"Pasung Jiwa" Tandai Peringatan 15 Tahun Reformasi

Pasung Jiwa ( Foto: Istimewa )
Totok Subagyo Senin, 13 Mei 2013 | 11:22 WIB

Jakarta - Bulan Mei ini, Bangsa Indonesia memperingati 15 tahun tumbangnya kekuasaan Orde Baru. Lima belas tahun sudah, kita membangun kembali harapan untuk terwujudnya kehidupan yang berdasarkan pada demokrasi, keadilan, dan menjunjung tinggi kebebasan serta nilai-nilai kemanusiaan.

Namun, pada kenyataanya, rezim Soeharto yang sudah tumbang, belum juga menghilangkan ketidakadilan, penindasan, dan kebebasan. Masih banyak hak-hak warga negara yang diberangus dan dibelenggu dengan mengatasnamakan agama atau tata aturan yang tidak sesuai dengan prinsip kemanusiaan. Ketimpangan dan ketidakadilan ekonomi terus terjadi seiring dengan merajalelanya korupsi. Demikian juga dengan kekerasan dan kesewenang-wenangan.

Peringatan 15 Tahun Reformasi menjadi momentum untuk kembali merefleksikan kondisi bangsa Indonesia saat ini.

Yayasan Muara, sebuah organisasi nirlaba yang bergerak dalam bidang pendidikan dan budaya untuk mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan dan kebebasan akan menyelenggarakan serangkaian kegiatan dalam rangka memperingati 15 tahun Reformasi dengan tema “Sastra dan Seni untuk Kebebasan.” Acara akan digelar di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, 15 Mei 2013, mulai pukul 10.00 hingga 22.00 WIB.

Dalam acara ini, akan dihadirkan karya sastra dan seni yang menyuarakan kebebasan dan perlawanan pada ketidakadilan.

“Acara ini ingin memberikan kesadaran pada masyarakat luas bahwa sastra dan karya seni sebagai produk budaya harus bisa menyuarakan pembebasan dan perlawanan pada ketidakadilan. Melalui karya sastra dan seni yang dihadirkan, diharapkan juga tumbuh kesadaran baru terhadap kondisi bangsa ini,” kata novelis peraih Khatulistiwa Award 2012 sekaligus pendiri Yayasan Muara, Okky Madasari.

Acara peringatan 15 Tahun Reformasi ini juga bertepatan dengan peluncuran novel terbaru Okky Madasari, yang berjudul Pasung Jiwa. Sama dengan tiga novelnya sebelumnya, Pasung Jiwa tetap akan mengusung isu-isu kemanusiaan dan menyuarakan ketidakadilan dalam masyarakat.

Pasung Jiwa mempertanyakan soal kebebasan individu dalam rentang periode sebelum reformasi dan sesudah reformasi. Dalam novel tersebut, dihadirkan fakta-fakta diskriminasi dan ketidakadilan yang dialami warga negara dengan beragam latar belakang,” kata Okky.

Karya Okky yang lain adalah Entrok (2010), bicara tentang dominasi militer masa Orde Baru, 86 (2011) tentang fenomena korupsi yang terjadi di Indonesia saat ini, dan Maryam (2012) tentang orang-orang Ahmadiyah yang bertahun-tahun harus hidup dalam pengungsian. Novel terbaru Okky, Pasung Jiwa, terbit Mei 2013.

Pasung Jiwa akan dipentaskan dalam bentuk pertunjukan teater pada tanggal 15 Mei jam 19.00 WIB di Teater Kecil TIM. Pentas teater ini sekaligus menjadi puncak acara dari rangkaian peringatan "15 Tahun Reformasi: Sastra dan Seni untuk Kebebasan".

Selain pentas teater Pasung Jiwa, juga akan digelar pameran lukisan bertema “Kebebasan” yang diikuti mahasiswa berbagai universitas dan pelukis cilik autis Ivan Ufuq Isfahan. Mahasiswa mendapat peran besar dalam rangkaian acara ini karena di tangan merekalah kendali bangsa ini kelak akan berada.

Sosok bocah berkebutuhan khusus, Ivan Ufuq, menjadi simbol dari orang-orang yang tak berdaya dan kerap dianggap tidak normal hanya karena berbeda dari orang kebanyakan.

Padahal, autis sama sekali tidak mengurangi potensi dan nilainya sebagai manusia. Ivan bisa menghasilkan karya luar biasa yang memberi pencerahan pada masyarakat luas. Pameran lukisan berlangsung mulai pukul 16.00 WIB. Sebelumnya diadakan pelatihan penulisan bertema “Terbitkan Kegelisahanmu” yang akan dimentori oleh Okky Madasari, Maggie Tiojakin, dan Editor Gramedia Pustaka Utama, Hetih Rusli.

Pelatihan ini akan memberikan dasar-dasar penulisan terutama bagi generasi muda. Dengan bekal tersebut, diharapkan akan semakin banyak orang yang menggunakan medium penulisan atau sastra untuk menyuarakan kegelisahannya terhadap kondisi yang terjadi di lingkungannya dan di Indonesia pada umumnya.

Pada pukul 18.00 WIB, diselenggarakan kuliah umum “Sastra dan Seni untuk Kebebasan” bersama Dr Dewi Candraningrum. Dewi adalah akademisi sekaligus anggota redaksi Jurnal Perempuan. Kuliah ini juga akan jadi ruang diskusi kritis yang diikuti berbagai komunitas dan elemen masyarakat.

Usai kuliah umum akan digelar pertunjukan teater Pasung Jiwa. Teater yang diangkat dari novel Okky Madasari ini dihadirkan di atas panggung oleh seniman-seniman teater yang sudah malang-melintang dalam bidang seni pertunjukan. Disutradari Herry W. Nugroho dan R. Tono yang ditempa Bengkel Teater Rendra, Pasung Jiwa sebagai karya sastra akan diterjemahkan menjadi pertunjukan yang memikat. Pemain teaternya antara lain Maryam Supraba, bintang film Kisah 3 Titik, sekaligus putri bungsu WS Rendra.

Sumber: PR