Cara Dapatkan Imbal Hasil di Era Bunga Rendah
INDEX

BISNIS-27 511.575 (-1.4)   |   COMPOSITE 5759.92 (23.42)   |   DBX 1054.23 (9.81)   |   I-GRADE 169.662 (-0.8)   |   IDX30 501.412 (-1.48)   |   IDX80 131.739 (0.17)   |   IDXBUMN20 371.622 (2.16)   |   IDXG30 135.832 (0.63)   |   IDXHIDIV20 450.213 (0.05)   |   IDXQ30 146.619 (-0.52)   |   IDXSMC-COM 244.641 (3.77)   |   IDXSMC-LIQ 299.216 (4.65)   |   IDXV30 126.958 (1.03)   |   INFOBANK15 989.895 (-6.43)   |   Investor33 430.473 (-1.37)   |   ISSI 168.725 (1.07)   |   JII 619.114 (0.96)   |   JII70 212.184 (1.01)   |   KOMPAS100 1175.82 (1.47)   |   LQ45 920.779 (-0.67)   |   MBX 1601.16 (5.3)   |   MNC36 321.923 (-0.8)   |   PEFINDO25 313.689 (3.18)   |   SMInfra18 292.004 (3.49)   |   SRI-KEHATI 368.014 (-1.81)   |  

Cara Dapatkan Imbal Hasil di Era Bunga Rendah

Minggu, 8 September 2019 | 01:39 WIB
Oleh : Heru Andriyanto / HA

Beritasatu.com - Jika Anda memulai rencana menabung untuk pensiun, besar kemungkinan Anda akan disarankan untuk menghindari saham-saham berisiko dan lebih banyak menyimpan di obligasi. Itu saran yang sangat khas dari para manajer investasi, karena obligasi memberikan pendapatan yang pasti.

Namun, apakah strategi itu masih masuk akal sekarang ketika imbal hasil yang ditawarkan obligasi jangka panjang Amerika hanya 1,5% atau nyaris di titik terendahnya? Pula, obligasi yang diterbitkan Jepang, Jerman, dan Prancis malah sebetulnya memberi imbal hasil negatif?

Jawabannya mungkin tidak. Para pakar mengatakan sekarang ini mungkin saatnya untuk membeli saham lebih banyak.

"Anda tidak akan mendapatkan imbal hasil besar -- itu pun kalau ada -- atau pertumbuhan (pendapatan) dari obligasi. Jadi bahkan para investor yang konservatif pun mulai melirik saham-saham yang berkualitas," kata Kevin O'Grady, manajer portofolio di Miracle Mile Advisors.

Banyak perusahaan teknologi terkemuka sekarang ini mulai mampu membayar dividen. Itu merupakan tanda bagus karena perusahaan-perusahaan itu memberi dua hal terbaik yang dikehendaki investor: keandalan dan pertumbuhan.

"Perusahaan-perusahaan dengan model bisnis yang kuat dan marjin laba yang tinggi akan lebih tahan banting setiap terjadinya kelesuan," kata O'Grady.

4% dari Dividen
Pensiunan atau mereka yang menyongsong masa pensiun adalah kelompok yang paling khawatir atas kondisi pasar obligasi, kata Ephie Coumanakos di Concord Financial Group.

"Orang-orang gelisah pada saham, tetapi juga frustrasi dengan bunga rendah. jadi Anda harus ke mana untuk mencari pendapatan?" ujarnya.

Menurut Coumanakos, para investor seharusnya mampu mendapat imbal hasil 4% per tahun dari dividen saham asalkan mereka fokus pada perusahaan-perusahaan yang sehat secara finansial dan mampu menjaga pertumbuhan pembayaran dividen.

Namun tentu saja perusahaan-perusahaan yang mampu membayar dividen pun akan terpukul jika terjadi resesi ekonomi. Kurva imbal hasil yang terbalik sekarang ini merupakan pertanda buruk, meskipun resesi cenderung baru terjadi dalam 18-24 bulan setelah suku bunga jangka pendek melampaui imbal hasil obligasi jangka panjang.

Kalau kecemasan akan resesi dikesampingkan, masih ada kekhawatiran soal perang dagang AS-Tiongkok yang akan menggerus laba perusahaan-perusahaan blue chip seperti Apple, Coke, General Motors, dan Caterpillar.

Masih Ada REITs
Namun dana investasi real estat (DIRE) atau real estate investment trusts (REITs), yang menjanjikan pembayaran dividen besar, relatif masih terlihat atraktif, kata Rich Kleinman, direktur pelaksana riset dan strategi di LaSalle Investment Management.

"Ketika suku bunga lebih rendah, para investor yang haus imbal hasil bisa berpaling ke real estat," kata Kleinman.

"DIRE punya gabungan elemen-elemen obligasi dan saham sehingga lebih condong ke investor konservatif karena menjanjikan pendapatan yang lebih stabil."

Para investor perlu menambah perhatian pada DIRE karena perekonomian AS tengah melambat. Bukti terakhir, pada Agustus lalu hanya ada tambahan 130.000 lapangan kerja.

Kleinman mengatakan perusahaan-perusahaan yang memiliki usaha medis dan apartemen hunian layak didekati bahkan ketika ekonomi makin lesu. Dia lebih mencemaskan para pemilik usaha retail dan properti industri.

