Lukisan Mampu Ubah Emosi Orang

Lukisan Mampu Ubah Emosi Orang
Ilustrasi pameran lukisan ( Foto: Antara )
Selasa, 13 Maret 2012 | 10:35 WIB
“Melalui lukisan orang bisa menjadi lebih emosional dan sensitif.

Sebagai dukungan terhadap perkembangan seni di Indonesia, Pusat Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Rusia di Jakarta mengadakan sebuah pameran seni lukis yang memamerkan karya-karya tiga pelukis senior Syahnagra Ismail, Guo Peng dan Sri Warso Wahono.

Sebagai pelukis, nama Syahnagra sudah tidak asing di telinga para pencinta lukis tanah air terutama di Jakarta. Lahir di Teluk Betung para tahun 1953, Syahnagra dikenal sebagai pelukis yang konsisten di jalur impresionis. Ia menjelaskan bahwa lukisan-lukisannya adalah refleksi dari pengalaman hidupnya yang panjang dan hasil observasi dari hal-hal di sekelilingnya.

Alam adalah sumber inspirasi utama Syahnagra. Walau banyak orang menganggap topik alam sudah ketinggalan jaman, menurutnya alam selalu indah.

Syahnagra berujar kalau setiap lukisan harus memiliki karakter yang kuat. Walau lukisan tidak bisa mengubah hal-hal yang bersifat fisik, ujarnya, tapi lukisan mampu mengubah hal-hal yang tidak terlihat dalam hidup kita.

“Melalui lukisan orang bisa menjadi lebih emosional dan sensitif,” ujar Syahnagra.

Syahnagra aktif terlibat di beberapa organisasi seni di tanah air. Ia adalah mantan ketua Himpunan Pelukis Jakarta.

Sementara Guo Peng adalah pelukis muda dari Cina yang sudah tujuh tahun hidup di Indonesia. Ia belajar seni melukis di Nanjing Normal University, dimana ia fokus pada kaligrafi Cina. Di Jakarta Guo Peng menghabiskan waktu sehari-sehari dengan mengajar seni lukis di beberapa tempat.

Lahir pada tahun 1980, Guo Peng adalah pelukis muda yang memiliki masa depan yang cerah. Karya-karyanya sering mendapat pujian dari berbagai kritikus dan penggemar seni tanah air.

Sama seperti Syahnagra, Guo Peng juga gemar mengeksplorasi keindahan alam di atas kanvas.

Selama bertahun-tahun Sri Warso Wahono menjadi salah satu pelukis yang dihormati di Indonesia. Karya-karya seniman yang sudah melukis sejak tahun 1962 ini sudah dipamerkan di berbagai negara, seperti Belgia, Amerika Serikat, Mesir, Polandia dan lainnya. Sejak tahun 1972 ia sudah menggelar 15 kali pameran tunggal. Disebutkan bahwa lukisan-lukisannya seringkali dianggap oleh para kritikus sebagai karya pada artistik serta mengandung kedalaman estetik bahkan misteri hingga nilai filosofi.

Sri lahir di Solo pada tahun 1948 dan dibesarkan di lingkungan keraton. Ia menempuh pendidikan di IKIP Negeri Surakarta.

Yury Zozulya, selaku direktur Pusat Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Rusia, mengatakan bahwa lukisan menggambarkan obyek dengan melibatkan ekspresi, emosi serta gagasan sang pencipta secara penuh.

Ia menambahkan bahwa pameran ini akan menambah kekayaan wawasan seni di Jakarta. “Khususnya dalam berpetualang dalam mencari imajinasi serta mempelajari sejarah, budaya maupun keindahan dari karya lukis itu sendiri," Yury.

Pameran lukisan itu berlangsung dari tanggal 13 - 23 Maret di Russian Center for Science and Culture, Jalan Diponegoro No 12, Jakarta Pusat. Masyarakat secara gratis dapat masuk ke area pameran yang dibuka mulai pukul 10.00 - 19.00 WIB.