Video Panglima TNI Dinilai Lebih ke Arah Testimoni

Video Panglima TNI Dinilai Lebih ke Arah Testimoni
Pengamat Intelijen, Pertahanan dan Keamanan, Ngasiman Djoyonegoro. ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Feriawan Hidayat / FER Kamis, 16 Januari 2020 | 10:48 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sebuah video beredar terkait testimoni pernyataan Panglima TNI, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, terhadap salah satu kandidat dalam pemilihan Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API). Video tersebut menjadi ramai diperbincangkan, termasuk adanya pihak-pihak yang menyudutkan Panglima TNI.

Panglima TNI Soroti Masalah Keberagaman

Menanggapi hal tersebut, pengamat intelijen, pertahanan dan keamanan yang juga direktur eksekutif Centre of Intelligence and Strategic Studies (CISS), Ngasiman Djoyonegoro, menilai, hal tersebut wajar sebagai seorang yang saling mengenal dan meminta semua pihak tidak perlu mempolitisir.

"Saya kira itu biasa saja. Masih dalam tahap kewajaran, tidak perlu dipolitisir dan dibesar-besarkan," ujar Ngasiman Djoyonegoro, dalam keterangan pers yang diterima Beritasatu.com, di Jakarta, Kamis (16/1/2020).

Pria yang akrab dipanggil Simon ini menegaskan, yang menjadi persoalan adalah ketika video tersebut di-framing ulang untuk tujuan politik tertentu. Bahkan, cenderung ada tendensi untuk menyerang figur Panglima TNI. Hal demikian, tentu sangat disayangkan.

Peduli Lingkungan, Kapolri dan Panglima Tanam Pohon

"Saya kira, Panglima TNI bukan orang yang tidak tahu batas-batas kewajaran dalam memberikan komentar, testimoni atau kesaksian apapun di tengah situasi politik yang masih memanas ini,” tegas Simon.

Panglima TNI, lanjut Simon, saat ini masih memiliki komitmen yang kuat dan kinerja yang mumpuni dalam mengkonsolidasikan lini pertahanan dan keamanan negara.

"Tidak mungkinlah seorang Panglima TNI mengurusi hal-hal teknis seperti itu. Apalagi sampai menggerakkan pasukan untuk mensukseskan seseorang menduduki jabatan sebuah organisasi," kata Simon.

Presiden Tegaskan Kepulauan Natuna Teritorial NKRI

Simon berharap, pihak-pihak yang memiliki perhatian terhadap video ini dapat berpikir jernih dan melihat konteks kejadian. Tidak menghakimi secara sepihak, apalagi turut serta memperkeruh situasi politik dalam negeri.

"Jangan mengumbar syahwat untuk menjadi pejabat publik atau menduduki jabatan tertentu di struktur pemerintahan Jokowi jilid dua yang baru saja terbentuk," pungkas Simon.



Sumber: BeritaSatu.com