Freddy Numberi: Kasus Floyd dan Persoalan di Papua Berbeda

Freddy Numberi: Kasus Floyd dan Persoalan di Papua Berbeda
Freddy Numberi. (Foto: Istimewa)
Asni Ovier / AO Jumat, 12 Juni 2020 | 10:32 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Belakangan ini muncul pandangan yang mengaitkan kasus kekerasan terhadap warga Amerika Serikat (AS) George Floyd dengan persoalan yang terjadi di Papua. Menurut tokoh Papua, Freddy Numberi, kekerasan terhadap Floyd yang memicu aksi unjuk rasa itu berbeda dengan pesoalan yang ada di Papua saat ini.

“Dua kasus itu sebenarnya berbeda. Namun, ada persinggungan begitu dikaitkan dengan ketidakadilan, kesejahteraan, dan hak-hak masyarakat Papua dibandingkan dengan daerah lain,” ujar Freddy dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (12/6/2020).

Dikatakan, kasus George Floyd tentu ikut mendapat simpati di hati masyarakat Indonesia, khususnya di Papua. Hal ini diviralkan melalui media sosial tentang rasisme di AS maupun “korban rasis” terhadap orang Papua.

Namun, pertanyaanya, apakah perlakuan terhadap orang Papua juga tergolong rasisme di Indonesia? Menurut Freddy, itu adalah masalah perspektif dan perlakuan yang semena-mena ketika pendekatannya sejak awal adalah represif (kekerasan).

“Ada unsur ketidakadilan, kesejahteraan, dan hak-hak masyarakat yang terabaikan sejak awal integrasi dan pendekatan represif pemerintah yang silih berganti terus berlangsung. Butuh kepemimpinan yang kuat untuk mengubah sistem yang ada agar pendekatannya lebih manusiawi dan hak-hak demokrasi orang Papua harus dijunjung tinggi dalam negara Indonesia yang demokratis berasaskan Pancasila,” kata Freddy.

Mantan Gubernur Papua itu mengatakan, butuh payung regulasi yang kokoh dalam hal tersebut serta pengawasan yang ketat dalam setiap bidang kehidupan di Papua, terutama terhadap pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

Freddy mengatakan, dalam sejarah AS, rasisme tidak terjadi dengan sendirinya melainkan didesain untuk kepentingan politik maupun ekonomi. Hal serupa dapat dilihat juga di beberapa belahan dunia lain, seperti di Afrika Selatan, di mana Nelson Mandela berjuang melawan perbedaan perlakuan atas dasar ras atau politik warna kulit.

“Ketika itu meskipun di penjara, Nelson Mandela terus menjadi simbol perlawanan orang kulit hitam. Walaupun mengalami provokasi yang mengerikan, ia tidak pernah menjawab rasisme dengan rasisme. Nelson Mandela yang sempat menjadi Presiden Afrika Selatan ini telah menjadi inspirasi bagi kebangkitan orang-orang yang tertindas,” kata dia.

Menurut Freddy, George Floyd adalah pemantik atas nama solidaritas diskriminasi warna kulit, baik di Amerika maupun di dunia. Minneapolis dapat dikatakan menjadi saksi bagaimana rasisme terus menggerus AS. Unjuk rasa mendapat simpati, baik di AS maupun belahan dunia lainnya.

Kematian George Floyd, kata Freddy, telah memicu gelombang protes di AS, melepaskan kemarahan lama yang membara atas bias rasial dalam sistem peradilan pidana AS. Ancaman orang kulit hitam di Minneapolis bukan virus yang menjadi pandemi, tetapi akar kekerasan pihak kepolisian.



Sumber: BeritaSatu.com