Hadapi Manuver Tiongkok

Pemerintah Disarankan Bentuk Komando Gabungan Asia Tenggara

Pemerintah Disarankan Bentuk Komando Gabungan Asia Tenggara
Kapal Coast Guard China-5302 milik Tiongkok memotong haluan KRI Usman Harun-359 pada jarak 60 yards (sekitar 55 meter) saat melaksanakan patroli mendekati kapal nelayan pukat China yang melakukan penangkapan ikan di ZEE Indonesia Utara Pulau Natuna, Sabtu, 11 Januari 2020. (Foto: Antara / M Risyal Hidayat)
Yeremia Sukoyo / FER Rabu, 15 Januari 2020 | 17:31 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pemerintah Indonesia dipandang perlu mengajak negara-negara kawasan ASEAN untuk menjalin kerjasama di bidang pertahanan dengan membentuk Komando Gabungan Asia Tenggara.

Tiongkok Sengaja Pancing Indonesia Kerahkan Kapal Perang

Kerja sama tersebut dinilai perlu dilakukan guna mengantisipasi berbagai gangguan pelanggaran wilayah perairan seperti yang dilakukan Tiongkok.

"Menurut saya memang harus segera dibuat Komando Gabungan Asia Tenggara. Berarti harus ada Panglimanya, yaitu Panglima Komando Gabungan Asia Tenggara," kata Direktur Eksekutif Institute Kajian Pertahanan dan Intelijen Indonesia (IKAPII), Fauka Noor Farid, di Jakarta, Rabu (15/1/2020).

Menurut Fauka, saat ini merupakan momen tepat untuk mengusulkan pembentukan Komando Gabungan Asia Tenggara kepada negara-negara ASEAN. Nantinya, komando tersebut bertugas menjaga wilayah negara-negara ASEAN.

Nelayan Tiongkok di Natuna Disinyalir Tak Sekadar Cari Ikan

"Tugasnya menjaga batas wilayah daripada negara ASEAN. Nantinya semakin memperkuat ASEAN terhadap intervensi negara seperti Tiongkok atau negara yang lain," ujar Fauka.

Fauka menambahkan, apa yang sudah dilakukan Tiongkok terhadap Indonesia sudah merupakan salah satu bentuk pelanggaran wilayah perbatasan.

Terlebih, kalangan dunia internasional, termasuk PBB sama sekali tidak mengakui adanya garis putus-putus atau dash line seperti yang diklaim Tiongkok.

Tiga KRI Usir Kapal Asing di Perairan Natuna Utara

Seperti diketahui, dalam memasuki wilayah perairan Indonesia, Tiongkok menggunakan dasar 9 Garis Putus-putus (Nine Dash Line) sebagai batas Laut China Selatan. Ujung dari 9 Garis Putus-putus itu menabrak Natuna, Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia.



Sumber: Suara Pembaruan