Serang Balik Harris, Trump Pakai Jurus Lama Lawan Obama
INDEX

BISNIS-27 434.406 (-0.23)   |   COMPOSITE 4934.09 (-16.14)   |   DBX 924.804 (3.39)   |   I-GRADE 130.838 (-0.55)   |   IDX30 413.425 (-1.26)   |   IDX80 108.094 (-0.37)   |   IDXBUMN20 272.657 (-3.39)   |   IDXG30 115.379 (0.39)   |   IDXHIDIV20 370.721 (-2.24)   |   IDXQ30 120.916 (-0.16)   |   IDXSMC-COM 211.116 (-0.82)   |   IDXSMC-LIQ 236.814 (-0.83)   |   IDXV30 102.468 (-0.58)   |   INFOBANK15 776.883 (-3.28)   |   Investor33 360.093 (-0.17)   |   ISSI 144.765 (-0.24)   |   JII 523.909 (0.36)   |   JII70 177.568 (-0.12)   |   KOMPAS100 966.07 (-3.19)   |   LQ45 756.376 (-2.2)   |   MBX 1366.8 (-5.86)   |   MNC36 270.277 (-1.09)   |   PEFINDO25 258.891 (-1.93)   |   SMInfra18 233.321 (-1.32)   |   SRI-KEHATI 303.606 (-0.74)   |  

Serang Balik Harris, Trump Pakai Jurus Lama Lawan Obama

Sabtu, 15 Agustus 2020 | 05:04 WIB
Oleh : Heru Andriyanto / HA

Beritasatu.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump meningkatkan serangannya pada bakal calon wakil presiden dari Partai Demokrat, Kamala Harris, kali ini dengan jurus yang dulu dia gunakan saat menyerang Barack Obama.

Kamis lalu, Trump mengatakan bahwa menurut informasi yang dia dengar, Harris tidak memenuhi syarat menjadi cawapres karena dia tidak dilahirkan di AS.

Teori konspirasi ini persis sama seperti yang dia gunakan waktu menyerang Obama dulu.

Hari berikutnya, Partai Demokrat merilis pernyataan pedas mengecam sikap Trump tersebut.

Menurut pernyataan itu, Trump telah bertahun-tahun menyebarkan teori palsu yang mempersoalkan tempat lahir Obama -- yang disebut teori "birther".

"Donald Trump adalah pemimpin nasional dalam gerakan teori tempat kelahiran yang meresahkan dan rasialis terkait Presiden Obama dan berusaha menyulut rasialisme dan memecah belah bangsa kita setiap hari di masa kepemimpinannya," bunyi pernyataan tim kampanye calon presiden Joe Biden.

Karena itu, tindakan Trump yang sekarang dinilai “tidak mengejutkan” meskipun sama memuakkannya, bunyi pernyataan tersebut.

Baca juga:“Trump Hancurkan Reputasi AS”, Pidato Pertama Harris

Harris lahir di Oakland, California, pada 20 Oktober 1964, dari ayah Jamaika dan ibu asal India. Dengan demikian, dia memenuhi syarat untuk menjadi presiden atau wakil presiden.

Para pakar konstitusi sudah membantah teori hukum yang menjadi dasar pernyataan Trump.

Untuk menjadi presiden atau wapres, Kamala Harris "haruslah warga negara asli AS, berusia paling tidak 35 tahun, dan warga negara yang tinggal di AS selama paling tidak 14 tahun", kata Juliet Sorensen, profesor hukum di Northwestern University.

"Dan dia memenuhi semua ketentuan itu. Ini saja sudah mengakhiri perdebatan," tegasnya.

Setiap orang yang lahir di AS dan menjadi subjek yurisdiksi di sana adalah warga negara asli atau natural born citizen, terlepas dari kewarganegaraan orang tuanya, menurut Cornell Legal Information Institute.

Apa persisnya kalimat Trump?
Opini yang ditulis sebelumnya oleh seorang profesor hukum mempertanyakan legalitas Harris sebagai cawapres karena orang tuanya berstatus imigran saat dia lahir.

Trump ditanya wartawan soal itu dalam sebuah jumpa pers.

Presiden menjawab: "Saya baru mendengar hari ini bahwa dia [Harris] tidak memenuhi persyaratan, dan ahli hukum yang menulis opini itu adalah pengacara yang sangat cakap dan cerdas.”

"Saya tidak tahu apakah hal itu benar. Saya hanya berasumsi bahwa Partai Demokrat seharusnya memeriksa masalah tersebut lebih dulu sebelum dia dipilih sebagai cawapres,” imbuh Trump.

"Tetapi itu hal yang sangat serius, mereka mengatakan bahwa dia tidak lolos kualifikasi karena dia tidak lahir di negara ini.”

Si wartawan lalu menjelaskan bahwa tidak perlu dipertanyakan lagi kalau Harris memang lahir di AS, tetapi orang tuanya mungkin bukan warga tetap AS saat itu.

Apa dasar pernyataan Trump?
Opini yang memicu debat tersebut terbit di majalah Newsweek, ditulis oleh John Eastman, profesor hukum di Chapman University, California.

Eastman mengutip Pasal II Konstitusi AS yang menyebutkan “tidak seorang pun kecuali warga negara asli … bisa memenuhi syarat untuk menduduki jabatan di kantor presiden".

Dia juga merujuk pada amendemen konstitusi ke-14 yang menyebutkan "semua orang yang lahir di Amerika Serikat dan menjadi subjek yurisdiksinya bisa disebut sebagai warga negara".

Argumen Eastman adalah bahwa Harris mungkin belum menjadi subjek yurisdiksi AS jika orang tuanya, misalnya, berada di AS dengan menggunakan visa pelajar saat putri mereka lahir di California.

"Ayahnya adalah warga negara Jamaika, ibunya berasal dari India, dan mereka bukan warga negara AS naturalisasi ketika Harris lahir pada 1964. Hal tersebut, menurut para pengamat, membuat dia bukan ‘warga negara asli; dan karena itu tidak memenuhi syarat menjabat di kantor kepresidenan dan dengan demikian juga tidak memenuhi syarat menjadi wakil presiden," tulis Eastman.

Belakangan diketahui bahwa Eastman adalah tokoh konservatif yang pernah menjadi kandidat Partai Republik untuk jabatan jaksa agung California pada 2010. Dia dikalahkan oleh Steve Cooley, dan Cooley kemudian dikalahkan oleh Harris.

Apa kata pakar hukum lain?
Erwin Chemerinsky, dekan Berkeley Law School, mengatakan pendapat Eastman itu “sangat bodoh".

"Di bawah bab 1 dari amandemen ke-14, semua orang yang lahir di Amerika Serikat adalah warga negara Amerika Serikat. Mahkamah Agung telah mempertahankan hal ini sejak 1890an. Dan Kamala Harris dilahirkan di Amerika Serikat," ujarnya.

Jessica Levinson, profesor di Loyola Law School, mengatakan: "Mari jujur saja: ini hanyalah ungkapan rasialis yang kita ulang-ulang setiap kali ada kandidat kulit berwarna yang orang tuanya bukan warga negara di sini."



Sumber:BBC


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Erdogan Ancam Putuskan Hubungan Diplomatik dengan UEA

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengancam akan putuskan hubungan diplomatik Turki dengan Uni Emirat Arab (UEA), Jumat (14/8).

DUNIA | 14 Agustus 2020

Pulihkan Ekonomi, Pemerintah Baru Lebanon Butuh Rp 440 T

Sejumlah kalangan memperkirakan, Lebanon butuh dana sebesar US$ 30 miliar atau sekitar Rp 440 triliun untuk membangun kembali ekonominya yang hancur.

DUNIA | 14 Agustus 2020

Indonesia Dorong Pembenahan PBB Agar Tetap Dipercaya Publik

Indonesia mendorong adanya pembenahan di dalam tubuh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) agar badan dunia itu bisa tetap mendapatkan kepercayaan publik.

DUNIA | 14 Agustus 2020

Di Tengah Pandemi, Pemilu Malaysia Akan Habiskan Rp 4,2 Triliun

Pemilu dini di tengah pandemi Covid-19 di Malaysia akan menghabiskan dana 1,2 miliar ringgit (Rp 4,2 triliun).

DUNIA | 14 Agustus 2020

Diam-diam Rusia Kembangkan Vaksin Covid-19 Enam Tahun Lalu

Rusia mengatakan dalam beberapa tahun terakhir mengembangkan vaksin untuk Ebola dan Sindrom Pernafasan Timur Tengah (MERS).

DUNIA | 14 Agustus 2020

Heboh Covid-19 Ditularkan Lewat Makanan, WHO: Tidak Ada Bukti

Tiga kota di Tiongkok melaporkan telah menemukan Covid-19 di permukaan makanan beku yang diimpor selama empat hari terakhir.

DUNIA | 14 Agustus 2020

Presiden Duterte Siap Disuntik Vaksin Rusia

Presiden Rodrigo Duterte bahkan menyanggupi untuk menjadi orang Filipina pertama yang disuntik vaksin Rusia. Dia juga berharap uji coba klinis bisa dilakukan pada Oktober mendatang.

DUNIA | 13 Agustus 2020

WFP Kirim Bantuan 50.000 Ton Terigu ke Beirut

Laporan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyatakan tepung akan dikirim "untuk menstabilkan pasokan nasional.

DUNIA | 13 Agustus 2020

Lima Miliar Dosis Vaksin Covid-19 Sudah Dipesan

Universitas Oxford, bekerja sama dengan grup farmasi Swedia-Inggris AstraZeneca, berharap mendapatkan hasil pada September 2020.

DUNIA | 13 Agustus 2020

WHO: Vaksin Rusia Tak Jelas

Persetujuan super cepat seperti itu bisa berarti bahwa potensi efek merugikan dari vaksin mungkin tidak terdeteksi.

DUNIA | 13 Agustus 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS