Kisah Persahabatan dan Jelajah Kuliner di Film Aruna dan Lidahnya

Kisah Persahabatan dan Jelajah Kuliner di Film Aruna dan Lidahnya
Foto bersama sutradara, produser, dan pemain film Aruna dan Lidahnya, di kawasan Jakarta Selatan. ( Foto: Beritasatu Photo/Dina Fitri Anisa )
Dina Fitri Anisa / FER Sabtu, 2 Juni 2018 | 15:06 WIB

Jakarta - Setelah sukses merilis film perdana berjudul Posesif, Palari Films kembali meluncurkan film terbaru yang direncanakan akan tayang September 2018, Aruna dan Lidahnya. Film garapan sutradara Edwin ini, menjanjikan kisah perjalanan kuliner empat orang sahabat, yang dibalut dengan intrik dan konspirasi.

Film yang diadaptasi dari novel karangan Laksmi Pamuntjak ini, mengisahkan perjalanan seorang wanita bernama Aruna yang berusia 30 tahun. Meski sudah umurnya sudah matang, dirinya tetap bahagia sebagai seorang single dengan passion utamanya menjadi ahli wabah.

Wanita yang berpikir dan terobsesi tentang makanan setiap harinya ini, suatu kali ditugaskan untuk menginvestigasi kasus flu burung yang merebak di beberapa tempat di Indonesia. Dirinya membawa dan bertemu dengan tiga orang temannya yaitu, Bono seorang koki profesional, Nad sang kritikus kuliner, dan kawan lamanya Farish. Seiring dengan kisah penyelidikan, terungkap pula banyak hal lainnya yang menambah bumbu dinamika cerita dalam film.

Produser Aruna dan Lidahnya, Muhammad Zaidy, mengatakan, film ini menawarkan drama dengan kekuatan rasa yang beragam. Selain menawarkan kekayaan kuliner seperti yang tercantum dalam novel, film ini juga menangkap hubungan persahabatan dan problematikanya.

"Film ini akan menampilkan perjalanan kuliner Nusantara yang sangat menarik. Tidak hanya itu, film ini juga akan menghadirkan karakter-karakter utama yang berusia 30 tahunan, rentang umur yang jarang ditampilkan kisahnya di perfilman Indonesia. Film ini juga dipenuhi dengan obrolan-obrolan seputar kehidupan, profesi para karakternya, dan juga urusan percintaan, yang banyak dibicarakan di atas meja makan," kata Zaidy.

Film ini juga akan menandai fase baru dalam kreativitas Edwin di mana film ini akan banyak menampilkan dialog di antara para karakternya. Senada dengan yang dibicarakan oleh produser, menurutnya film ini bukan hanya tentang makanan, tapi juga tentang manusia.

"Fokus utamanya adalah hubungan para karakternya juga bagaimana mereka menemukan diri sendiri. Saya memang ingin mencoba menampilkan manusia-manusia yang berbicara dengan sesamanya, mengekspresikan perasaannya lewat bahasa dan kata-kata. Film Aruna dan Lidahnya memang berbeda dengan film-film saya lainnya," jelas Edwin.

Empat aktor dan aktris dipertemukan untuk menerjemahkan karya tulisnya ke dalam bentuk ekspresi yang nyata. Dian Sastrowardoyo dipilih sebagai Aruna, Oka Antara menjadi Farish Hannah Al Rashid memerankan Nad, dan Nicholas Saputra yang kebagian peran Bono. Semuanya punya karakter yang berbeda dan menimbulkan kekayaan tersendiri dalam hubungan antar tokohnya.

"Memang secara fisik, karakter tersebut tidak terlalu mirip. Namun itu tidak menjadi alasan. Secara kepribadian dan rasa, empat aktor tersebut sangat cocok berperan di film ini. Karena, mereka juga mampu merepresentasikan rasa (makanan) dengan nikmat melalui gambar. Jadi ekpresi mereka sangat sesuai dengan apa yang saya harapkan," terangnya.

Menurut Dian Sastro, dirinya sudah lama mendambakan film seperti ini. "Belakangan film saya serius terus, pengen main yang mendekati drama komedi modern. Saya juga sudah lama ingin bekerja sama dengan Edwin. Ingin tahu bagaimana caranya bekerja," kata Dian.

Biaya Produksi Tinggi

Mengenai biaya produksi, film Aruna dan Lidahnya ternyata membutuhkan nilai yang lebih besar dari film pertama Parali Film. Produser Meiske Taurisia, mengatakan, Aruna bersama teman-temannya berkeliling ke sepuluh kota di Indonesia untuk melakukan investigasi sekaligus mencicipi masakan khas di daerah tersebut.

"Kalau di hitung, tidak murah untuk membuat film road trip di negara kita dengan segala kondisinya. Hal yang pasti, mulai dari kebutuhan peralatan yang lebih, dan juga ongkos transportasi yang tinggi," tuturnya.

Dengan berbagai macam pertimbangan tersebut, film ini pun akhirnya hanya mengambil lokasi syuting di empat kota, Surabaya, Pamekasan (Madura), Pontianak, dan Singkawang. Dipangkasnya pemilihan kota, tak berarti film ini menurunkan bobot cerita yang akan disajikan.

"Kami sudah pikirkan dengan matang, empat kota tersebut cukup mewakili cerita. Bahkan, dari segi makanan dan suasananya pun lebih bisa menonjolkan hal-hal yang unik," pungkasnya.

 



Sumber: Suara Pembaruan