EPISODE III:Enjoy the Poverty, Ketika Kemiskinan Menjadi Komoditas
INDEX

BISNIS-27 540.837 (-8.19)   |   COMPOSITE 6428.31 (-54.9)   |   DBX 1183.86 (16.52)   |   I-GRADE 188.148 (-2.58)   |   IDX30 539.476 (-8.89)   |   IDX80 144.979 (-1.68)   |   IDXBUMN20 440.639 (-3.89)   |   IDXESGL 147.926 (-1.09)   |   IDXG30 146.726 (-1.41)   |   IDXHIDIV20 473.385 (-7.91)   |   IDXQ30 152.644 (-1.92)   |   IDXSMC-COM 299.578 (-0.96)   |   IDXSMC-LIQ 376.282 (-1.41)   |   IDXV30 152.705 (-1.81)   |   INFOBANK15 1086.82 (-23.03)   |   Investor33 459.04 (-6.31)   |   ISSI 190.39 (-0.94)   |   JII 671.594 (-3.85)   |   JII70 236.079 (-1.46)   |   KOMPAS100 1294.89 (-15.54)   |   LQ45 1002.38 (-13.63)   |   MBX 1785.38 (-21.17)   |   MNC36 340.467 (-4.76)   |   PEFINDO25 342.936 (-2.7)   |   SMInfra18 325.457 (-0.02)   |   SRI-KEHATI 391.973 (-5.4)   |  

Seri Menikmati Jakarta Biennale 2015 (2)

EPISODE III:Enjoy the Poverty, Ketika Kemiskinan Menjadi Komoditas

Senin, 7 Desember 2015 | 00:00 WIB
Oleh : Fajar Widhiyanto / FW

Bilik pemutaran dokumenter miliknya agak tersembunyi di ujung kanan hall Gudang Sarinah yang menjadi areal pameran seni Jakarta Biennale 2015. Jika tak terlalu tertarik dengan pemutaran dokumenter yang sedikit bertele-tele dan dianggap sebagai karya seni dua dimensi semata, bisa jadi bilik pemutaran dokumenter bertajuk 'Episode III: Enjoy the Poverty' hasil karya Renzo Martens ini akan dilewatkan para pengunjung.

Bisa dimaklumi, karena begitu memasuki hall pameran, mata pengunjung telah dimanjakan oleh berbagai karya seni instalasi dengan beribu pesan serta kemasan. Maka apalah deret bangku berbentuk tangga tersedia hanya untuk menyaksikan sebuah dokumenter, dua dimensi. Apalagi waktu tayangnya juga cukup menyita waktu, 90 menit!

Berlokasi di Kongo, negara di Afrika Tengah, Martens merekam segala peristiwa dan persoalan-persoalan yang membelit masyarakat. Soal perang akibat gesekan politik tingkat penguasa, kemiskinan, kelaparan, hingga eksploitasi masyarakat sipil serta sumber daya oleh entitas kapital global seperti hanya urutan cerita klise yang dicoba disampaikan oleh Martens. Itulah yang akan ditangkap dari dokumenter ini selama 10-20 menit pertama.

Begitu memasuki menit ke 20 menit berikutnya, Martens mulai mengusik banyak hal yang oleh publik dinilai sebagai hal biasa. Kehalusan rasa akan banyak digugah oleh pertanyaan-pertanyaan Martens yang kerap memunculkan wajahnya di layar, untuk menunjukkan ekspresi tanya dan kegaduhan yang muncul dalam pikiran dan jiwanya.

Sebuah pertanyaan simpel ia ajukan pada seorang pewarta foto dari AFP yang mengklaim bahwa foto-foto yang ia ambil adalah hasil kreasi dan hak milik intelektual. “Berapa uang yang mereka (objek foto, red) terima dari Anda? Bukankah mereka yang membuat Anda mampu menghasilkan gambar dramatis dan memberikan Anda uang?” tanyanya ketika masuk ke bilik sang fotografer.

Di menit berikutnya ia menjawab permintaan sejumlah pemuda setempat yang ingin menjadi pewarta foto dan memiliki kartu pengenal dari PBB sehingga mampu masuk ke sejumlah akses-akses penting tanpa takut dengan risiko perang. Ironisnya, ia mengajarkan para fotografer pemula tersebut untuk mengambil tema-tema kemiskinan dan kelaparan, yang bagi mereka bukan lagi hal baru. Dalam satu kesempatan ia meminta para fotografer pemula tersebut mengambil gambar tonjolan-tonjolan tulang iga yang jelas muncul dari bayi-bayi pengidap kekurangan gizi di sebuah unit pengobatan. “Kemiskinan adalah sumber daya yang Anda miliki,” itu yang disampaikan kepada para fotografer pemula. Satir yang sangat pahit.


