Kisah Pilu Anak-anak Timor Leste Dibukukan

Kisah Pilu Anak-anak Timor Leste Dibukukan
Helene van Klinken saat menandatangani bukunya di acara Peluncuran buku Anak-anak Tim-Tim di Indonesia: Sebuah Cermin Masa Kelam di Jakarta, Senin (20/1) ( Foto: BeritaSatu.com/Kharina Triananda / Kharina Triananda )
Kharina Triananda / MUT Senin, 20 Januari 2014 | 20:31 WIB

Jakarta - Konflik Timor Timur (saat ini bernama Timor Leste) pada 1975 ternyata meninggalkan kisah yang tidak banyak diketahui orang. Kisah tersebut terkait dengan ribuan anak-anak Timor Leste yang pada saat konflik dipindahkan oleh Kopasus Indonesia dari tanah kelahirannya dan menetap di kota-kota lain di Indonesia.

Banyak dari mereka yang saat ini tinggal dan bekerja di Indonesia dan memiliki keluarga sendiri di sana. "Orang-orang yang mengambil mereka banyak yang melakukannya karena niat baik, tetapi sikap paternalistis mereka, termasuk mengambil banyak anak-anak berlawanan dengan keinginan orang tua dan dan keluarga mereka, yang berarti sangat sedikitnya pengertian mengenai penderitaan pribadi dan kesakitan yang ditimbulkan oleh perpisahan tersebut."

Kata-kata di atas adalah sepenggal Prakata dari Kirsty Sword Gusmao (istri Xanana Gusmao) dalam buku karangan Helene van Klinken yang berjudul Anak-anak Tim-Tim di Indonesia: Sebuah Cermin Masa Kelam.

Helene mengaku semua penelitian yang dia lakukan mengenai isu anak-anak Timor Leste pada saat konflik ini awalnya hanya untuk Tesisnya demi mendapat gelar Ph.D. Namun, Helene merasa kisah ini harus dibaca banyak orang, jangan hanya orang-orang akademisi.

"Kalau hanya menulis tesis, tidak akan banyak yang membaca. Buat saya harus ada buku dan harus ada yang dalam bahasa Indonesia karena ini adalah sejarah Indonesia," ujar Helene pada peluncuran buku Anak-anak Tim-Tim di Indonesia: Sebuah Cermin Masa Kelam di Jakarta, Senin (20/1).

Helene mengaku sangat tertarik dengan tema ini, bahkan jauh sebelum dia menyusun tesisnya untuk jurusan Sejarah di Universitas Queensland, Australia. Hal itu disebabkan, sejarah atau masa lalu sangat penting bagi Helene. Sebuah masyarakat tidak akan pernah maju kalau mengabaikan apa yg terjadi di masa lalu dan belajar dari situ.

"Kesalahan akan terus berulang kalau kita tidak melihat dan belajar dari masa lalu. Sedangkan isu ini sangat penting karena menyangkut masa depan sekelompok masyarakat," ungkapnya.

Hal lain yang membuatnya tertarik adalah karena dulu Helene pernah meneliti kasus anak-anak aborigin yang dipisahkan dari keluarganya juga. Menurutnya banyak kemiripan antara kasus anak-anak aborigin tersebut dengan yang terjadi di Timor Leste.

Proses pembuatan tesis ini cukup memakan waktu lama. Helene mengaku membutuhkan waktu hampir 10 tahun dalam penyusunannya.

"Saya mulai di Februari 2004. Kesulitan yang saya temui pada saat mengumpulkan data. Saat saya datang ke beberapa yayasan, mereka mengaku sudah tidak memiliki data tahun 70an. Akhirnya saya mengandalkan narasumber-narasumber saya yang terdiri dari orang-orang tua disana dan mereka yang dulu pernah jadi salah satu korban yang dipisahkan dari keluarganya. Namun, banyak dari mereka yang tidak mengingat detail-detailnya," kata Helene.

Helene kemudian melanjutkan, dia tidak mengharapkan respons pemerintah Indonesia dari hasil tesis dan bukunya ini. Menurutnya, ini benar-benar ia lakukan untuk memberi fakta ke masyarakat mengenai apa yang terjadi di masa lalu.

"Bukan tugas saya untuk memberi saran apa yang harus dilakukan pemerintah Indonesia. Kebetulan saya hanya orang asing yang memiliki kesempatan untuk memberi fakta atau data yang mungkin bisa menjadi inspirasi atau bahan pemikiran," tandasnya.

CLOSE