Jabat 3 Tahun 3 Bulan, Tito: Jadi Kapolri Itu Berat

Jabat 3 Tahun 3 Bulan, Tito: Jadi Kapolri Itu Berat
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian (kanan) bersama Kapolri Idham Aziz (kiri) memberikann salam komando usai memimpin Upacara Tradisi serah terima Panji-panji Tribrata Kapolri dan pengantar tugas Kapolri di Mako Brimob, Depok, Jawa Barat, Rabu 6 November 2019. ( Foto: Suara Pembaruan / Joanito De Saojoao )
Farouk Arnaz / WBP Rabu, 6 November 2019 | 14:56 WIB

Jakarta, Beritasatu.com- Jenderal (pur) Tito Karnavian dilepas secara resmi oleh Polri pascadilantik sebagai menteri dalam negeri di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Rabu (6/11/2019).

Tito berbicara panjang lebar saat dirinya menjabat sebagai kapolri. Termasuk ketiadaan penyerahan tongkat komando darinya kepada Jenderal Idham Azis mengingat dia sudah mengundurkan diri lebih dulu. “Mungkin ini agak berbeda dari tahun sebelumnya yang biasanya diserahkan tongkat komando, tapi ini sudah ada terobosan lain dimana saat pelantikan bapak Jenderal Idham Azis sekaligus sudah menerima tongkat komando,” kata Tito Karnavian.

Sehingga ata dia, hanya dilaksanakan penyerahan panji-panji simbolis dan serah terima. Polri adalah organisasi cukup besar dengan jumlah 446.000 anggota. Polri meruppakan lembaga vertikal nomor dua setelah TNI yang jajarannya tersebar sampai ke desa sehingga memiliki pengaruh cukup besar.

“Tantangan dihadapi cukup berat karena Polri menjadi salah satu pengemban utama menjaga stabilitas keamanan masyarakat sebagaimana digariskan UU nomor 2 2002 tentang Polri,” sambung Tito Karnavian.

Situasi tak mudah karena Indonesia negara yang cukup pluralistik dengan bentangan luas, tiga zona waktu, negara kepulauan terbesar, dan penduduk keempat terbesar di dunia. “Maka tidak berlebihan kalau seandainya tugas kapolri adalah salah satu tugas yang paling kompleks dari kepala kepolisian di seluruh dunia," kata Tito Karnavian.

Terbesar memang Tiongkok, tapi personel di sana besar dan memiliki sistem politik satu partai sehingga cenderung mudah dikendalikan. Sementara Indonesia adalah negara demokrasi dengan banyak law class, dimana potensi konflik vertikal dan horizontal cukup tinggi, sehingga menjaga kamtibmas tidak mudah.

“Belum lagi persoalan internal menyangkut 446.000 personel. Angka ini lebih besar dari penduduk negara pasifik atau Brunei. Dinamika kehidupan kita masih sangat dinamis dengan kebebasan pascareformasi,” sambung Tito Karnavian.

Makamya Tito merasakan tugas sebagai kapolri cukup berat. Namun Tito bersyukur menyelesaikan jabatannya selama 3 tahun 3 bulan atau 1.197 hari semenjak menjabat 13 Juli 2016 dan berakhir 22 Oktober 2019.

“Selama 3 tahun 3 bulan, dalam catatan saya pribadi, cukup banyak tantangan signifikan disamping reguler atau rutin. Tentunya Pilkada Jakarta 2017 cukup panjang dan melelahkan. Kita dapat kehormatan Polri menjadi tuan rumah sidang umum interpol ke 85 di Bali bulan November 2016 dan sidang ini mendapatkan catatan khusus dari interpol memecahkan rekor dihadiri 163 kepala polisi seluruh dunia,” urai Tito Karnavian.

Selain itu, pengamanan pilkada serentak di 101 wilayah pada 2017 dan tahun 2018 di 171 wilayah. Hal lain rangkaian pemilu serentak presiden dan wapres serta parlemen yang berlangsung 10 bulan polarisasi terjadi dengan tensi cukup panas.

Di samping itu berbagai event mulai dari Asian Games 2018 dan Asian Para Games dilalui dengan sukses. Sementara IMF meeting dihadiri lebih dari 30.000 tokoh keuangan dan ekonomi dunia berjalan baik.



Sumber: BeritaSatu.com