Pengamat: TNI Jangan Ditarik ke Ranah Politik

Pengamat: TNI Jangan Ditarik ke Ranah Politik
Ilustrasi prajurit TNI. ( Foto: Antara )
Robertus Wardi / WBP Sabtu, 5 Oktober 2019 | 11:25 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pengamat militer dari Expert and Security Law and Human Right Office Mukti Makarim mengemukakan tantangan TNI ke depan adalah ditarik ke ranah politik. Upaya tersebut terus dilakukan hingga saat ini.

"Memang tidak total seperti zaman Orde Baru yang membawa TNI benar-benar masuk ranah politik. Sejak reformasi 1998, hampir sudah tidak ada, tetapi tetap saja ada upaya ke arah itu," kata Makarim di Jakarta, Sabtu (5/10/2019) memberikan refleksi perayaan HUT ke-74 TNI.

Dia menegaskan pihak yang menarik TNI ke politik bisa dari internal dan eksternal. Dari internal, dilakukan oleh jenderal-jenderal yang punya ambisi kekuasaan dan politik. Dengan jabatan yang mereka pegang di TNI, membawa institusi tersebut dekat atau cenderung mendukung partai atau figur politik tertentu.

Presiden: Rakyat Bangga TNI di Garis Depan Menjaga NKRI

Sementara dari eksternal adalah kalangan politisi yang memanfaatkan TNI. Mereka menganggap figur TNI bisa mendongkrak suara. "Tantangan yang paling berat dari luar terutama politisi. Manuver politisi membuat TNI tidak bisa profesional karena terus dirayu dan diseret ke panggung politik," jelas Makarim.

Presiden: TNI Bangun 4 Pangkalan Militer Baru

Dia tidak setuju dengan pandangan TNI cenderung menganggur. Atas pandangan itu, TNI dipakai untuk kegiatan-kegiatan tertentu seperti bangun jalan raya dan buka sawah baru. Kemudian melakukan kesepakatan atau memorandum of understanding (MoU) dengan berbagai kementerian dan lembaga untuk berbagai jenis kegiatan.

Menurutnya, kegiatan-kegiatan seperti itu lama-kelamaan membawa TNI masuk dalam kepentingan politik tertentu. Cepat atau lambat, penguasa akan memanfaatkan kegiatan yang dilakukam TNI untuk memobilisasi massa.

Terkait peningkatan kapasitas, dia mendukung berbagai kegiatan TNI saat ini yang berpegang pada konsep tri matra terpadu. Dengan konsep ini, tiga angkatan di TNI bersama-sama diberdayakan. Misalnya akhir-akhir ini dibentuk Komando Operasi Khusus TNI (Koopssus TNI), Komando Operasi Khusus Gabungan (Koopssusgab) TNI dan berbagai operasi gabungan lainnya.

Dia melihat pembentukan pasukan-pasukan seperti itu sangat penting dalam membangun kebersamaan di TNI. Pasalnya yang terlibat adalah dari tiga angkatan. "Pembangunan TNI dalam konsep tri matra terpadu harus terus dikembangkan kedepan. Ini penting untuk membangun TNI yang kuat dan solid," tutup Makarim.



Sumber: Suara Pembaruan