Mantan Panglima NII: Kelompok Teroris Manfaatkan Medsos Secara Masif

Mantan Panglima NII: Kelompok Teroris Manfaatkan Medsos Secara Masif
Pakar Terorisme/Pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan (Foto: istimewa)
Yeremia Sukoyo / JAS Minggu, 7 Juni 2020 | 17:24 WIB

Jakarta, Beritasatu,com - Aksi penyerangan Polsek Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan (Kalsel) disebut-sebut telah menjadi inspirasi aksi terduga teroris yang ditangkap di sebuah depot pengisian air minum, Jalan Raya Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.

Mantan Panglima Negara Islam Indonesia (NII) Ken Setiawan, mengingatkan, pemahaman iman hijrah dan jihad versi teroris memang sangat masif dilakukan dan cenderung mendominasi di media sosial (medsos). Di sisi lain, kalangan tolerans seolah diam dan membiarkan hal itu terjadi.

"(Keberadaan) medsos sangat berpengaruh. Yang radikal tidak banyak, tapi mereka masif. Sedangkan yang toleran cenderung pasif," kata Ken Setiawan, di Jakarta, Minggu (7/6/2020).

Hal inilah yang pada akhirnya menimbulkan banyak kalangan muda bahkan remaja 16 tahun terpapar pemikiran radikal seperti dalam pengungkapan terduga teroris di sejumlah tempat.

Dijelaskan, penyimpangan makna iman hijrah dan jihad juga sebagai level tataran kelompok radikal. Mereka menafsirkan ayat-ayat sesuai kepentingan yang dikehendaki dan berupaya memengaruhi orang lain.

"Iman adalah level simpatisan atau terpapar tetapi belum bergabung, mereka meyakini atau membenarkan aksi terorisme, termasuk antipemerintah dan anti-Pancasila. Ini kelompok yang paling banyak dan berlanjut menjadi intoleransi, tidak menerima perbedaan, hanya diri dan kelompoknya saja yang dianggap benar," ungkapnya.

Walaupun hanya sebatas pemikiran, namun kelompok tersebut juga turut menyebarkan paham radikal dan terorisme, baik itu secara langsung maupun menggunakan medsos. Terrmasuk siap menyebarkan hoax, asalkan menguntungkan kelompoknya dan dan dapat menjatuhkan aparat, termasuk pemerintah.

Memasuki level selanjutnya, yakni hijrah atau pindah haluan dan pemikiran serta pindah negara. Di samping meyakini negara ini salah, tapi kelompok radikal juga hijrah bukan hanya lisan, tetapi di diaplikasikan dengan bergabung dan merekrut para simpatisan agar ikut melakukan hijrah atau pindah bersama dengannya.

"Kelompok yang sudah melakukan hijrah mereka aktif melakukan kajian dan pelatihan secara berpindah-pindah dengan alasan keamanan," ucap Ken.

Level berikutnya setelah hijrah adalah jihad yang merupakan final dari gerakan radikal. Hal tersebut dilakukan ketika tidak bisa melakukan perubahan dengan iman dan hijrah, maka terakhir dengan jihad yang mereka yakini dengan janji surga.

"Biasanya dengan amaliah bom bunuh diri atau dengan membunuh aparat, karena dinilai aparat adalah alat tagut yang akan memadamkan cahaya Allah. Itu kenapa banyak kejadian yang menjadi sasaran adalah aparat kepolisian," katanya mengingatkan. 



Sumber: BeritaSatu.com