Berikutnya para penonton akan disuguhi pahitnya hidup di daerah konflik dengan kemiskinan yang membelit. Kematian yang bisa menghampiri kapan saja, entah karena kemiskinan itu sendiri, atau perang. Maka Martens memulai kampanyenya dengan membawa neon sign bertuliskan “Enjoy the Poverty”, dan dipasangnya secara marathon di sejumlah kantung-kantung kemiskinan, membawanya dengan rakit melewati sungai untuk menembus kantung-kantung kemiskinan lainnya. Satir pahit yang harus ditelan oleh masyarakat, dan hanya jadi 'kudapan' ringan bagi publik di luar Kongo.


Martens tinggal secara berkala di Belanda, Brussel dan kadang di Kinshasha, ibukota Kongo. Episode III pertama kali diputar di Stedelijk Museum Bureau Amsterdam. Berikutnya karya Martens ini banyak diputar di sejumlah festival seni seperti Amsterdam International Documentary Festival's 2008, di Centre Pompidou, ZKM Karlsruhe, Kunsthalle Goteborg, Tate Modern, Arnolfini Bristol, The BOX LA, dan biennale seni seperti Moscow Biennal, Berlin Biennal dan Manifesta.


Karya Martens seperti mengingatkan pada dokumenter yang dibuat John Pilger, seorang jurnalis yang membuka cerita tentang sisi lain dari manufaktur tekstil dunia yang produksinya berbasis di Indonesia, berjudul 'The New Rulers of The World'. Ia mampu menunjukkan betapa produsen pakaian brand ternama begitu berjarak dengan para pekerjanya, baik skala pendapatan maupun citra yang mewakili brand tersebut. Citra glamournya tak melekat sama sekali dengan citra kehidupan para buruh pabrik yang berbasis di Tangerang.

Sumber: Majalah Investor


BAGIKAN




BERITA LAINNYA

Si Captain Amerika Chris Evans Akan Hadir di Comic Con 2016

Tahun depan, Indonesia Comic Con 2016 dipastikan akan lebih meriah. Mau tahu kenapa? Reed Panorama akan mendatangkan pemeran Captain Amerika, lho, Chris Evans.

HIBURAN | 7 Desember 2015

Februari 2016. MLTR Akan Tur 3 Kota di RI

MLTR akan menyambangi Jakarta, Surabaya dan Solo pada 11-15 Februari 2016

HIBURAN | 7 Desember 2015

Seri Menikmati Jakarta Biennale 2015 (1)

Jakarta Biennale 2015 tak melulu dipandang sebagai pameran karya seni dan instalasi, namun juga sebuah destinasi rekreasi.

HIBURAN | 7 Desember 2015

MNC Play Dukung Acara Natal Terbesar Herrysons Santa Village

Herrysons Event Organizer didukung oleh MNC Play menyelenggarakan Herrysons Santa Village yang merupakan acara natal pertama dan terbesar di Indonesia

HIBURAN | 7 Desember 2015

Pameran Interaktif "Star Wars" Hadir di Jakarta

Pengunjung maupun para penggemar film Star Wars akan dimanjakan dengan segala hal yang berhubungan dengan Star Wars.

HIBURAN | 7 Desember 2015

Leonardo DiCaprio Ingin Berkunjung ke Hutan Sumatera

Leonardo DiCaprio berada di Paris untuk menghadiri KTT Perubahan Iklim yang digelar 30 November hingga 11 Desember 2015 di Le Bourget, Paris, Prancis.

HIBURAN | 7 Desember 2015

Tidak Ada Jar Jar Binks di Film Baru "Star Wars"

Penonton dari film baru juga tidak akan melihat Ewoks, makhluk berbulu dari "Return of the Jedi (1983)".

HIBURAN | 7 Desember 2015

Kisah Cinta dari Praha yang Menggetarkan Hati

Tayang perdana dan eksklusif pada hari Minggu, 13 Desember 2015, jam 20.00 WIB di Celestial Movies.

HIBURAN | 7 Desember 2015

Yamaha Musik Indonesia Donasikan 420 Keyboard

Yamaha Musik Indonesia Distributor (YMID) menyerahkan donasi 420 unit portable keyboard bagi 50 Sekolah Dasar Negeri (SDN) di wilayah Jakarta Selatan.

HIBURAN | 7 Desember 2015

Naif Membuat Konser Konsep Baru

Dalam era digital yang semakin canggih ini, sangat sulit untuk mencari benda-benda klasik yang berkaitan dengan musik, salah satunya adalah piring hitam.

HIBURAN | 7 Desember 2015


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS