Membaca Keaslian Asia Melalui Jogja-NETPAC Asian Film Festival

Membaca Keaslian Asia Melalui Jogja-NETPAC Asian Film Festival
Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2013 ( Foto: JAFF / JAFF )
Kharina Triananda Jumat, 15 November 2013 | 18:59 WIB

Jakarta - Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) kembali digelar untuk ke-8 kalinya. Dari debutnya di 2006, JAFF selalu berkomitmen untuk mengangkat isu sosial sebagai tema besar mereka.

Film-film yang akan ditampilkan di JAFF terdiri dari 37 film berdurasi panjang dan 43 film berdurasi pendek. Dimana diantaranya terdapat 25 film yang dikompetisikan.

JAFF diikuti oleh beberapa negara dari Asia yang diantaranya, Indonesia, Malaysia, Korea Selatan, Thailand, RRT, Jepang, Iran, Afghanistan dan masih banyak lagi.

Bila di tahun pertama JAFF mengambilm tema Cinema in The Midst of Crisis (karena diselenggarakan setelah gempa Jogja), kali ini mereka mengambil tema Altering Asia (Membarui Asia).

Altering Asia merupakan ajakan kepada sineas Asia untuk membaca kembali keaslian Asia di tengah berbagai perubahan dan berbagai pandangan tentang Asia itu sendiri.

"Altering Asia adalah mencari makna baru dari Asia. Karena saat ini banyak film-film asia yang dapat penghargaan di festival-festival film internasional yang besar. Dengan begitu, berarti film Asia bisa diterima. Namun, menyangkut hal itu kita memiliki dua pandangan, apakah film-film tersebut memang merupakan suara hati orang Asia atau film-film tersebut diarahkan oleh orang barat," ujar sutradara Ifa Isfansyah yang menjabat sebagai Managing Director JAFF pada jumpa pers di Jakarta, Jumat (15/11).

Menurutnya, saat ini gambaran yang dilihat tentang Asia terkadang sangat menyederhanakan. Oleh karena itu, melalui JAFF tahun ini bisa membuka mata masyarakat Asia sendiri agar memahami Asia dengan segala kompleksitas dan keragamannya.

Selain itu, JAFF yang biasanya diadakan tanpa memungut biaya, tahun ini mereka akan melakukan sistem donasi untuk mengukur apresiasi dari pengunjung.

"Sejauh ini antusiasme penonton semakin baik. Mereka jumlahnya dua kali lipat dari bangku yang kita sediakan. Bila ditotalkan tahun lalu sekitar 10 ribu penonton yang hadir. Namun, kita ingin tahu apakah mereka semua datang karena gratis atau memang benar-benar mengapresiasi. Bahaya kalau sampai membentuk budaya nonton film itu harus gratis," terang Ifa.

Ifa mengaku sistem donasinya masih disusun, tetapi yang pasti dia tidak ingin memberlakukan sistem ticketing.

JAFF akan dilaksanakan pada 29 November sampai 7 Desember di Empire XXI, seputaran Taman Budaya Jogjakarta, Lembaga Indonesia Prancis dan beberapa kampung di Jogjakarta.