Amerika Rusuh, Tiongkok: "Pemandangan yang Indah!"
INDEX

BISNIS-27 510.175 (-19.05)   |   COMPOSITE 5783.33 (-170.92)   |   DBX 1064.04 (-1.68)   |   I-GRADE 168.858 (-6.97)   |   IDX30 499.932 (-21.14)   |   IDX80 131.904 (-5.19)   |   IDXBUMN20 373.781 (-18.36)   |   IDXG30 136.463 (-5.44)   |   IDXHIDIV20 450.262 (-18.14)   |   IDXQ30 146.101 (-6.28)   |   IDXSMC-COM 248.411 (-4.72)   |   IDXSMC-LIQ 303.864 (-9.61)   |   IDXV30 127.988 (-5.5)   |   INFOBANK15 983.467 (-36.67)   |   Investor33 429.105 (-16.64)   |   ISSI 169.797 (-4.69)   |   JII 620.069 (-22.27)   |   JII70 213.196 (-7.01)   |   KOMPAS100 1177.3 (-42.41)   |   LQ45 920.112 (-37.05)   |   MBX 1606.46 (-54)   |   MNC36 321.125 (-12.61)   |   PEFINDO25 316.867 (-8.64)   |   SMInfra18 295.49 (-13.73)   |   SRI-KEHATI 366.206 (-13.72)   |  

Amerika Rusuh, Tiongkok: "Pemandangan yang Indah!"

Sabtu, 6 Juni 2020 | 16:22 WIB
Oleh : Heru Andriyanto / HA

Beritasatu.com - Aksi massa di berbagai wilayah Amerika Serikat membuat dunia terhenyak, tetapi Tiongkok menyimaknya dengan perspektif dan kepentingan yang sangat khusus.

Demonstrasi anti-rasialisme di berbagai kota AS memberi amunisi bagi Beijing untuk menyerang balik Washington, yang tahun lalu mendukung penuh aksi demonstran pro-demokrasi di Hong Kong yang juga kerap berakhir ricuh.

Media-media Tiongkok memberi ruang besar pada liputan di AS ini, menyoroti berbagai insiden kerusuhan yang terjadi dan dugaan kekerasan polisi, sembari mengklaim bahwa stabilitas di Tiongkok jauh lebih mantap.

Para diplomat Tiongkok juga sesumbar bahwa Tiongkok bisa bertindak sebagai pemimpin global yang lebih bertanggung jawab, dan ikut gerakan solidaritas menentang diskriminasi rasial dan ketidakadilan di AS.

“Pemandangan yang Indah”
Kantor berita pemerintah Tiongkok Xinhua menggambarkan kerusuhan sipil di AS itu sebagai "pemandangan yang indah seperti kata Pelosi” -- merujuk pada komentar Ketua DPR AS Nancy Pelosi tahun lalu yang mengatakan bahwa aksi protes di Hong Kong adalah "sebuah pemandangan yang indah untuk dinikmati".

Hu Xijin, kepala editor media bahasa Inggris Tiongkok Global Times, menulis bahwa para politisi AS sekarang “bisa menikmati pemandangan itu langsung dari jendela mereka sendiri".

Beijing dari dulu mengecam para politisi AS termasuk Pelosi karena “mengglorifikasi kekerasan" yang dipicu para demonstran di Hong Kong, yang oleh Tiongkok dikategorikan sebagai “perusuh dengan tendensi terorisme”.

Itu persis gambaran Presiden AS Donald Trump atas aksi massa yang berakhir ricuh, yang dia sebut melibatkan preman, ekstremis, dan bahkan teroris.

Aksi massa di Hong Kong berlangsung hampir sepanjang 2019, sehingga memaksa Beijing untuk mengadposi UU Keamanan Nasional yang baru bulan lalu, hanya dua pekan menjelang peringatan tahun ke-31 tragedi Lapangan Tiananmen.

Aynne Kokas, peneliti di Miller Center for Public Affairs, University of Virginia, AS, mengatakan baik AS maupun RRT sama-sama menghadapi masalah instabilitas dalam negeri yang dipicu oleh pandemik virus corona dan kisruh politik.

"Sekarang menjadi saat menentukan di mana Tiongkok bisa memanfaatkan rapuhnya stabilitas di AS, sehingga bisa secara efisien mempromosikan tujuan-tujuannya sendiri terkait keamanan nasional," kata Kokas.

Standar Ganda
Para petinggi Tiongkok dan Hong Kong menuduh AS telah menerapkan standar ganda untuk menghadapi perlawanan sipil.

"Anda tahu ada kerusuhan di Amerika Serikat dan kami melihat bagaimana reaksi pemerintah setempat," kata pemimpin Hong Kong Carrie Lam.

"Dan lalu di Hong Kong, ketika kita juga menghadapi kerusuhan, kami juga melihat bagaimana posisi mereka ketika itu."

Para pengguna media sosial Tiongkok mengikuti sentimen tersebut dan menyebut Amerika sebagai "negara standar ganda".

Tuduhan kekerasan polisi selama aksi protes di AS terus menjadi sorotan media-media pemerintah Tiongkok untuk menunjukkan betapa lemahnya Washington ketika berkoar-koar soal kebebasan dan demokrasi.

Televisi pemerintah China Central Television memberitakan bahwa para wartawan Amerika diserang dengan semprotan merica dan seorang fotograper nyaris buta karena hantaman peluru karet aparat saat meliput aksi massa.

Menurut pakar komunikasi global Professor Maria Repnikova dari Georgia State University, liputan media-media Tiongkok itu punya dasar.

"Liputan para media itu sangat bermakna, karena mereka tidak mengarangnya," kata Repnikova. Namun, dia juga mengingatkan bahwa media pemerintah Tiongkok melakukan tebang pilih dengan memperlihatkan perlakuan polisi Hong Kong yang lebih moderat, tetapi memilih insiden yang paling keras dari kejadian di AS.

Di laman media sosial Weibo, para penggunanya menilai kebebasan dan demokrasi di AS juga dipertaruhkan karena aksi damai dilawan dengan gas air mata dan tentara juga dilibatkan untuk membubarkan massa.

"Media pemerintah Tiongkok seharusnya tak perlu susah payah membangun narasi, mereka cukup bicara secara objektif saja atas apa yang terjadi Washington DC, yang sudah jelas mengabaikan prinsip-prinsip kebebasan berbicara dan kemerdekaan untuk berserikat,” kata Kokas, pakar dari University of Virginia.

Retorika AS tentang hak-hak demokrasi di Hong Kong menjadi terdengar “kosong melompong” sekarang, “ketika sejumlah helikopter militer berputar-putar di langit [Washington] DC," imbuhnya.

Para diplomat Tiongkok sekarang menjadi makin berani mempromosikan negaranya sebagai pemimpin global menggantikan AS.

Menurut Kokas, RRT telah mengembangkan strategi propaganda terkait pandemik Covid-19 -- ketika Amerika gagal, Tiongkok hadir untuk membantu Anda.

“I Can’t Breathe”
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Hua Chunying, bercuit "I can't breathe", diikuti tangkapan layar pernyataan juru bicara Kementerian Luar Negeri AS Morgan Ortagus sebelumnya yang mengkritik upaya Beijing dalam menangani masalah Hong Kong.

I can’t breathe” (saya tidak bisa bernapas) adalah kata-kata terakhir George Floyd, sebelum pria kulit hitam itu tewas karena tengkuknya ditindih dengan lutut oleh polisi Minneapolis pada 25 Mei, insiden yang memicu kerusuhan di AS hingga 10 hari lebih.

Sebetulnya bukan hanya Tiongkok. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menyebutkan betapa munafiknya AS karena kerap membuat pernyataan tertulis untuk mengkritik dan menuduh pelanggaran HAM di negara lain.

