Intoleransi dan Radikalisme Membuat Indonesia Hancur

Intoleransi dan Radikalisme Membuat Indonesia Hancur
Senator dari Sulawesi Utara (Sulut), Stefanus BAN Liow. ( Foto: Beritasatu Photo / Carlos Path )
Carlos KY Paath / WBP Rabu, 27 November 2019 | 16:40 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Intoleransi, terorisme dan radikalisme merupakan musuh bersama seluruh anak bangsa yang mencintai NKRI. Tiga hal tersebut juga akan membuat Indonesia menuju kehancuran, dan bentuk pengingkaran atas cita-cita para pendiri bangsa.

Demikian disampaikan Senator dari Sulawesi Utara (Sulut), Stefanus BAN Liow dalam keterangan seperti diterima Beritasatu.com, Rabu (27/11/2019). Stefanus berharap agar intoleransi, terorisme dan radikalisme tidak diberikan ruang dalam bingkai kerangka NKRI. “Sebagai bangsa yang ingin negara ini terus ada sampai kapan pun tidak bisa ada toleransi dengan intoleransi, terorisme dan radikalisme,” tegas Stefanus yang juga wakil ketua Kelompok DPD di MPR.

Stefanus telah menyampaikan hal itu di hadapan ratusan peserta Sosialisasi Empat Pilar MPR di Tomohon, Sulut, Selasa (26/11/2019). Lebih lanjut dikatakan Stefanus, Tuhan telah mengaruniakan berkat bagi bangsa Indonesia yang sungguh luar biasa.

Indonesia merupakan bangsa yang memiliki keanekaragaman/kemajemukan, karena terdiri dari berbagai suku bangsa, etnis dan sub etnis, adat istiadat, bahasa daerah, flora fauna dan agama berbeda-beda.

“Kita harus selalu menysukuri berkat Tuhan terhadap Indonesia dengan terus menyuburkan persatuan dan kesatuan dalam tutur dan tindakan. Indonesia adalah satu–satunya negara di dunia dengan keberagaman suku, budaya sangat banyak,” ungkap Stefanus BAN Liow.

Menurut Stefanus, keanekaragaman dan kemajukan menjadi kekayaan yang menyatukan Indonesia. Ditambahkan, Indonesia lahir, tumbuh dari keberagaman dan persatuan. Stefanus juga menekankan pentingnya Empat Pilar MPR yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Sosialisasi Empat Pilar MPR, kata Stefanus, dalam rangka mengingatkan dan menyegarkan kembali komitmen seluruh komponen bangsa. Dengan begitu, pelaksanaan dan penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara selalu menjunjung tinggi nilai-nilai luhur.

Dosen Politeknik Negeri Manado, Herry Wensen dan Kepala SD Inpres Pinaras Kecamatan Tomohon Selatan, Sjadrie Pengemanan ketika sosialisasi Empat Pilar MPR mengusulkan agar Pendidikan Pancasila dijadikan mata pelajaran sejak dini hingga perguruan tinggi.

Stefanus berkomitmen memperjuangkan usulan tersebut. Menurut Stefanus, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim juga telah menyambut positif wacana Pendidikan Pancasila kembali masuk dalam mata pelajaran.

“Sudah ada isyarat Menteri Pendidikan Pak Nadiem Makarim. Kita sambut positif, tunggu, kawal dan perjuangkan. Ini sangat penting karena menyangkut kharakter generasi penerus terutama masa depan keutuhan bangsa dan negara Indonesia,” kata Stefanus BAN Liow.

Hal mendesak dan prioritas saat ini, demikian Stefanus, yaitu mendorong perubahan atas Undang-Undang (UU) Nomor 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. “Mengamanatkan Pendidikan Pancasila menjadi mata pelajaran wajib,” tegas Stefanus BAN Liow.

Di sisi lain, Stefanus menyatakan, keberadaan DPD tidak lepas dari semangat gerakan Reformasi 1998. Sistem ketatanegaraan Indonesia diharapkan lebih memerhatikan kepentingan daerah. Kemajuan dan kemakmuran Indonesia sesungguhnya ditentukan oleh kesejahteraan daerah.



Sumber: Suara Pembaruan