Jika perekonomian AS makin kehilangan daya dorong, imbal hasil obligasi akan makin turun, kata Jon Adams dari BMO Global Asset Management. Dia meyakini obligasi korporasi dan pemerintah daerah di AS juga makin menurun.

Itu merupakan alasan utama kenapa Adams yakin para investor harus lebih fokus pada dividen saham. Dia membeberkan imbal hasil dividen rata-rata di S&P 500 sekarang 1,9% lebih tinggi dari imbal hasil obligasi AS jangka 10 tahun, dan tidak jauh dari imbal hasil 2% obligasi 30 tahun.

Masih Ada Obligasi yang Atraktif
Setlah semua ulasan tadi, bukan berarti semua obligasi adalah "lubang hitam" bagi para investor yang berwawasan jangka panjang.

Adams mengatakan ada sejumlah pasar fixed income yang masih terlihat atraktif, khususnya di negara-negara kategori emerging market.

Memang betul ada kecemasan soal instabilitas politik di negara-negara tersebut, seperti di Argentina yang ekonominya melemah dan didera inflasi tinggi. Namun, menurut dia, imbal hasil tinggi dari obligasi emerging market ini mengalahkan kekhawatiran tersebut.

Misalnya, imbal hasil dari SPDR DoubleLine Emerging Markets Fixed Income ETF (EMTL) sebesar 4%, sementara imbal hasil dari iShares JP Morgan USD Emerging Markets Bond ETF (EMB) bahkan mencapai 5,4%.

"Politik selalu menjadi masalah penting di emerging market, tetapi justru itu Anda dibayar dengan imbal hasil yang tinggi. Dan berbagai masalah seperti yang terjadi di Argentina sifatnya masih relatif terbatas (isolated incidents)," kata Adams.

Coumanakos dari Concord Financial juga berpendapat bahwa para investor konservatif bisa meraup untung dari obligasi ketika suku bunga terus turun. Perlu diingat bahwa harga obligasi bergerak berlawanan arah dengan imbal hasil.

"Obligasi bisa produktif jika Anda memainkannya dari perspektif harga, bukan membelinya untuk mendapatkan imbal hasil," ulasnya.

Sekarang waktunya bagi para investor untuk mengevaluasi ulang portofilo mereka, di tengah kecemasan tentang ekonomi global. Namun, bukan berarti Anda harus panik.

"Memang ada kegelisahan. Namun sekarang bukan waktunya untuk menarik picu dan menjual semuanya," kata Coumanakos.

"Apakah ini akan meledak? Belum -- tetapi kami menjadi sangat waspada dan mencermati tanda-tanda munculnya masalah di depan. Itulah perlunya dikatakan agar tetap melakukan diversifikasi."



Sumber:CNN Business


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Kideco Raih 15 Penghargaan ISDA 2019

Apresiasi diberikan atas prestasi dan komitmen Kideco terhadap pengembangan masyarakat dan kepedulian terhadap lingkungan.

EKONOMI | 7 September 2019

Pemerintah Tambah Jaringan Gas di Ibu Kota Baru

Kuota pemasangan sambungan gas rumah di Kabupaten Penajam Paser Utara pada 2020, menjadi 5.000 sambungan gas rumah.

EKONOMI | 7 September 2019

Yustinus Ho: Bisnis Broker Properti Tetap Bagus

Sektor properti yang terus berkembang menjadi ladang subur bagi profesi broker properti.

EKONOMI | 7 September 2019

Century 21 Mediterania 7 Bidik Kawasan PIK

Century 21 Mediterania Group saat ini memiliki 4 kantor di kawasan Pantai Indah Kapuk.

EKONOMI | 7 September 2019

Sepanjang 2019, Obligasi dan Sukuk di BEI Rp 86,1 Triliun

Surat Berharga Negara (SBN) tercatat di BEI berjumlah 102 seri senilai Rp 2.625,62 triliun dan US$ 400 juta.

EKONOMI | 7 September 2019

Sepekan Transaksi, Kapitalisasi Bursa Menguap Rp 21 Triliun

Volume transaksi harian berkurang sebesar 11,85 persen menjadi 14,354 miliar saham.

EKONOMI | 7 September 2019

KKP Dedikasikan Hasil Riset Untuk Rakyat

ALTIS-2 merupakan suatu inovasi yang telah berkembang dengan baik dan diharapkan menjadi karya nyata untuk masyarakat.

EKONOMI | 7 September 2019

Maybank Marathon Dipastikan Beri Dampak Ekonomi yang Besar

Penyelenggaraan Maybank Marathon Bali dipastikan memberi efek domino terhadap perekonomian dan pariwisata Pulau Dewata.

EKONOMI | 7 September 2019

Karyawan Maybank Bersih-bersih Pantai Benoa

Maybank Indonesia melakukan aksi bersih-bersih Pantai Benoa, Bali, sebagai bagian dari CSR mereka pada Sabtu (7/9/2019).

EKONOMI | 7 September 2019

Menengok Progres Tol Serang-Panimbang

Tol Serang-Panimbang menjadi salah satu fokus utama Direktorat Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan.

EKONOMI | 13 September 2019


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS