Terungkap, Trump Minta Bantuan Presiden Tiongkok untuk Pilpres 2020
INDEX

BISNIS-27 425.322 (0)   |   COMPOSITE 4870.04 (0)   |   DBX 940.805 (0)   |   I-GRADE 128.434 (-0.58)   |   IDX30 401.317 (0)   |   IDX80 106.174 (-0.61)   |   IDXBUMN20 268.239 (-2.84)   |   IDXG30 113.341 (-0.34)   |   IDXHIDIV20 361.328 (-3.85)   |   IDXQ30 118.527 (-0.83)   |   IDXSMC-COM 209.874 (0.28)   |   IDXSMC-LIQ 234.117 (0.48)   |   IDXV30 100.803 (-0.57)   |   INFOBANK15 757.481 (0)   |   Investor33 355.071 (-2.81)   |   ISSI 143.81 (0)   |   JII 518.901 (0)   |   JII70 175.828 (0.4)   |   KOMPAS100 949.983 (0)   |   LQ45 742.375 (-5.22)   |   MBX 1342.99 (0)   |   MNC36 265.633 (-1.2)   |   PEFINDO25 260.033 (0)   |   SMInfra18 229.972 (0)   |   SRI-KEHATI 296.897 (0)   |  

Terungkap, Trump Minta Bantuan Presiden Tiongkok untuk Pilpres 2020

Kamis, 18 Juni 2020 | 04:22 WIB
Oleh : Heru Andriyanto / HA

Beritasatu.com – Mantan penasihat keamanan nasional Amerika Serikat John Bolton mengungkap bahwa Presiden Donald Trump pernah meminta Presiden Tiongkok Xi Jinping untuk membantunya memenangi pemilihan presiden AS 2020.

Pernyataan itu diambil dari kutipan buku Bolton yang akan terbit pekan depan dan dipublikasikan oleh Wall Street Journal, Rabu (17/6/2020) waktu setempat.

Pertemuan Trump dan Xi terjadi di Osaka, Jepang, Juni tahun lalu.

Kutipan dalam buku tersebut tertulis "Xi mengatakan ke Trump bahwa hubungan AS-Tiongkok adalah yang paling penting di dunia" dan menambahkan “sejumlah tokoh politik Amerika secara sembrono menyerukan gerakan perang dingin baru dengan Tiongkok".

"Apakah Xi menuding tokoh Partai Demokrat atau sebagian dari kami yang berada di meja delegasi AS, saya tidak tahu. Namun, Trump segera berasumsi bahwa yang dimaksud Xi adalah orang-orang Demokrat. Trump mengiyakan dengan mengatakan bahwa di kalangan Demokrat muncul kebencian yang dalam terhadap Tiongkok," tulis Bolton.

"Kemudian Trump, secara mengejutkan, membelokkan percakapan ke pemilihan presiden AS mendatang, memuji kemampuan ekonomi Tiongkok dan memohon pada Xi untuk memastikan dia bisa menang. Dia menekankan pentingnya faktor para petani [Amerika] dan peningkatan impor kedelai dan gandum oleh Tiongkok dalam mempengaruhi hasil pemilihan," imbuh Bolton.

Percakapan antara Trump dan Xi digambarkan oleh Bolton sebagai salah satu dari beberapa pertemuan yang melibatkan Presiden yang dianggapnya penuh masalah.

Secara spesifik Bolton juga menyoroti kesediaan Trump untuk mencampuri penyelidikan pidana, "hingga sampai tahap dia memberi dukungan pribadi pada para diktator yang disukainya”. Bolton memberi contoh sejumlah kasus yang melibatkan firma hukum di Tiongkok dan Turki.

"Polanya seolah bahwa menghalang-halangi upaya hukum adalah cara hidupnya, yang tentu saja kami tidak terima," kata Bolton.

Buku Bolton berjudul "In the Room Where it Happened" (Dalam Ruangan di Mana ini Terjadi) akan dipublikasikan Selasa pekan depan, setelah selama berbulan-bulan menjadi sengketa hukum antara dia dengan Gedung Putih.

Selasa (16/6/2020) lalu pemerintahan Trump menggugat buku tersebut dalam upaya mencegahnya agar batal terbit.

Namun, justru bocoran dari isi buku itu beredar di sejumlah media massa terkemuka seperti Wall Street Journal dan The New York Times.

Bolton juga menulis opini di WSJ Rabu kemarin dengan judul "The Scandal of Trump's China Policy" (Skandal Kebijakan Trump Tentang Tiongkok).



Sumber:CNN


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Eks Penasihat Tuduh Trump Bohong, dan Tak Cuma Sekali

Gedung Putih saat ini berusaha keras agar Bolton tidak menerbitkan buku tentang masa kerjanya sebagai penasihat keamanan.

DUNIA | 18 Juni 2020

Mantan Capres Partai Demokrat Kompak Galang Dana Kampanye Biden

Sejumlah mantan calon presiden (capres) Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat, kompak mendukung penggalangan dana kampanye Joe Biden.

DUNIA | 17 Juni 2020

Kekurangan Peralatan Medis Covid-19, Dokter Nigeria Umumkan Mogok Nasional

Dokter Nigeria mengumumkan pemogokan nasional karena kurangnya peralatan perlindungan pribadi untuk perawatan pasien Covid-19 di rumah sakit pemerintah.

DUNIA | 17 Juni 2020

Pascaledakan Kantor Penghubung, Militer Korsel dan Korut Siaga Penuh di DMZ

Militer Korea Seltan (Korsel) dan Korea Utara (Korut) dalam keadaan siaga penuh di sepanjang zona demiliterisasi (DMZ) yang menjadi perbatasan kedua negara.

DUNIA | 17 Juni 2020

Sepanjang Mei, Biden Galang Dana Kampanye US$ 81 Juta

Calon Presiden (capres) Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat, Joe Biden, menggalang dana sekitar US$ 81 juta (Rp 1,146 miliar) sepanjang Mei 2020.

DUNIA | 17 Juni 2020

Inggris Danai Uji Klinis Bakal Vaksin Corona

Para ilmuwan di perguruan tinggi negeri Inggris, Imperial College London, Senin (15/6), menyatakan akan memulai uji klinis pertama bakal vaksin Covid-19

DUNIA | 17 Juni 2020

WHO: Waspadai 100.000 Kasus Baru Global Per Hari

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, memperingatkan lebih dari 100.000 kasus terkonfirmasi Covid-19 telah dilaporkan.

DUNIA | 17 Juni 2020

Badan HAM PBB Gelar Debat Isu Rasisme

Badan Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) memutuskan untuk menggelar perdebatan mendesak terkait rasisme dan kebrutalan polisi.

DUNIA | 17 Juni 2020

Korut Ledakkan Kantor Penghubung Korsel

Korea Utara (Korut) meledakkan bom ke dekat kantor penghubung antar-Korea di perbatasan Kaesong, pada Selasa (16/6).

DUNIA | 17 Juni 2020

Ada 31 Kasus Baru, Covid-19 di Beijing Terus Bertambah

Sebanyak 19 kasus berada di distrik Fengtai barat daya, tempat sekelompok infeksi muncul pekan lalu.

DUNIA | 17 Juni 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS