Para Kepala Negara ini Punya Pertaruhan Besar dalam Pilpres AS
INDEX

BISNIS-27 491.129 (11.99)   |   COMPOSITE 5612.42 (112.33)   |   DBX 1062.36 (4.11)   |   I-GRADE 161.886 (4.37)   |   IDX30 478.794 (12.21)   |   IDX80 126.714 (3.02)   |   IDXBUMN20 355.426 (9.57)   |   IDXG30 131.028 (2.32)   |   IDXHIDIV20 432.126 (9.85)   |   IDXQ30 139.823 (3.69)   |   IDXSMC-COM 243.691 (3.69)   |   IDXSMC-LIQ 294.252 (6.8)   |   IDXV30 122.487 (4.61)   |   INFOBANK15 946.8 (29.41)   |   Investor33 412.464 (10.19)   |   ISSI 165.112 (2.43)   |   JII 597.802 (9.53)   |   JII70 206.187 (3.44)   |   KOMPAS100 1134.88 (27.52)   |   LQ45 883.061 (21.77)   |   MBX 1552.46 (34.83)   |   MNC36 308.511 (7.09)   |   PEFINDO25 308.232 (9)   |   SMInfra18 281.756 (5.87)   |   SRI-KEHATI 352.482 (8.96)   |  

Para Kepala Negara ini Punya Pertaruhan Besar dalam Pilpres AS

Jumat, 23 Oktober 2020 | 03:07 WIB
Oleh : Heru Andriyanto / HA

Beritasatu.com - Dunia akan mengamati dengan cermat jalannya pemilihan presiden (pilpres) di Amerika Serikat, tetapi sejumlah negara tertentu akan mengamati dengan lebih cermat lagi.

Beberapa kepala negara punya pertaruhan pribadi pada hasil pilpres di Amerika, dan peruntungan mereka akan sangat ditentukan oleh keberhasilan -- atau kegagalan -- Presiden Donald Trump.

Mungkin tidak ada kepala negara lain yang begitu ingin Trump menang dibandingkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dulu kerap bentrok dengan Presiden Barack Obama, Netanyahu sekarang memuji Trump sebagai “kawan paling hebat” yang pernah dimiliki Israel di Gedung Putih.

Trump telah memberikan banyak hadiah diplomatik untuk Netanyahu: mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, menarik AS dari kesepakatan nuklir dengan Iran di era Obama, dan menawarkan rencana politik Timur Tengah yang jauh lebih menguntungkan Israel daripada Palestina. Gedung Putih juga menjembatani diwujudkannya hubungan diplomatik antara Israel dengan Uni Emirat Arab dan Bahrain.

Namun hubungan dekat Netanyahu dengan Trump -- dan lebih luas lagi dengan Partai Republik serta basis pendukungnya dari kelompok Kristen evangelical -- bukan tanpa risiko. Kedekatan mereka berdua menodai tradisi bipartisan dalam dukungan Israel kepada Washington, dan menyisihkan kubu Partai Demokrat serta komunitas Yahudi di Amerika yang umumnya berpandangan liberal.

“Bagi Netanyahu, kemenangan [Joe] Biden akan menjadi sebuah bencana,” kata Eytan Gilboa, pakar hubungan AS-Israel di Bar Ilan University. Dia mencatat bahwa Biden sudah menjanjikan pendekatan yang berbeda terhadap Iran dan Palestina.

Dipinggirkan dan dipermalukan oleh Trump, warga Palestina sudah tentu tidak merahasiakan lagi harapan mereka agar Biden bisa menang.

“Jika kita sampai empat tahun lagi hidup bersama Presiden Trump, Tuhan tolong kami,” kata Perdana Menteri Palestina Mohammad Shtayyeh pekan lalu.

Berikut ini sejumlah pemimpin negara lain yang punya pertaruhan besar pada pilpres AS:

Boris Johnson, Inggris
Perdana menteri kubu konservatif yang dikenal bergaya bombastik dan populis ini sering diperbandingkan dengan gaya Trump yang sama, dan mereka berdua memang bersahabat. Trump menyebut pemimpin Inggris itu sebagai “pria hebat”.

Antusiasme Trump terhadap keluarnya Inggris dari Uni Eropa atau Brexit membantu Johnson untuk berkoar tentang peluang meraih kesepakatan dagang dengan AS dalam tempo singkat, setelah Inggris sekarang keluar dari UE.

(AFP)

Kim Darroch, yang menjabat duta besar Inggris untuk AS sampai 2019, mengatakan bahwa Johnson kemungkinan akan menjadi teman terbaik Trump di Eropa kalau kembali terpilih presiden.

Namun, London dan Washington masih berbeda pandangan soal banyak isu internasional dan kemenangan Biden akan memulihkan hubungan trans-Atlantik menjadi relatif normal kembali.

Xi Jinping, Tiongkok
Bagi presiden Tiongkok ini, masa jabatan kedua Presiden Trump berarti berlanjutnya sengketa dagang yang sengit, pertikaian diplomasi, dan tuduhan hampir setiap hari kepada Tiongkok atas banyak masalah mulai dari hak asasi manusia, lingkungan, sampai konflik di Laut China Selatan.

Serangan bertubi-tubi dari Trump membuat Xi menggambarkan AS sebagai demokrasi yang sedang mengalami kemunduran dan tengah menghadapi ketegangan rasialisme dan upaya lembek merespon virus corona.

Di bawah Biden, AS mungkin akan lebih merapat ke sekutunya dan menjalin hubungan dengan berbagai organisasi internasional yang punya tuntutan terhadap Tiongkok. Namun, setidaknya Biden akan lebih bisa menghadirkan kepastian dan kenormalan yang lebih disukai para pemimpin Tiongkok dan mengurangi ruang terjadinya konfrontasi langsung.

Narendra Modi, India
Perdana menteri sayap kanan yang populis ini dan Trump dikenal memiliki gaya kepemimpinan yang sama, dengan mengandalkan sentimen nasionalisme.

Menurut para pengkritik, Trump abai saja ketika Modi mendesakkan agenda-agenda nasionalis Hindu yang mengorbankan kelompok minoritas India. Kemenangan Trump akan memungkinkan Modi untuk terus menerapkan kebijakannya bebas dari pantauan Washington.

Sebaliknya, calon wakil presiden pasangan Biden, Kamala Harris, yang lahir dari ibu India, sangat vokal dengan keputusan India untuk mencabut otonomi wilayah Kashmir yang dihuni mayoritas warga Muslim, pada berbagai pelanggaran terhadap prinsip kebebasan pers, dan pada undang-undang kewarganegaraan baru yang dinilai diskriminatif terhadap warga Muslim.

Penguasa Arab Saudi dan UEA
Raja Salman di Arab Saudi dan Putra Mahkota Abu Dhabi, Mohammed bin Zayed, penguasa de facto Uni Emirat Arab, bukanlah pengagum pemerintahan Barack Obama. Mereka menyambut baik keputusan Trump untuk menarik Amerika dari kesepakatan nuklur Iran dan penerapan sanksi yang membuat ekonomi Iran terjun bebas.

Trump juga berkarib dengan Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman di tengah kontroversi terkait pembunuhan wartawan Washington Post, Jamal Khashoggi, oleh para agen Saudi pada akhir 2018. Trump memveto resolusi Senat yang akan mengakhiri dukungan AS pada Saudi dan UEA dalam perang di Yaman, yang telah menimbulkan krisis kemanusiaan sangat parah.

(AFP)

Dua kerajaan di Timur Tengah itu khawatir bahwa kemenangan Biden akan mengembalikan lagi kebijakan ala Obama, yaitu kembali ke kesepakatan nuklir dengan Iran dan perhatian lebih cermat pada isu HAM.

Ayatollah Ali Khamenei, Iran
Imam Besar Iran tersebut telah mengalami jungkir balik kebijakan diplomasi antara era Obama dan Trump.

Rakyat Iran berkumpul di jalan untuk mensyukuri kesepakatan nuklir 2015, berharap itu bisa menormalkan hubungan dengan negara-negara Barat. Namun, keputusan sepihak Trump untuk mundur dari kesepakatan itu membuat Iran kembali mengaktifkan aktivitas nuklirnya. Tensi makin meningkat karena sejumlah insiden, dan memuncak dengan serangan rudal Iran ke pasukan AS di Irak setelah serangan drone Amerika menewaskan seorang jenderal Iran.

Biden pernah mengatakan dia bersedia berunding kembali dengan Iran jika negara itu mematuhi batasan yang ditetapkan dalam perjanjian sebelumnya. Jika Trump menang lagi, tensi akan kembali ke titik didih.

Rodrigo Duterte, Filipina
Sebagian orang menjuluki dia sebagai Trump versi Asia, karena gaya politiknya yang unorthodox dan bahasanya yang kasar. Duterte sendiri telah menjalin persahabatan dengan Trump dan bahkan menyerukan warga AS keturunan Filipina untuk memilih Trump.

(AFP)

Bertolak belakang dengan Obama, Trump tidak pernah berkomentar soal operasi anti-narkoba Filipina yang menewaskan banyak orang. Duterte pernah mengatakan dalam pidatonya bahwa Obama “pergi ke neraka saja”.

