Dana Jaringan JI Non-Struktur dari Bisnis Ekspedisi

Dana Jaringan JI Non-Struktur dari Bisnis Ekspedisi
Tim Densus 88 Antiteror. (Foto: Antara)
Farouk Arnaz / WBP Selasa, 19 Mei 2020 | 14:31 WIB

Jakarta, Beritasatu.com — Teka teki dana ratusan juta yang dikuasai kelompok Jamaah Islamiah (JI) non-struktur untuk membeli senjata api dari oknum aparat akhirnya terkuak. Dana itu dari bisnis ekspedisi yang berada di Surabaya.

“Dana itu salah satunya diperoleh dari bisnis ekspedisi di Surabaya,” kata seseorang yang mengetahui kasus ini pada Beritasatu.com Selasa (19/5/2020).

Polisi telah menangkap AH alias Abdullah di ekspedisi di Jalan Kunti, Sidotopo, Surabaya itu pada April lalu. AH asal Malang direkrut menjadi kepala gudang dan ditangkap saat akan mengirimkan senjata api organik yang dibeli di Malang seharga Rp 200 juta. “Kelompok ini masih ada kaitan dengan tokoh JI yang terlibat bom Bali tahun 2002. Tapi mereka yang baru-baru kita tangkapi ini, termasuk di Surabaya, Sidoarjo, Serang dan Tasikmalaya, tidak berada langsung dalam struktur JI,” sambung sumber tersebut.

Baca juga: Anggota JI Aktif Lagi, Nasir Abbas: JI Tak Pernah Berhenti

Seperti diberitakan kelompok teroris JI termonitor aktif kembali meski tidak lagi menggunakan bendera JI. Tapi para anggota JI yang di luar struktur itu tetap menggunakan strategi JI. JI adalah kelompok teror yang diperkuat eks jihadis lulusan Akademi Para Militer di Afghanistan. Mereka bertanggungjawab dalam aksi bom Bali 2002 dan bom Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton di Jakarta pada 2019.

Baca juga: Jaringan Teroris Jatim-Banten Gunakan Strategi JI

Sejak itu gerakan kelompok ini relatif senyap. Namun ternyata kelompok ini tidak pernah mati, termasuk munculnya Neo JI, dan selalu beradaptasi dengan zaman dengan tujuan akhir membangun khilafah. Neo JI yang dimaksud adalah kelompol lanjutan dari JI yang saat itu dipimpin oleh Para Wijayanto. Para yang buron sejak 2003 itu akhirnya ditangkap Densus pada 2019 di Bekasi.

Saat itu terungkap mereka punya kemampuan finansial mumpuni. Strategi mereka antara lain membuat tamkin atau penguasaan lokasi di beberapa wilayah yang diperkuat karena dia sudah membentuk organisasi yang lebih modern. Dalam organ ini juga ada penyandang atau pencari dana yang memiliki basic ekonomi. Mereka juga melakukan perekruan lebih tertutup dimana hasil nya dilatih dan diberikan kesempatan keluar negeri mengikuti praktik perang di Suriah maupun Irak.

Lanjutan Neo JI ini adalah jaringan Abdullah itu. Sebelumnya polisi menyebut Abdullah terpapar paham terorisme ketika menjalani hukuman pidana umum di Lapas Madura.



Sumber: BeritaSatu.com