhasil ditangkap oleh Densus. Dari sini Solihin lari ke Papua dan latihan di sana lalu membentuk dua sel.

Satu kelompok ke Bekasi pada awal 2019 dan kelompok kedua akan ke Poso. Jejak Solihin baru diketahui saat penangkapan RH dan M seusai mereka turun dari kapal pada 2 Mei 2019 di Bitung, Sulawesi Utara.

RH dan M inilah jaringan kedua SL yang berencana hendak bergabung dengan jaringan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang dipimpin oleh Ali Kalora di Poso. Solihin alias Abu Faiza lalu dibekuk pada Sabtu di Pondok Ungu, Bekasi.



Sumber: BeritaSatu.com