Kemenangan Biden kemungkinan akan menciptakan hubungan yang bermusuhan antara dua negara itu.

Nicolas Maduro, Venezuela
Presiden penuh masalah ini tidak bisa mengharap keuntungan dari siapa pun penghuni Gedung Putih nantinya.

Maduro, yang memimpin secara otoriter, membawa ekonomi negaranya ke kehancuran paling parah dalam sejarah, sehingga 5 juta warganya hengkang ke negara lain.

Trump telah menerapkan sanksi ekonomi keras kepada Venezuela dan mendukung pemimpin oposisi Juan Guaidó. Penegak hukum AS juga telah mendakwa Maduro sebagai “teroris narkoba” dan menawarkan hadiah US$ 15 juta untuk penangkapannya.

Biden menyebut Maduro seorang “diktator” dan bertekad meningkatkan tekanan.

“Jika Trump menang pemilihan, kami akan menghadapi dan mengalahkan dia,” kata Maduro belum lama ini. “Dan jika Biden menang, kami juga akan menghadapi dia dan pasti bisa mengatasi.”

Jair Bolsonaro, Brasil
Bolsonaro secara konsisten mencoba mengambil keuntungan dari Trump dan pekan ini menyatakan harapannya agar dia terpilih lagi.

Putranya yang anggota DPR, Eduardo Bolsonaro, berfoto mengenakan topi TRUMP 2020, dan bendera Amerika kerap mewarnai aksi massa pro-Bolsonaro.

Presiden Brasil itu memenangi pemilihan dengan janji memangkas aturan tentang lingkungan guna mendukung pembangunan, khususnya di wilayah Amazon. Trump memilih bungkam pada maraknya pembakaran hutan tropis di Amazon, berlawanan dengan sikap para pemimpin di Eropa.

Biden sudah mengisyaratkan akan lebih proaktif untuk mendesak Brasil melindungi lingkungannya.



Sumber:AP


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Pukulan Terakhir Trump dan Biden

Dalam debat hari ini di Belmont University, Nashville, Tennessee, panitia akan mematikan mikrofon kandidat yang tidak mendapat giliran bicara.

DUNIA | 23 Oktober 2020

Fakta Seputar Debat Final Presiden AS

Debat final presiden Amerika Serikat (AS) akan digelar Kamis (22/10/2020) di Universitas Belmont di Nashville, Tennessee.

DUNIA | 22 Oktober 2020

Menlu AS Mike Pompeo Akan Hadiri Forum Pemuda Ansor

Pompeo dijadwalkan akan melakukan sejumlah acara termasuk menghadiri forum Gerakan Pemuda Ansor mengenai dialog agama dan peradaban.

DUNIA | 22 Oktober 2020

Menkes Jerman Positif Covid-19

Namun, hingga saat ini tidak ada anggota kabinet Kanselir Angela Merkel lainnya yang akan diisolasi untuk menghindari penyebaran virus.

DUNIA | 22 Oktober 2020

Infeksi Covid-19 India Mencapai 7,7 Juta Kasus

Pandemi Covid-19 terus menyebar di India dengan total mencapai 7.708.947 kasus per Kamis (22/10/2020) sore.

DUNIA | 22 Oktober 2020

PM Thailand Cabut Status Keadaan Darurat di Bangkok

Jenderal Prayut mengatakan, situasi kekerasan telah berakhir dan pejabat pemerintah dapat menegakkan hukum yang relevan untuk menyelesaikan masalah.

DUNIA | 22 Oktober 2020

Rakyat Thailand Tak Lagi Takut Memprotes Raja

Salah satu alasan besarnya, rakyat Thailand tidak menyukai raja saat ini. Raja kali ini, beda dengan ayahnya, Bhumibol Adulyadej.

DUNIA | 22 Oktober 2020

Tunangan Khashoggi Gugat Putra Mahkota Saudi

Tunangan dari jurnalis yang menjadi korban pembunuhan, Jamal Khashoggi, menggugat putra mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS) di pengadilan federal AS

DUNIA | 22 Oktober 2020

Vaksin Covid-19 Sinovac Akan Masuk Program Imunisasi Brasil

Brasil berencana menggunakan vaksin virus corona atau Covid-19 buatan Tiongkok sebagai bagian dari program imunisasi nasional,.

DUNIA | 22 Oktober 2020

Survei: Pemilih AS Condong ke Joe Biden untuk Berbagai Isu

Calon presiden AS dari Partai Demokrat Joe Biden (77) mencatat keunggulan dalam hampir dalam semua isu dibandingkan Presiden Donald Trump

DUNIA | 22 Oktober 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS