Alutsista TNI Dinilai Butuh Modernisasi

Alutsista TNI Dinilai Butuh Modernisasi
Presiden Joko Widodo (kiri) berbincang dengan salah satu penerbang pesawat tempur TNI Angkatan Udara. (Foto: Antara)
Carlos KY Paath / YS Senin, 15 Juni 2020 | 18:36 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Wakil Ketua MPR Arsul Sani angkat bicara terkait insiden jatuhnya pesawat milik TNI AU di Kampar, Riau, Senin (15/6/2020).

Menurut Arsul, alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI memerlukan modernisasi.

"Jatuhnya Pesawat TNI AU di Riau, semakin menambah keyakinan kita, bahwa alutsista TNI bukan hanya memerlukan modernisasi dengan pengadaan yang baru, tetapi juga perlu perawatan dan overhaul terhadap alutsista yang ada," ujar Arsul, Senin (15/6/2020).

Arsul menambahkan, pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan perlu meningkatkan lagi anggaran TNI, terutama untuk pengadaan alutsista.

"Kita akui, sejak Pak Prabowo Subianto menjabat Menhan (Menteri Pertahanan) upaya peningkatan anggaran ini sudah terlihat, namun anggaran tersebut belum cukup dan perlu diberikan ruang kenaikan anggaran yang lebih besar lagi," ujar Arsul.

Menurut Arsul, selama lebih kurang 10 tahun, kenaikan anggaran pertahanan di Indonesia masih belum sejalan dengan modernisasi alutsista. Selain itu, kata Arsul, minimnya akuntabilitas penggunaan anggaran juga harus dibenahi oleh Kementerian Pertahanan.

"Kurangnya perawatan bisa menjadi salah satu penyebab pesawat milik TNI Indonesia mengalami kecelakaan di Riau," ucap Arsul.

Diketahui, pesawat yang jatuh di Riau merupakan jenis pesawat tempur jenis BAE Hawk 209 dengan pilot Lettu Pnb Apriyanto Ismail dari Skuadron Udara 12 Lanud Roesmin Nurjadin (Rsn) Pekanbaru.

Jet tempur yang jatuh di Riau bernama Hawk 209, yang merupakan kode untuk pesawat Hawker-Siddeley Hawk tipe mk 200 yang diekspor khusus ke Indonesia.

Hawk merupakan pesawat jet latih (trainer) interim untuk pesawat jet generasi 4 seperti F-16 dan F-15. Pesawat berjenis Hawk ini memang menjadi pilihan TNI AU dan mulai diekspor sejak tahun 1997, setelah sempat memesan Hawk varian Mk 53 pada tahun 1980-an.

Sebelum kejadian di Riau, pesawat angkut berat C-130 Hercules dengan tail number A-1334 juga jatuh di Wamena, Papua.

Hercules yang jatuh terbilang tua, pabrikan tahun 1964, namun bukan berarti usia pesawat tersebut membuatnya tidak aman untuk diterbangkan.

Dari 24 unit pesawat Hercules yang dimiliki TNI, hanya 11 unit dalam kondisi siap terbang. Sementara, dari total 50 pesawat angkut yang dimiliki militer Indonesia, hanya 24 unit bisa terbang. 



Sumber: Suara Pembaruan