Mahfud: BNPT Sempat Cari Anak-anak WNI Eks ISIS

Mahfud: BNPT Sempat Cari Anak-anak WNI Eks ISIS
Mahfud MD. ( Foto: Antara )
Robertus Wardi / FMB Rabu, 12 Februari 2020 | 14:49 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD mengemukakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) atau National Agency for Combating Terrorism sudah pernah ke Suriah, Irak dan Turki untuk mengecek keberadaan Warga Negara Indonesia (WNI) eks ISIS dan para terduga teroris lintas batas atau foreign terrorist fighter (FTF). Namun hasilnya, BNPT tidak bertemu langsung dengan mereka, termasuk anak-anaknya.

"Sudah, sudah mengirim. BNPT sudah ke sana, kita sudah ke sana. Hanya ketemu sumber-sumber otoritas resmi aja. Di situ ada katanya orang Indonesia, tetapi orangnya ndak pernah menampakkan. Kita cuma ada laporan, anak sekian," kata Mahfud di Kemko Polhukam, Jakarta, Rabu (12/2/2020).

Ia menjelaskan jika memang ada anak-anak mantan ISIS tersebut, silahkan melapor ke pemerintah. Hal itu supaya bisa didata untuk mengetahui jumlahnya dan mengambil sikap untuk proses selanjutnya.

"Ya kalau ada, silahkan saja lapor. Ini enggak ada. Hanya ada laporan, dari pihak luar, bukan dari Indonesia. Indonesia sendiri sudah mencari ke sana. Sumbernya juga tidak pernah langsung ketemu orangnya," jelas Mahfud.

Dia menegaskan laporan dari Turki yang diterimanya ada sejumlah anak dan perempuan. Namun Indonesia belum bisa bertemu langsung karena mereka sangat tertutup. Paspor yang mereka miliki juga sudah dibakar.

"Ini tadi baru ada laporan dari Turki anak sekian, perempuan sekian. Tapi ndak ada paspor, enggak ada apa-apa," tutur Mahfud.

Menurutnya jumlah 660 WNI anggota FTF yang disebut selama ini, bukan data langsung yang diperoleh Indonesia. Data itu berasal dari komunitas internasional.

"Mereka kan tidak lapor, hanya ditemukan oleh orang luar. Yang menemukan kan CIA, Komite Internasional Palang Merah (ICRC) bahwa ini ada orang Indonesia. Kita juga ndak tahu apa-apanya, paspornya sudah dibakar, terus mau diapain?" ungkap Mahfud.

Dia menegaskan yang tidak dipulangkan adalah anggota teroris yang bergabung dengan ISIS atau FTF. Jika ada WNI bukan teroris tetapi terlantar di Suriah, Irak, Turki dan negara lainnya, pemerintah wajib melindunginya.

"Kalau orang di luar negeri tidak teroris ya lapor aja ke kedutaan. Kalau bukan teroris, kalau teroris ndak. Ini yang kita katakan bahwa FTF, tidak menyebut WNI. Yang tidak dipulangkan itu FTF bukan orang-orang di luar negeri," tutup Mahfud. 



Sumber: Suara Pembaruan