Sejarah Kontroversi Penyelenggaraan FFI

Sejarah Kontroversi Penyelenggaraan FFI
FFI 2011 ( Foto: FFI 2011 )
Sabtu, 10 Desember 2011 | 21:28 WIB
Kisruh penyelenggaraan FFI, sebenarnya sudah terjadi sejak pertama kali digelar tahun 1955 silam.

Festival Film Indonesia yang diprakarsai oleh Persatuan Produser Film Indonesia (PPFI), menuai kontroversi saat Dewan Juri FFI memenangkan film 'Tarmania' Karya sutradara Lilik Sudjio. Padahal saat itu, banyak kritikus film merasa film 'Lewat Jam Malam' karya Usmar Ismail akan mendapatkan Piala Citra.

Keputusan kontroversial tersebut terulang di tahun 1960, saat film 'Pejoang' karya Usmar Ismail, dikandaskan film 'Turang' karya sutradara Bachtiar Siagian. Lantaran kecewa dengan keputusan tersebut, Usmar Ismail tak lagi berniat menyertakan karyanya dalam FFI selanjutnya.

Tahun 1967, sineas tanah air pun dikejutkan dengan keputusan kontroversial panitia FFI, lantaran dinyatakan tidak ada pemenang dalam katagori film terbaik. Di tahun tersebut, Misbach Yusa Biran dinobatkan sebagai sutradara terbaik, dengan film yang berjudul 'Di bawah Cahaya Gemerlapan.'

Kejadian di tahun 1967 terulang kembali. Panitia tidak memilih satupun dari karya film yang disertakan untuk memenangkan katagori film terbaik. Tentu saja keputusan tersebut melukai hati insan perfilman tanah air saat itu.

Di tahun 1980, kontroversi pun berlanjut, lantaran film karya sutradara Arifin C Noer yang berjudul 'Yuyun, Pasien Rumah Sakit Jiwa' dimasukkan dalam katagori film cerita panjang. Sejumlah wartawan film memprotes keputusan tersebut karena diketahui, film tersebut diproduksi dengan izin film dokumenter.

Tahun 1984, para sineas tanah air pun dikecewakan dengan kesalahan yang dilakukan panitia penyelenggara, yang memberikan kertas kosong pada pembacaan katagori film terbaik kepada Harmoko, Menteri Penerangan saat itu. Padahal sebenarnya, dewan juri telah memberikan keputusan dengan beberapa judul film sebagai nominasi film terbaik.

Kasus korupsi juga sempat mengguncang penyelenggaraan perfilman tanah air di tahun 1976, 1983 dan 2007. Meski demikian, kasus tersebut tidak pernah terbukti secara hukum.

Tidak kalah menghebohkan, penyelenggaraan FFI tahun 2006 pun diwarnai protes sejumlah sineas, lantaran dewan juri memenangkan film 'Ekskul' yang dinilai telah melanggar aturan hak cipta, dengan menggunakan ilustrasi musik dari film Hollywood dan mengandung unsur plagiat.

Bentuk protes dan kekecewaan sejumlah sineas tanah air, ditunjukkan dengan pengembalian piala citra kepada panitia, dan mengancam tidak akan mengikutsertakan film karya mereka dalam FFI selanjutnya.

tahun 2007, melalui BP2N yang dikepalai Deddy Mizwar, akhirnya film 'Ekskul' dicabut sebagai sebagai peraih piala citra

Di tahun 2008, dewan juri FFI kembali membuat keputusan kontroversial. Sejumlah kritikus film menyayangkan tidak masuknya sejumlah film seperti 'Ayat-Ayat Cinta', 'The Tarix Jabrix', 'Mengaku Rasul', 'Kunfayakunn' dan 'Doa yang Mengancam' dalam katagori film terbaik. DI tahun itu pula, film 'Laskar Pelangi' yang fenomenal tidak ikut mendaftar. Menurut Dedi Mizwar saat itu, film dalam katagori Box Office belum tentu berkualitas.

Carut marut penyelenggaraan FFI, akhirnya membuat pemerintah membentuk Komite Festival Film Indonesia, untuk menyelenggarakan FFI tahun 2009, yang diketuai Ninik L Karim.

Tahun 2010, dewan juri tidak memasukkan film 'Darah Garuda' dan Sang Pencerah sebagai nominasi. Hal tersebut tentu saja menuai kontroversi, lantaran film tersebut selain menjadi film yang laris, juga memiliki kualitas. Ninik L Karim beralasan, film 'Darah Garuda' tidak lolos dalam kualifikasi lantaran dibesut oleh sutradara asing, sementara peraturan di FFI, film yang berhak masuk nominasi adalah film yang disutradari oleh sutradara berkewarganegaraan Indonesia. Sementara film Sang Pencerah, tidak masuk nominasi lantaran tidak banyak mengungkapkan fakta sejarah.

Lantas bagaimana dengan pelaksanaan FFI tahun 2011 ini? Adakah kontroversi akan berulang?