Zakharova secara sarkastik meminta Gedung Putih untuk merilis pernyataan pers mengecam aparatnya sendiri.

"Tampaknya rekan-rekan Amerika kita agak teralihkan perhatiannya sekarang ini dari pernyataan-pernyataan bernada memerintah yang selama bertahun-tahun mereka sebarkan jika terkait negara lain. Berkacalah, lalu tuangkan semua yang mereka lihat di sana dalam sebuah pernyataan resmi, seperti yang biasa mereka kirimkan ke berbagai negara di dunia," kata Zakharova.

Olok-olok pengguna Twitter di Amerika yang menyindir standar ganda Donald Trump.

Reaksi di Medsos Tiongkok
Unggahan terkait kerusuhan di AS menjadi topik diskusi hangat dan ditonton hingga 25 miliar kali di platform media sosial Tiongkok, Weibo.

"Pemerintah AS telah menyulut kekerasan di seluruh dunia, sekarang rakyat Amerika akhirnya terbangun. Pemerintah AS layak mendapatkan ini,” tulis seorang pengguna.

Sentimen anti-Amerika memang tengah meningkat di sana, seiring memburuknya hubungan dua negara akibat perang dagang, masalah Hong Kong, dan pandemik virus corona.



Sumber:BBC, CNN


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Ikuti Jejak Trump, Brasil Ancam Keluar dari WHO

Kasus yang dikonfirmasi Covid-19 meningkat melebihi 600.000 dengan 1.437 kematian dalam waktu 24 jam terakhir.

DUNIA | 6 Juni 2020

WHO Perbarui Panduan Penggunaan Masker di Area Publik

Panduannya terbaru itu didorong bukti penelitian dalam beberapa minggu terakhir.

DUNIA | 6 Juni 2020

Untuk Keenam Kali Spanyol Perpanjang Status Darurat Covid-19

Untuk keenam kalinya Parlemen Spanyol memperpanjang status darurat pandemi virus corona (Covid-19) di negara itu.

DUNIA | 5 Juni 2020

Kematian Covid-19 Tembus 30.000, Brasil Berniat Buka Bisnis

Meski mencatat rekor kematian akibat pandemi virus corona (Covid-19) lebih dari 30.000 orang, Brasil tetap berniat membuka kembali kegiatan bisnis.

DUNIA | 5 Juni 2020

Menhan India: Tentara Tiongkok dalam Jumlah Besar Masuki Perbatasan Himalaya

Menteri Pertahanan (Menpan) India, Rajnath Singh, mengatakan tentara Tiongkok dalam jumlah besar telah memasuki Garis Kontrol Aktual (LAC).

DUNIA | 5 Juni 2020

Gara-Gara Brexit, Hampir 15.000 Warga Inggris Pindah Jadi WN Jerman

Biro Statistik Federal Jerman, melaporkan sepanjang 2019, hampir 15.000 warga negara Inggris yang pindah menjadi warga negara Jerman.

DUNIA | 5 Juni 2020

Dalam Sebulan, Kasus Covid-19 di Pakistan Naik 500%

Para pejabat kesehatan Pakistan, mengatakan jumlah kasus virus corona (Covid-19) positif meningkat hampir 500% dalam sebulan terakhir.

DUNIA | 5 Juni 2020

Menhan AS Tolak Militer Diterjunkan Atasi Demonstrasi

Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Mark Esper, menyatakan penolakannya atas penggunaan kekuatan militer dalam menertibkan demonstrasi nasional saat ini,

DUNIA | 5 Juni 2020

Putri George Floyd: Aku Merindukannya

Bagi Gianna Floyd (6), kematian George Floyd, menjadi kesedihan yang harus dirasakannya di usia dini, karena kehilangan sosok ayah yang penyayang.

DUNIA | 5 Juni 2020

Obat Darah Tinggi Diduga Bantu Tekan Angka Kematian Covid-19

Risiko kematian yang lebih rendah dari Covid-19.

DUNIA | 5 Juni 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS